Suara Denpasar - Nama Mahfud MD kerap mencuat dalam gelaran Pemilihan Presiden (Pilpres) maupun dalam pengisian menteri. Bahkan, dia masud dalam pusaran sebagai nama yang cocok jadi cawapres Ganjar Pranowo. Akan tetapi, Mahfud MD belajar dari pengalaman yang membuat dia kapok mengejar jabatan.
Mahfud mengakui kapok kejar jabatan kepada Helmi Yahya. Saat berbincang dengan mantan direktur TVRI dan presenter kawakan ini, Mahfud mengakui pernah mengejar-ngejar jabatan.
Lantas bagaimana dengan kans Mahfud dalam Pilpres 2024 mendatang?
"Jangan-jangan ini (Mahfud) tokoh yang dirindukan Indonesia ke depan?" tanya Helmy di kanal Youtube Helmy Yahya Bicara dikutip Jumat (28/4/2023).
Mahfud mengaku sampai saat ini belum menganalisis apakah dia masuk dalam pusaran capres-cawapres. Dia juga merasa tidak berkepentingan.
"Saya ingin menyelesaikan tugas-tugas saya yang disampaikan Pak Jokowi," tandasnya.
Dia mengatakan, tugas yang diembannya adalah pemberantasan korupsi, radikalisme, penyelesaian HAM, penegakan hukum, dan indeks persepsi hukum.
"Saya fokus ke sana dulu. Bicara-bicara seperti itu kan ada waktu dan tempatnya. Tapi terus terang sampai saat ini saya tidak merespons," tandasnya.
Sikap Mahfud ini berbeda dengan dia yang dulu. Dalam kontestasi Pilpres terdahulu, dia bahkan menyiapkan tim. Jika ada berita tentang dirinya masuk dalam pusaran pencapresan, maka timnya akan mengkapitalisasi untuk terus menaikkan namanya.
"Karena dulu saya, ya, mau (kejar jabatan presiden atau wakil presiden). Tapi sekarang saya gak mau mengkapitalisasi. Biarin aja, biar berkembang sendiri. Nanti pada saatnya jika perlu dijawab, ya, dijawab," terangnya.
Saat ini, dia juga tidak membentuk tim untuk mengkapitalisasi peristiwa atau informasi soal pencapresan Mahfud. Dia ingin itu berjalan sendiri secara alami.
"Karena filosofi saya itu kalau jabatan sepenting itu dikejar juga kalau tidak bisa gak dapat. Gak dikejar kalau mau, diberikan Tuhan," katanya.
Dia mengatakan, filosofi ini dia dapat dari pengalaman. Dia sudah pernah mengalami banyak peristiwa bagaimana dia tidak mengejar-ngejar, tapi datang sendiri. Begitu juga ketika dia kejar-kejar malah tidak dapat.
"Karena semua itu sudah pernah saya alami. Saya pernah ngejar jabatan, juga gak dapat. Udah mati-matian gak dapat, tapi ketika saya sedang tidur-tiduran tiba-tiba dipanggil diberi jabatan. Itu artinya apa? artinya Tuhan aja ," terang pejabat asal Madura ini.
Dia akhirnya mengakui itu berdasarkan dua pengalaman gagal meraih jabatan yang diinginkan saat Pilpres 2019. Kala itu, Mahfud sudah akan menjadi cawapres mendampingi Jokowi.
Tiba-tiba, cawapres Jokowi berubah. Ma'ruf Amin yang saat itu menjadi ketua MUI diplot jadi cawapres Jokowi.
Namun, setelah Jokowi menang Pilpres 2019, Mahfud MD diplot jadi Menteri Koordinator Polhukam.
Itu berbeda ketika dia tidak merencanakan, tiba-tiba diberi jabatan. Seperti saat usai Pilpres 1999, dia diberi jabatan Menteri Pertahanan di era Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Mahfud tak menyangka Gus Dur kenal dia.
Ketika dia menjadi ketua MK,Mahfud juga tak menyangka. Saat itu, dia sebetulnya mengincar jabatan menteri saat mendukung SBY sebagai presiden.
Bahkan, kala itu dia sudah dipanggil SBY untuk menjadi menteri. Tapi, setelah SBY menang Pilpres, kontaknya terputus semua. Dia tidak jadi apa-apa.
"Waktu itu saya agak kecewa kan. Dikejar nggak dapat. Tapi tiba-tiba, beberapa bulan kemudian, Pak SBY telepon saya tengah malam pulang dari luar negeri, 'Pak Mahfud saya sekarang akan menandatangani Keputusan Presiden, dan Pak Mahfud menjadi hakim MK,"
Setelah menjadi hakim MK,Mahfud MD terpilih sebagai ketua MK. Posisi ketua MK lebih tinggi dari menteri. Ini menjadi pelajaran baginya untuk tidak mengejar jabatan.
Dari sana, dia lebih pasrah. Dia tidak tidak ngejar jabatan lagi.
"Biarin saja. Nanti Tuhan yang akan menentukan," kata Mahfud. (*)