Rencana Kenaikan Harga BBM Bersubsidi Dinilai Tidak Tepat karena Harga Minyak Mentah Turun Tajam

Deli | Suara.com

Rabu, 31 Agustus 2022 | 17:56 WIB
Rencana Kenaikan Harga BBM Bersubsidi Dinilai Tidak Tepat karena Harga Minyak Mentah Turun Tajam
SPBU Pertamina (Foto: Istimewa)

Deli.Suara.com – Pengamat Kebijakan Publik, Bambang Haryo Soekartono menilai rencana pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi secara total adalah tidak tepat, karena harga minyak mentah dunia menurun tajam berkisar di bawah 90 USD per barel di pertengahan Agustus 2022 dari 120 USD per barel beberapa bulan lalu. 

Bambang Haryo mengatakan, akhir-akhir ini juga terjadi kelangkaan BBM subsidi, kemudian disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani, bahwa BBM bersubsidi akan habis di akhir bulan September dikarenakan terjadi peningkatan konsumsi BBM subsidi, sehingga membebani APBN. 

Menurut anggota DPR RI, pemerintah saat ini seharusnya paham bahwa penggunaan BBM di tahun 2022 mestinya ada peningkatan sebesar 50 persen dalam kurun waktu 10 tahun dari tahun 2012 ke tahun 2022 dikarenakan setiap tahun terjadi pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen dan ini akan berakibat terjadi peningkatan penggunaan transportasi publik darat, laut, kereta api, logistik, trasportasi pribadi serta peningkatan pertanian, nelayan, perkebunan dan industri transportasi untuk industri kecil dan besar.

Bambang Haryo menuturkan ternyata kuota BBM subsidi tahun 2012 untuk Pertalite sudah sebesar 24,3 juta kilo liter, Solar 14,9 juta kilo liter dengan besaran total subsidi 211 triliun rupiah saat itu, bila dibandingkan saat ini di tahun 2022 untuk subsidinya Pertalite yang hanya 23 juta kilo liter dimana seharusnya bila ada pertumbuhan ekonomi 50% harusnya saat ini kuotanya berkisar 36 juta kilo liter.

Demikian juga Solar saat ini kuotanya hanya 14,9 juta kilo liter yang seharusnya 21,9 juta kilo liter dan subsidi saat ini di tahun 2022 malah menurun hanya sebesar Rp208 triliun.

“Saya heran kenapa Menteri Keuangan terheran-heran dengan kondisi sisa BBM subsidi saat ini?” tanya Bambang.

“Di sini jelas bahwa kuota subsidi tahun ini dikurangi oleh pemerintah sehingga tentunya kuota BBM tidak akan mencapai sampai akhir tahun, dan ini tentu akan sangat merugikan masyarakat karena pemerintah belum bisa menyediakan BBM subsidi cukup, padahal juga tidak diimbangi dengan tersedianya transportasi publik massal yang terkoneksi dengan baik dari point to point,” ujar Bambang Haryo yang juga Ketua Harian MTI Jawa Timur.

Bambang melanjutkan, sebenarnya saat ini masyarakat sudah dirugikan dari kuota BBM subsidi yang berkurang 25% sehingga masyarakat harus menggunakan BBM non subsidi Pertamax dan bahkan masyarakat lebih dirugikan lagi dengan kegagalan pertamina yang tidak bisa menyediakan BBM subsidi Premium yang tentu jauh lebih murah dari Pertalite, sehingga beban kemahalan ke masyarakat menjadi bertambah karena harus menggunakan BBM Pertalite.

Kegagalan pertamina juga diperparah dengan kemampuan mengimpor bahan bakar dengan harga tinggi dari beberapa negara, sehingga harga jual ke masyarakat menjadi mahal, ini terbukti dari data globalpetrolprices.com pada Solar non subsidi (Diesel) harga jual di Indonesia berada di urutan ke-70 kemahalannya dari 190 negara, dimana peringkat 1 adalah Iran hanya 0,011 USD (Rp163), peringkat ke 2 Venezuela hanya 0,022 USD (Rp327), peringkat ke 3 Libya hanya 0,033 USD (Rp447), peringkat 4 Saudi Arabia hanya 0,168 (Rp2.500), dimana negara ini pengekspor minyak ke Malaysia maupun Indonesia. 

