Putusan PN Jakarta Pusat Terhadap KPU Memberi Preseden Buruk Bagi Demokrasi, Strategi Penundaan Pemilu?

Suara Denpasar

Senin, 06 Maret 2023 | 07:40 WIB
Putusan PN Jakarta Pusat Terhadap KPU Memberi Preseden Buruk Bagi Demokrasi, Strategi Penundaan Pemilu?
Putusan PN Jakarta Pusat Terhadap KPU Memberi Preseden Buruk Bagi Demokrasi, Strategi Penundaan Pemilu?

Suara Denpasar - Putusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat terhadap KPU menuai kontroversi panjang. Selain itu sanksi tersebut dinilai telah memberi preseden buruk bagi wajah demokrasi Indonesia.

Putusan itu merupakan hasil dari gugatan yang dilayangkan oleh Partai Prima yang merasa dirugikan oleh KPU RI saat verifikasi administrasi partai politik peserta Pemilu 2024. PN Jakarta Pusat menilai KPU RI telah melakukan perbuatan melawan hukum. Sehingga memenangkan gugatan Partai Prima atas KPU RI sebagai tergugat lewat putusan yang dikeluarkan pada Kamis (2/3).

Dengan demikian, PN Jakarta Pusat memberikan sanksi terhadap KPU RI untuk membayar ganti rugi materiil sebesar Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) kepada Partai Prima sebagai penggugat. 

Selain itu PN Jakarta Pusat menghukum tergugat (KPU) untuk tidak melaksanakan sisa tahapan pemilu 2024, dan meminta agar tahapan pemilu dimulai ulang dari awal selama lebih kurang 2 tahun 4 bulan 7 hari sejak tuntutan itu diputuskan.

Artinya pemilu yang mestinya dilaksanakan pada tahun 2024, namun jika dilihat dari sanksi tersebut maka pemilu akan ditunda sampai kurang lebih pertengahan tahun 2026. 

Menanggapi itu, banyak pihak menilai putusan PN Jakarta Pusat tersebut merupakan bagian dari strategi penundaan pemilu. Hal ini karena, dari segi kewenangan PN Jakarta Pusat tidak memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi terhadap KPU apalagi menuntut untuk menunda pemilu.

Tidak terkecuali Akademisi Universitas Udayana Bali, Efatha Efatha Filomeno Borromeu. Menurutnya keputusan tersebut bisa saja sebuah skenario dengan tujuan tertentu yang perlu untuk diwaspadai. 

Maka dari itu, menurut pendiri Malleum Iustitiae Institute tersebut tidak salah jika publik menilai keputusan itu adalah rangkaian atau bagian dari rencana penundaan pemilu. 

"Itu konsekuensi yang harus diterima, dan jika sudah begitu tentunya ini sangat memberikan preseden buruk terhadap demokrasi. Terlebih dapat mengurangi kepercayaan publik terhadap setiap keputusan pengadilan," kata Efatha dalam sebuah diskusi dengan tema "Mengurai Kontroversi: Putusan PN Jakarta Pusat dalam Perspektif Filsafat, Hukum, dan Politik, di Jimbaran Badung Bali, Minggu, (5/3/2023).

baca juga

Selain itu, Efatha menilai putusan PN Jakarta Pusat telah keluar dari ranah yurisdiksi hukum. Sebab 
Konstitusi telah menetapkan bahwa pemilihan diadakan setiap lima tahun. Namun kata dia, putusan PN Jakarta Pusat justru bertentangan dengan mandat konstitusi. 

"Keputusan tersebut telah melanggar pemisahan kekuasaan, karena kekuasaan yudisial seharusnya tidak campur tangan dalam proses pemilihan," ujarnya.

Lebih lanjut kata dia, status demokrasi di Indonesia dianggap masih bebas menurut Freedom House. Namun banyak peristiwa termasuk keinginan menunda pemilu dapat mengurangi status demokrasi negara. 

Efatha meminta agar pemerintah harus mengambil langkah-langkah untuk memperkuat demokrasi Indonesia dan memastikan tetap bebas dan transparan. 

Selanjutnya, sebagai rekomendasi Efatha memberikan empat catatan yang dapat dijadikan pedoman untuk memastikan bahwa marwah demokrasi dapat terus berkembang di Indonesia:

1. Transparansi dan keadilan dalam proses pemilihan harus dipertahankan untuk memastikan bahwa semua partai politik memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum.

2. Lembaga Yudikatif harus memastikan bahwa keputusan yang dibuatnya proporsional dan tidak mengancam prinsip-prinsip demokrasi, termasuk prinsip pemilihan umum yang bebas dan adil.

