- BPS mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mengalami kontraksi kuartalan sebesar 0,77 persen dibandingkan periode sebelumnya.
- Pelemahan kinerja pada sektor pertambangan memberikan tekanan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di awal tahun 2026.
- Industri pengolahan dan sektor domestik lainnya berhasil menjaga pertumbuhan tahunan ekonomi Indonesia tetap berada di angka 5,61 persen.
Suara.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 mengalami kontraksi 0,77 persen dibanding kuartal sebelumnya (quarter to quarter/qoq), meski secara tahunan masih tumbuh 5,61 persen.
Kontraksi kuartalan ini terjadi di tengah pelemahan sejumlah sektor, terutama pertambangan yang menjadi salah satu lapangan usaha dengan kinerja negatif pada awal tahun.
“Secara triwulanan, ekonomi Indonesia, ekonomi Indonesia triwulan satu 2026 mengalami kontraksi sebesar 0,77 persen,” kata Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti di Kantor BPS RI, Selasa (5/5/2026).
Meski penurunan secara kuartalan kerap dipengaruhi faktor musiman setelah periode akhir tahun, data BPS menunjukkan tidak semua sektor mampu mempertahankan momentum pertumbuhan, terutama sektor berbasis komoditas.
“Pada triwulan satu 2026 secara tahunan, seluruh lapangan usaha tumbuh positif kecuali lapangan usaha pertambangan dan pengadaan listrik dan gas,” ucap Amalia.
Pelemahan sektor pertambangan menjadi sorotan karena sektor ini masih masuk dalam lima kontributor utama Produk Domestik Bruto (PDB) nasional bersama industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan konstruksi.
![Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti di Kantor BPS RI, Jakarta, Selasa (5/5/2026). [Suara.com/Fakhri]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/05/17249-kepala-bps-amalia-adininggar-widyasanti.jpg)
Kelima sektor tersebut secara total menyumbang sekitar 63,52 persen terhadap struktur ekonomi Indonesia.
Dengan posisi strategis tersebut, perlambatan pertambangan memberi tekanan pada kinerja ekonomi kuartalan, terutama di tengah ketergantungan sejumlah wilayah terhadap aktivitas komoditas mineral dan energi.
BPS tidak merinci lebih lanjut dalam paparan awal terkait faktor spesifik pelemahan pertambangan, namun tekanan global, fluktuasi harga komoditas, serta penyesuaian produksi kerap menjadi faktor yang memengaruhi sektor tersebut.
Di sisi lain, sejumlah sektor domestik tetap menopang pertumbuhan tahunan. Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 1,03 basis poin, disusul perdagangan 0,82 basis poin, pertanian 0,55 basis poin, dan konstruksi 0,53 basis poin.
“Lapangan usaha industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar yaitu sebesar 1,03% basis poin,” kata Amalia.
Kondisi ini menunjukkan struktur ekonomi Indonesia pada awal 2026 lebih banyak ditopang sektor konsumsi domestik, manufaktur, dan mobilitas masyarakat dibanding sektor ekstraktif.
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tercatat tumbuh 13,14 persen, sementara jasa lainnya naik 9,91 persen dan transportasi serta pergudangan tumbuh 8,04 persen.