Robi Navicula: Kebijakan Pembangunan Pemerintah Mestinya Berlandaskan Tri Hita Karana

Suara Denpasar

Senin, 07 November 2022 | 18:26 WIB
Robi Navicula: Kebijakan Pembangunan Pemerintah Mestinya Berlandaskan Tri Hita Karana
Robi Navicula (tengah) dalam diskusi dan talk show yang digelar 350.id Indonesia di Denpasar, Minggu (6/11/2022). (Rovinus Bou/ Suara Denpasar)

Suara Denpasar - I Gede Robi Supriyanto alias Robi Navicula berpendapat bahwa mestinya dalam setiap kebijakan pemerintah harus memperhatikan filosofi lokal Bali yaitu Tri Hita Karana. Hal itu disampaikan musisi rocker sekaligus aktivis soal asal Bali itu saat diskusi dan talk show yang diselenggarakan oleh komunitas 350.id Indonesia di Amaris Hotel, Teuku Umar, Denpasar, Minggu (6/11/2022)

Kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah diskusi dengan tema "Seriuskah Dunia Melakukan Transisi Energi Untuk Meredam Krisis Iklim?" dan sesi kedua adalah talk show dengan tema "Ruang Aspirasi dan Seni Anak Muda Bali Untuk Iklim".

Robi Navicula yang menjadi narasumber pada sesi diskusi menyampaikan bahwa tujuan dari suatu pembangunan adalah kemakmuran, maka penting untuk memperhatikan hal-hal dasar dalam kehidupan.

"Kita ngomong di Bali ada Tri Hita Karana yang mengajarkan agar manusia bisa harmonis dengan Tuhan, sesama manusia dan alam lingkungan," kata dia.

Jadi, kata dia, apapun yang dilakukan baik itu individu maupun pemerintah harus memperhatikan tiga unsur itu, terutama soal unsur kemakmuran manusia dan alam lingkungan untuk melakukan suatu pembangunan.

Robi Navicula mengatakan sebagai orang Bali ia ingin airnya bersih, lautnya bersih, udaranya bersih, tanahnya tidak dikeruk dan hujannya tidak dibabat.

"Sebagai orang Bali jika ditanya maunya apa, ya, saya mau hutan di Bali dijaga, air yang bersih mulai dari pupuan, tukad sampai ke laut harus bersih dari sampah, dan yang paling terpenting agar tanah tidak boleh dikeruk karena pangan tumbuh dari tanah, bukan diproduksi di mesin," ujarnya.

Selanjutnya ia mengatakan bahwa bumi adalah play ground manusia akan tetapi setiap pembangunan baik itu pembangunan ekonomi atau jenis pembangunan lainnya harus berkebudayaan, berkeadilan dan tidak mengkhianati norma Tri Hita Karana.

Sementara itu Sisil, narasumber lain dalam sesi diskusi tersebut, ketika ditanya terkait konflik agraria yang sering terjadi antara masyarakat dan pemerintah, ia mengatakan bahwa konflik agraria tersebut sangat kompleks untuk dipahami karena ada kompetisi dan klaim yang pada akhirnya masyarakatlah yang harus mengalah.

baca juga

"Terkait konflik agraria pada intinya karena ada kompetisi dan klaim atas lahan antara masyarakat, pemerintah dan korporasi," kata Sisil.

Selanjutnya kata dia, bahwa dalam kasus ini pemerintahlah yang memiliki kekuatan besar dan terkadang klaim yang tidak berdasar.

"Dalam konflik agraria, biasa kekuatan terbesar berada pada pemerintah dan kadang-kadang klaim itu tidak berdasar, namun pada akhirnya masyarakat yang harus mengalah meskipun masyarakat sudah tinggal di sana selama turun temurun, yang menjaga lingkungan itu untuk diwarikan kepada anak cucu," kata sisil. 

Terkait krisis Iklim, sisil menilai sudah sangat krisis sehingga pada akhirnya harus beradaptasi karena kenaikan suhu yang cukup tinggi, dan pemerintah Indonesia mendapat raport merah untuk penanganan krisis Iklim tersebut.

"Kita sudah naik suhu 1.5 derajat celscius, dan itu kita sudah mencapai titik kritis, memang masih ada harapan tapi waktunya sempit, sudah ada riset yang mengatakan komitmen pemerintahan Indonesia gak cukup, jadi raportnya merah," tutupnya.

Di akhir kegiatan di sisi dengan sesi talk show, Gede Bayak yang ditugaskan untuk mengisi sesi ini mengajak peserta diskusi dan talk show untuk melukis pada kanvas yang sudah ia siapkan untuk menyampaikan aspirasi terkait krisis Iklim. 

