Suara Denpasar - Stadion Kanjuruhan Malang kini menjadi saksi bisu atas tragedi yang mengakibatkan ratusan korban pada Sabtu (1/10/2022). Sebanyak 127 orang dilaporkan meninggal dunia dan 180 orang lainnya harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit.
Duel antara Arema FC dan Persebaya bertajuk derbi Jawa Timur itu tak disangka menjadi cikal bakal terjadinya Tragedi Kanjuruhan yang disebut-sebut merupakan tragedi stadion sepak bola paling mengerikan di dunia setelah tragedi di Estadio Nacional, Lima, Peru pada tahun 1964.
Menilik dari sejarah perseteruan sengit antara suporter Arema FC dan Persebaya, tampaknya hal ini lumrah terjadi. Namun pemerintah menegaskan bahwa Tragedi Kanjuruhan bukanlah aksi bentrok antarsuporter.
Pasalnya dalam laga tersebut, pendukung Persebaya tak diperkenankan menonton di Stadion Kanjuruhan Malang. Hanya pendukung Arema FC yang dapat menonton secara langsung pertandingan.
"Perlu saya tegaskan bahwa tragedi Kanjuruhan itu bukan bentrok antarsuporter Persebaya dengan Arema," jelas Mahfud kepada wartawan, Minggu (2/10/2022).
Oleh karena itu, Mahfud MD menegaskan bahwa korban meninggal dunia dan luka-luka lebih disebabkan karena aksi kericuhan yang tak terelakkan.
"Oleh sebab itu para korban pada umumnya meninggal karena desak-desakan, saling himpit, dan terinjak-injak, serta sesak napas. Tak ada korban pemukulan atau penganiayaan antarsuporter," kata Mahfud.
Kapolda Jatim Irjen Pol Nico Afinta mengungkap tak ada permasalahan sampai pertandingan selesai digelar.
Proses pertandingan tidak ada permasalahan hingga selesai," ujar Irjen Nico, Minggu (2/10/2022).
Baca Juga: Polisi Dikecam Usai Tembak Gas Air Mata ke Tribun Penonton Stadion Kanjuruhan
Disebutnya lagi, masalah justru timbul seusai pertandingan yang berawal dari kekecewaan suporter Arema FC karena tim kesayangannya kalah.
Apalagi, sepanjang sejarah, Arema FC tidak pernah kalah selama 23 tahun bertanding.
"Selama 23 tahun bertanding (Arema) tidak pernah kalah namun pada malam ini kalah dengan Persebaya," ucapnya lagi.
Kekesalan itulah yang kemudian membuat beberapa penonton justru merangsek masuk ke lapangan untuk berusaha menemui pemain dan official guna melampiaskan kekecewaannya.
Namun karena situasi berubah menjadi semakin ricuh, polisi akhirnya membuat kondisi semakin keruh lantaran menyemprotkan gas air mata ke arah massa dan tribun.
Hal inilah yang kemudian membuat massa pergi ke satu titik keluar. Namun naas, terjadi penumpukan akibat banyaknya massa yang berebut menyelamatkan diri.