Kelompok ras dan etnis yang hampir tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya ini, menanggung beban pandemi, dan terperosok dalam tekanan biaya hidup. Bagi mereka yang tidak memiliki identitas resmi AS, klaim tunjangan dan bantuan pemerintah seringkali ditolak.
Namun, laporan Xinhua menyatakan bahwa semua faktor tersebut cenderung mengaburkan penyebab utama: ketimpangan pendapatan yang mendarah daging. Kesenjangan antara si kaya dan si miskin tetap mencolok karena lebih dari 40 juta orang Amerika hidup dalam kemiskinan.
Survei Statista juga mengatakan bahwa pada kuartal ketiga tahun 2022, 68 persen dari total kekayaan di negara Amerika Serikat dimiliki oleh 10 persen kalangan atas.
"Sebagai perbandingan, 50 persen orang berpenghasilan terendah hanya memiliki 3,3 persen dari total kekayaan," katanya.
Sementara menurut Biro Statistik Sensus AS, orang miskin lebih rentan terhadap penyakit, pengangguran, kecelakaan, dan mereka tertatih-tatih di ambang kehilangan tempat tinggal. (Rizal/*)