Suara Denpasar – Pada malam ini (5/5/2023), seluruh wilayah di Indonesia akan melihat gerhana bulan penumbra. Beruntungnya, fenomena langit ini dapat dilihat tanpa menggunakan alat bantu teleskop.
Meskipun, gerhana bulan merupakan peristiwa yang dapat dijelaskan oleh sains. Namun, banyak orang terdahulu sering mengaitkannya dengan berbagai mitos.
Ada banyak mitos mengenai gerhana bulan dan masih dipercayai banyak orang. Tak hanya dalam budaya Jawa, namun mitos gerhana bulan juga dikaitkan dengan penanggalan Islam.
Penasaran apa saja mitos gerhana bulan menurut penanggalan Islam? Melansir dari suara.com berikut ulasannya.
1. Mitos gerhana bulan di bulan Muharram
Gerhana bulan yang terjadi di bulan Muharam disebut-sebut bukan pertanda yang baik. Konon katanya, gerhana bulan yang terjadi pada bulan ini jadi pertanda adanya wabah penyakit yang dibarengi dengan meningkatnya semua harga bahan pokok. Selain itu, hal ini juga menjadi tanda akan ada pemimpin/raja di suatu negeri yang meninggal.
2. Mitos Gerhana Bulan di Bulan Safar
Jika terjadi gerhana bulan di bulan Safar, mitosnya tidak akan terjadi hujan selama tiga bulan dan sesekali terjadi angin kencang.
3. Mitos Gerhana Bulan di Bulan Rabiul Awwal
Mitosnya, gerhana bulan di bulan Rabiul Awwal pertanda jika sang pemimpin/raja sedang susah hati namun tak diketahui oleh rakyatnya.
4. Mitos Gerhana Bulan di Rabiul Akhir
Jika terjadi gerhana bulan pada bulan, dikatakan akan jadi pertanda adanya wabah penyakit yang menimpa orang-orang miskin.
5. Mitos Gerhana Bulan di Bulan Jumaddil Awwal
Gerhana Bulan yang terjadi pada Jummadil Awwal dipercaya menjadi pertanda baik. Hal ini dikaitkan dengan harga sandang dan pangan mengalami penurunan.
6. Mitos Gerhana Bulan di Jummadil Akhir