Sementara itu penyelenggara kegiatan Dian Paramita (Digital Organizer 350.id Indonesia) saat ditemui mengatakan bahwa krisis iklim disebabkan oleh pembakaran energi kotor fosil seperti batu bara dan bensin sehingga terbuangnya emisi ke udara. 

"Kami percaya krisis iklim terjadi karena itu sehingga harus ada transisi energi terbarukan seperti matahari atau angin sehingga kita gak lagi membakar fosil yang menyebabkan polusi dan masyarakat akan lebih mandiri, kita tidak lagi bayar listrik karena sudah mendapat energi dari matahari dan angin," kata perempuan yang akrab disapa Dian itu.

Selanjutnya ia mengatakan komunitasnya mendukung transisi energi, namun transisi energi tersebut baru akan terjadi jika ada perubahan sistem atau kebijakan dari pemerintah. (*/Aryo)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pemuda di Denpasar Beli Perangkat Televisi di Toko On Line, Yang Datang Malah Sebungkus Garam Dapur

Pemuda di Denpasar Beli Perangkat Televisi di Toko On Line, Yang Datang Malah Sebungkus Garam Dapur

Denpasar | Minggu, 06 November 2022 | 18:44 WIB

Hari Satwa, BAWA Bali, Barking Lot Canggu, dan ATLAS Beach Fest Gelar Dog's Day

Hari Satwa, BAWA Bali, Barking Lot Canggu, dan ATLAS Beach Fest Gelar Dog's Day

Denpasar | Minggu, 06 November 2022 | 09:56 WIB

Bali Nomor 3 Tertinggi Kasus Ginjal Akut Pada Anak, Kemenkes Minta Waspada

Bali Nomor 3 Tertinggi Kasus Ginjal Akut Pada Anak, Kemenkes Minta Waspada

Denpasar | Minggu, 06 November 2022 | 05:30 WIB

Terkini

KADIN Surabaya Geram Listrik Byar Pet Sudah 2 Minggu: UMKM Rugi Besar

KADIN Surabaya Geram Listrik Byar Pet Sudah 2 Minggu: UMKM Rugi Besar

Jatim | Selasa, 23 Juni 2026 | 09:47 WIB

Hunter x Hunter Terbitkan Bab Baru Setelah 18 Bulan, Volume 39 Rilis 3 Juli

Hunter x Hunter Terbitkan Bab Baru Setelah 18 Bulan, Volume 39 Rilis 3 Juli

Your Say | Selasa, 23 Juni 2026 | 09:45 WIB

Puja-puji Scaloni untuk Lionel Messi: Lihat Saja Komitmennya!

Puja-puji Scaloni untuk Lionel Messi: Lihat Saja Komitmennya!

Bola | Selasa, 23 Juni 2026 | 09:41 WIB

Amuk Golok Kakek 75 Tahun di Lampung Utara yang Berakhir dalam 10 Jam

Amuk Golok Kakek 75 Tahun di Lampung Utara yang Berakhir dalam 10 Jam

Lampung | Selasa, 23 Juni 2026 | 09:39 WIB

Apa Itu BIB dalam Lari? Bukan Cuma Nomor Peserta, Ini Fungsi Pentingnya

Apa Itu BIB dalam Lari? Bukan Cuma Nomor Peserta, Ini Fungsi Pentingnya

Lifestyle | Selasa, 23 Juni 2026 | 09:38 WIB

Rupiah Tertekan, Dolar AS Terus Naik ke Level Rp17.855

Rupiah Tertekan, Dolar AS Terus Naik ke Level Rp17.855

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 09:36 WIB

Cuan untuk Investor, Buyback Emas Antam Naik Lebih Tinggi dari Harga Jual

Cuan untuk Investor, Buyback Emas Antam Naik Lebih Tinggi dari Harga Jual

Bisnis | Selasa, 23 Juni 2026 | 09:32 WIB

Sempat Kesulitan, Didier Deschamps Bongkar Kunci Kemenangan Atas Irak

Sempat Kesulitan, Didier Deschamps Bongkar Kunci Kemenangan Atas Irak

Bola | Selasa, 23 Juni 2026 | 09:31 WIB

Erling Haaland Samai Rekor Harry Kane usai 2 Golnya Antar Norwegia ke 32 Besar Piala Dunia 2026

Erling Haaland Samai Rekor Harry Kane usai 2 Golnya Antar Norwegia ke 32 Besar Piala Dunia 2026

Bola | Selasa, 23 Juni 2026 | 09:30 WIB

Generasi Muda Belum Melek Finansial, Perempuan dan Disabilitas Hadapi Tantangan Lebih Besar

Generasi Muda Belum Melek Finansial, Perempuan dan Disabilitas Hadapi Tantangan Lebih Besar

Lifestyle | Selasa, 23 Juni 2026 | 09:30 WIB