“Dimana sangat mengherankan Indonesia masuk di peringkat 70 harganya 1.293 USD (Rp19.925) padahal Indonesia masuk negara penghasil minyak terbesar nomor 3 di Asia dan juga penghasil gas terbesar di Asia dan bahkan menurut Dirut Pertamina, sejak April 2019 Indonesia sudah tidak lagi mengimpor Solar dan sudah bisa menghasilkan Solar sendiri, seharusnya harga Solar di Indonesia bisa lebih rendah dari negara Malaysia,” papar Bambang.

Bambang menerangkan, di Indonesia BBM Oktan pun masuk peringkat ke-50 di dunia dari peringkat 1 yaitu Venezuela yang hanya 0,022 USD (Rp327), peringkat 2 Libya hanya 0,033 USD (Rp447) peringkat 10 Malaysia hanya 0,457 USD (Rp6.809) jauh dari Indonesia, sedangkan Indonesia berada di peringkat 50 dengan angka 1.167 USD atau setara dengan Rp17.540 padahal Indonesia merupakan negara penghasil minyak jauh lebih besar dari Malaysia yang hanya sekitar 60% nya saja.

“Ini seharusnya menjadi satu penilaian pemerintah terhadap Pertamina yang kurang bisa maksimal memberikan pelayanan terbaik terutama mengusahakan untuk mengimpor BBM subsidi dengan harga murah, karena kuota dan harga BBM subsidi saat ini tidak rasional, maka saya menolak untuk harga BBM Subsidi harganya dinaikkan saat ini, tetapi bila kondisi anggaran APBN terbatas, maka pemerintah saat ini tidak perlu menaikkan harga BBM bersubsidi tetapi mengalihkan sisa kuota BBM subsidi fokus untuk transportasi publik dan logistik baik massal dan tidak massal terutama di transportasi laut, karena jargon Bapak Jokowi adalah Maritim termasuk nelayan dan petani menjadi prioritas BBM subsidi serta kebutuhan UMKM (industri kecil) agar perekonomian masyarakat tidak terpengaruh,” terang Bambang.

“Dan tugas daripada Kementerian terkait transportasi publik dan logistik yaitu Kementerian Perhubungan harusnya ikut mempertahankan keberlangsungan hidup daripada transportasi publik dan logistik agar harga BBM subsidi di transportasi publik, logistik, pertanian dan nelayan tidak dinaikkan,” tandas Bambang.

Sumber: Suara.com 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Sebelum Harga Naik, Warga Palembang Berburu Pertalite Dan Solar di SPBU

Sebelum Harga Naik, Warga Palembang Berburu Pertalite Dan Solar di SPBU

Sumsel | Rabu, 31 Agustus 2022 | 17:24 WIB

Demokrat Minta Pengacara Brigadir J Jangan Gagal Fokus, Buntut Sebut SBY Pernah Sembah Kamaruddin

Demokrat Minta Pengacara Brigadir J Jangan Gagal Fokus, Buntut Sebut SBY Pernah Sembah Kamaruddin

| Rabu, 31 Agustus 2022 | 17:07 WIB

Takut Harga Pertalite Naik Tengah Malam Nanti, Warga Cianjur Serbu SPBU

Takut Harga Pertalite Naik Tengah Malam Nanti, Warga Cianjur Serbu SPBU

Bogor | Rabu, 31 Agustus 2022 | 17:06 WIB

Pembelian BBM Bersubsidi, Berau Terapkan Fuel Card: Komunikasi dengan Bupati

Pembelian BBM Bersubsidi, Berau Terapkan Fuel Card: Komunikasi dengan Bupati

Kaltim | Rabu, 31 Agustus 2022 | 17:02 WIB

Supir Truk Demo Tak Dapat Beli BBM Solar, Ini Penjelasan Bisnis Unit Head SPBU Wajok Hilir