3. Pemerintah harus segera mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas politik dan mencegah ketegangan atau polarisasi akibat keputusan ini bahkan analisis lingkungan strategis pasca pemilu.

4. Para Akademisi, LSM pemerhati demokrasi, kelompok ormas dan aktor intelektual internasional serta masyarakat diharapkan memberikan dukungan untuk menciptakan iklim demokrasi yang sehat di Indonesia dan bersedia untuk membagikan catatan kritis juga pengalaman pada praktik terbaik mereka untuk memastikan bahwa proses demokratis tetap terjaga. (Rizal/*)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Bakal jadi Rival Politik di Pilpres, Prabowo dan Surya Paloh Sepakat Lakukan Ini

Bakal jadi Rival Politik di Pilpres, Prabowo dan Surya Paloh Sepakat Lakukan Ini

Kotak Suara | Minggu, 05 Maret 2023 | 18:15 WIB

8 Fakta Pertemuan Prabowo dan Surya Paloh, Apa Keputusan Dua Petinggi Ini?

8 Fakta Pertemuan Prabowo dan Surya Paloh, Apa Keputusan Dua Petinggi Ini?

Kotak Suara | Minggu, 05 Maret 2023 | 18:14 WIB

Anggap Putusan PN Jakpus Ngawur, Prabowo: Tak Masuk Akal bila Pemilu Ditunda-tunda!

Anggap Putusan PN Jakpus Ngawur, Prabowo: Tak Masuk Akal bila Pemilu Ditunda-tunda!

News | Minggu, 05 Maret 2023 | 17:04 WIB

Terkini

'Mulutnya Tidak Beretika!' Irma Suryani Semprot Oknum Nakes yang Hina Pasien BPJS Meninggal

'Mulutnya Tidak Beretika!' Irma Suryani Semprot Oknum Nakes yang Hina Pasien BPJS Meninggal

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:56 WIB

Sinyal Kenaikan Harga Paket Data? ATSI Peringatkan Dampak Putusan MK 273 Terhadap Tarif Internet

Sinyal Kenaikan Harga Paket Data? ATSI Peringatkan Dampak Putusan MK 273 Terhadap Tarif Internet

Tekno | Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:55 WIB

Diejek Justin Hubner, Pemain Vietnam Ngamuk-ngamuk: Gak Usah Banyak Bacot!

Diejek Justin Hubner, Pemain Vietnam Ngamuk-ngamuk: Gak Usah Banyak Bacot!

Bola | Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:53 WIB

Cushion OMG Matte atau Glow? Ini 2 Pilihan yang Tepat Buat Kondisi Kulit

Cushion OMG Matte atau Glow? Ini 2 Pilihan yang Tepat Buat Kondisi Kulit

Lifestyle | Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:47 WIB

Dugaan Tramadol Dilindungi Oknum LSM di Cimahi, Dedi Mulyadi: Sikat Saja!

Dugaan Tramadol Dilindungi Oknum LSM di Cimahi, Dedi Mulyadi: Sikat Saja!

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:46 WIB

Sebar Hoaks Ajakan Demo Jelang HUT RI, Pria Asal Ciamis Ditangkap Polda Metro Jaya

Sebar Hoaks Ajakan Demo Jelang HUT RI, Pria Asal Ciamis Ditangkap Polda Metro Jaya

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:46 WIB

Hadapi Sidang Banding, Nadiem Makarim Sindir Pihak yang Lakukan Kriminalisasi terhadap Dirinya

Hadapi Sidang Banding, Nadiem Makarim Sindir Pihak yang Lakukan Kriminalisasi terhadap Dirinya

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:45 WIB

Emosi Memuncak! Pria di Bandung Bakar Motor Sendiri, Tiga Rumah Ludes Dilalap Api

Emosi Memuncak! Pria di Bandung Bakar Motor Sendiri, Tiga Rumah Ludes Dilalap Api

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:38 WIB

Rekor Timnas Indonesia vs Singapura di Jalan Besar Stadion: Dramatis, dan Tak Pernah Mudah

Rekor Timnas Indonesia vs Singapura di Jalan Besar Stadion: Dramatis, dan Tak Pernah Mudah

Bola | Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:38 WIB

Menteri PU Dody Hanggodo Wacanakan Pembangunan Tol Pekanbaru-Kuansing

Menteri PU Dody Hanggodo Wacanakan Pembangunan Tol Pekanbaru-Kuansing

Riau | Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:38 WIB

×