- Presiden FIFA Gianni Infantino menawarkan paket investasi bernilai miliaran euro kepada seluruh federasi anggota sebelum 19 September.
- Proposal penjualan saham perusahaan komersial baru ini didukung oleh Thrive Capital untuk mengelola hak Piala Dunia.
- Rencana kontroversial tersebut mendapat penolakan keras dari UEFA serta Asosiasi Sepak Bola Inggris karena dinilai tidak transparan.
Suara.com - Presiden Gianni Infantino kembali menjadi sorotan setelah menawarkan paket investasi bernilai miliaran euro kepada 211 federasi anggota FIFA.
Tawaran ini terkait rencana kontroversial penjualan sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia.
Dalam proposal tersebut, FIFA disebut ingin membentuk perusahaan komersial baru senilai sekitar 17,6 miliar euro.
Perusahaan ini akan mengelola hak komersial ajang Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub.
Sebanyak 20 persen saham direncanakan dijual kepada investor swasta, sementara FIFA tetap memegang kendali mayoritas.
![Enam negara yang dipastikan lolos Piala Dunia 2030 [FIFA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/21/45557-enam-negara-yang-dipastikan-lolos-piala-dunia-2030-fifa.jpg)
Langkah ini memicu perdebatan karena dinilai menggeser arah pengelolaan sepak bola global ke ranah bisnis murni.
Infantino dalam surat resminya menyebut setiap federasi berpotensi menerima hingga 35,2 juta euro jika menyetujui rencana tersebut sebelum 19 September.
Total dana yang disiapkan mencapai 8,8 miliar euro dan akan mulai didistribusikan pada 1 Januari 2027.
“Ini adalah tanggung jawab saya untuk menghadirkan peluang terobosan bagi anggota kami,” tulis Infantino.
Ia menambahkan bahwa persetujuan akan membuka babak baru bagi FIFA.
Namun, jika proposal ditolak, federasi hanya akan mendapatkan dana dari program FIFA Forward senilai sekitar 2,4 miliar euro.
Kondisi ini memicu kritik karena dianggap sebagai bentuk tekanan terselubung.
Rencana ini berasal dari perusahaan investasi Thrive Capital yang didirikan oleh Joshua Kushner.
Keterkaitan politik di balik perusahaan tersebut semakin memperbesar kontroversi.
UEFA menjadi salah satu pihak yang paling keras menolak.
Mereka menilai langkah FIFA telah melewati batas yang tidak seharusnya dilakukan oleh badan pengatur sepak bola.
Sementara itu, Asosiasi Sepak Bola Inggris juga mengaku terkejut dengan proposal tersebut.
Mereka menyatakan belum menerima informasi detail dan menyuarakan kekhawatiran atas transparansi serta prinsip dasar rencana ini.