- Malaysia dan Indonesia mencatat kasus larangan registrasi pemain FIFA terbanyak di Asia Tenggara.
- Malaysia menduduki peringkat pertama dengan 33 kasus dari 11 klub sepak bola berbeda.
- Indonesia menyusul di posisi kedua dengan 21 kasus yang mayoritas disumbang PSBS Biak.
Suara.com - Indonesia dan Malaysia menjadi dua negara Asia Tenggara dengan jumlah kasus larangan registrasi pemain terbanyak dalam basis data FIFA.
Malaysia tercatat memiliki 33 kasus yang melibatkan 11 klub, sedangkan Indonesia membukukan 21 kasus dari enam klub.
Data tersebut menempatkan Malaysia di posisi teratas, disusul Indonesia.
Thailand berada di urutan ketiga dengan sembilan kasus, Filipina enam kasus, Vietnam dua kasus, dan Myanmar satu kasus.
PSBS Biak Sumbang 15 Kasus di Indonesia
Persoalan di Liga Indonesia terkonsentrasi pada sejumlah klub yang masuk dalam daftar pembatasan registrasi pemain FIFA.
PSBS Biak menjadi klub dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 15 kasus dari total 21 kasus yang tercatat di Indonesia.
![Suasana latihan tim Semen Padang FC di Stadion H Agus Salim Padang, Kamis (5/2/2026). [Dok. Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/21/89866-semen-padang-fc.jpg)
Selain PSBS Biak, Semen Padang memiliki dua kasus. Sementara itu, Kalteng Putra, Sriwijaya FC, Persiba Balikpapan, dan Persiwa Wamena masing-masing tercatat memiliki satu kasus.
Besarnya jumlah kasus yang melibatkan PSBS Biak membuat klub tersebut menjadi sorotan dalam catatan pembatasan registrasi pemain di Indonesia.
Malaysia Catat 33 Kasus, Libatkan 11 Klub
Di Malaysia, Kelantan Red Warrior menjadi klub dengan jumlah kasus terbanyak, yakni sembilan kasus.
Kedah Darul Aman menyusul dengan enam kasus, sedangkan Kelantan The Real Warriors mencatat empat kasus.
Kelantan FC dan PDRM FC masing-masing memiliki tiga kasus.
Perlis FA dan Gombak FC tercatat dengan dua kasus, sementara Perak FC, Terengganu FC, Kuala Lumpur City, dan PT Athletic masing-masing memiliki satu kasus.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian berkaitan dengan Kelantan Red Warrior.
Larangan registrasi yang melibatkan klub tersebut disebut berakar pada sengketa pembayaran gaji Kelantan FC, yang telah berhenti berpartisipasi dalam kompetisi Malaysia.
Kedua klub diduga memiliki keterkaitan badan hukum sehingga memunculkan perdebatan mengenai pihak yang bertanggung jawab melunasi kewajiban finansial tersebut.
Dampaknya, Kelantan Red Warrior menghadapi kendala dalam menambah pemain baru.
Klub itu juga berada di posisi terbawah klasemen Liga Malaysia dengan belum meraih poin setelah menjalani enam pertandingan.
Selain itu, Kuala Lumpur City kembali masuk daftar pembatasan registrasi FIFA sejak 15 Oktober 2026.
Kasus tersebut berkaitan dengan sengketa bunga akibat keterlambatan pembayaran gaji mantan pemain asing mereka, Patrick Reichelt, pada 2024.