- Ketua Umum PSSI Erick Thohir meminta penegakan hukum tegas atas tewasnya seorang suporter akibat penyerangan di Bogor pada Minggu (25/10/2026).
- Kepolisian telah mengamankan lima orang terduga pelaku setelah Erick langsung menghubungi Kapolres setempat untuk menyelidiki kasus tersebut.
- Erick menegaskan sepak bola harus menjadi pemersatu bangsa dan mendorong sanksi pengurangan poin demi memberikan efek jera.
Suara.com - Ketua Umum PSSI sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Erick Thohir, mengingatkan kembali bahwa sepak bola seharusnya menjadi pemersatu bangsa, bukan pemicu perpecahan.
Erick menyinggung keberhasilan Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 saat menanggapi tewasnya seorang Bobotoh akibat penyerangan di Bogor.
Erick menilai kemenangan Timnas Indonesia di ajang tersebut mampu menyatukan masyarakat dari berbagai kalangan.
Karena itu, ia meminta persoalan kekerasan suporter ditangani serius melalui penataan sepak bola dan penegakan hukum yang tegas.
“Padahal bola kemarin ketika kita juara (FIFA ASEAN), kita menyatukan seluruh bangsa kita. Nah, ini yang kita harus kembalikan, tata ulang dengan baik, kompromistis, dan juga penegakan hukum,” kata Erick kepada awak media.
“Sampai kapan negara kita harus terpecah seperti ini?” kata Erick.
![Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, memberikan tanggapan mengenai kritikan terhadap pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, usai menghadapi Malaysia pada pertandingan kedua FIFA ASEAN Cup 2026. [Suara/com/Rahman]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/30/67595-erick-thohir.jpg)
Pernyataan Erick muncul setelah seorang suporter Persib Bandung berinisial ARK, berusia 16 tahun, meninggal dunia akibat penyerangan seusai pertandingan Garudayaksa FC melawan Persib Bandung dalam lanjutan Super League 2026/2027 di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor, Minggu (25/10/2026) malam.
Korban ditemukan mengalami luka bacok di Jalan Raya Jakarta–Bogor ketika dalam perjalanan pulang setelah menyaksikan pertandingan.
Korban sempat dibawa ke rumah sakit terdekat, tetapi nyawanya tidak tertolong akibat luka parah.
Erick mengaku telah menghubungi langsung Kapolres setempat, Arfan Zulkan Sipayung, untuk meminta penyelidikan dilakukan secara menyeluruh.
Erick ingin kepolisian memastikan apakah penyerangan tersebut merupakan tindak kriminal murni atau berkaitan dengan permusuhan antarsuporter.
“Saya tadi telepon Pak Kapolres langsung, Pak Arfan (Zulkan Sipayung), saya bilang, 'Pak, tolong tindak lanjuti pasti seperti apa. Apakah ini kriminal murni atau ketidaksukaan atas suporter?'” ujar Erick.
Ia menyerahkan penentuan motif dan proses hukum kepada kepolisian. Erick menegaskan, kekerasan yang terjadi di luar stadion tetap harus diproses sesuai hukum, terlebih jika sampai merenggut nyawa.
“Nanti kita lihat hasil keputusan pihak Polri. Jadi kalau di luar tempat pertandingan itu sudah hukum, apalagi kalau sampai ada korban jiwa,” katanya.
Kepolisian telah mengamankan lima orang yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut.
Selain penegakan hukum, Erick kembali menyoroti pentingnya sanksi tegas terhadap kekerasan yang terjadi di dalam lingkungan pertandingan.
Menurutnya, klub dan suporter harus ikut bertanggung jawab apabila insiden semacam itu terjadi di area pertandingan.
Erick bahkan mendorong penerapan sanksi pengurangan poin dalam jumlah besar untuk memberikan efek jera.
Erick mengingatkan agar tragedi seperti Kanjuruhan tidak kembali terulang dalam sepak bola Indonesia.
“Kalau masih terjadi di dalam lapangan, itu pasti tanggung jawab klub dan suporter, dan akhirnya bisa dikurangi poin. Kalau masih terjadi hal seperti Kanjuruhan, mohon maaf, sudah lah pengurangan poin sebanyak-banyaknya saja biar ada efek jera,” tegas eks Presiden Inter Milan itu.