Supir Truk Demo Tak Dapat Beli BBM Solar, Ini Penjelasan Bisnis Unit Head SPBU Wajok Hilir

Kalbar | Rabu, 31 Agustus 2022 | 16:56 WIB

Harga BBM Subsidi akan Naik, Ojol Semarang Ketar-ketir: Kami Lagi yang Dibikin Pusing

Harga BBM Subsidi akan Naik, Ojol Semarang Ketar-ketir: Kami Lagi yang Dibikin Pusing

Jawa Tengah | Rabu, 31 Agustus 2022 | 16:49 WIB

Jika Harga BBM Tidak Naik, BI Prediksi Angka Inflasi akan Landai

Jika Harga BBM Tidak Naik, BI Prediksi Angka Inflasi akan Landai

Surakarta | Rabu, 31 Agustus 2022 | 15:31 WIB

Terkini

Bahlil: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Perlu Diseragamkan

Bahlil: Batas Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Perlu Diseragamkan

News | Sabtu, 25 April 2026 | 00:02 WIB

Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti

Tanggapi Santai Usulan KPK, Bahlil: Di Golkar Jangankan 2 Periode, Satu Periode Saja Sering Ganti

News | Jum'at, 24 April 2026 | 23:59 WIB

YLBHI Desak Presiden dan Panglima TNI Hentikan Peradilan Militer yang Dinilai Tidak Adil

YLBHI Desak Presiden dan Panglima TNI Hentikan Peradilan Militer yang Dinilai Tidak Adil

News | Jum'at, 24 April 2026 | 23:55 WIB

Pemuda di Cikeusal Rudapaksa Siswi SD dan Paksa Korban Curi Emas Orang Tua Lewat Ancaman Video

Pemuda di Cikeusal Rudapaksa Siswi SD dan Paksa Korban Curi Emas Orang Tua Lewat Ancaman Video

Banten | Jum'at, 24 April 2026 | 23:33 WIB

5 Alasan Wajib Nonton Tradisi Seba Baduy: Ada Barongsai, Layar Tancap, Hingga Diplomat 10 Negara

5 Alasan Wajib Nonton Tradisi Seba Baduy: Ada Barongsai, Layar Tancap, Hingga Diplomat 10 Negara

Banten | Jum'at, 24 April 2026 | 23:27 WIB

Polri Tetapkan Syekh Ahmad Al Misry Tersangka Pelecehan Seksual 5 Santri Laki-laki

Polri Tetapkan Syekh Ahmad Al Misry Tersangka Pelecehan Seksual 5 Santri Laki-laki

Jabar | Jum'at, 24 April 2026 | 23:20 WIB

Suku Bunga Tinggi, Milenial-Gen Z Kini Lebih Percaya Medsos Ketimbang Brosur Properti

Suku Bunga Tinggi, Milenial-Gen Z Kini Lebih Percaya Medsos Ketimbang Brosur Properti

Bisnis | Jum'at, 24 April 2026 | 23:20 WIB

Jalur Menuju Situs Gunung Padang Kembali Normal Usai Tertimbun Longsor

Jalur Menuju Situs Gunung Padang Kembali Normal Usai Tertimbun Longsor

Bogor | Jum'at, 24 April 2026 | 23:12 WIB

Siapa yang Bermain? Polemik Kali Ciputat Jadi Ajang 'Saling Serang' Dewan vs Pengembang

Siapa yang Bermain? Polemik Kali Ciputat Jadi Ajang 'Saling Serang' Dewan vs Pengembang

Banten | Jum'at, 24 April 2026 | 23:04 WIB

UU PPRT Disahkan, Akademisi UGM Soroti Celah Sanksi dan Kesiapan Jaminan Sosial

UU PPRT Disahkan, Akademisi UGM Soroti Celah Sanksi dan Kesiapan Jaminan Sosial

News | Jum'at, 24 April 2026 | 23:00 WIB