Catatan Kritis Efatha Duarte tentang Fenomena Kaum Selebritas Jadi Caleg 2024

Suara Denpasar

Jum'at, 19 Mei 2023 | 12:45 WIB
Catatan Kritis Efatha Duarte tentang Fenomena Kaum Selebritas Jadi Caleg 2024
Catatan Kritis Efatha Duarte tentang Fenomena Kaum Selebritas Jadi Caleg 2024 ((Foto: Antara))

Suara Denpasar - Efatha Duarte menyebutnya sebagai polientertain. Yang dapat diartikan sebagai perpaduan antara selebritas dan politik. Ungkapan itu merujuk pada fenomena kalangan selebritas yang berbondong-bondong menjadi calon legislatif pada pemilu 2024.

Mata Najwa mencatat, ada sekitar 65 selebriti mulai dari penyanyi, pelawak, presenter, aktor, aktris, pemeran film sampai selebgram ikut mewarnai percaturan politik 2024.

Dalam wawancara Suara Denpasar dengan Efatha Duarte, Jum'at (19/5/2023) kami mengangkat topik "Polientertain: Antara Popularitas dan Kompetensi dalam Lanskap Politik Kontemporer".

Berikut pandangan Efatha Filomeno Borromeu Duarte tentang fenomena polientertain:

Polientertain telah mempengaruhi dunia global dan Indonesia secara spesifik. Ini menandai era di mana popularitas menjadi modal politik yang penting. Namun, pendekatan ini memunculkan pertanyaan krusial mengenai esensi demokrasi dan kualitas tata kelola politik. 

Selebritas, dengan posisi mereka sebagai titik sentral identifikasi sosial, memiliki potensi besar untuk membentuk opini dan merubah pandangan publik. Fenomena ini tidak eksklusif untuk Indonesia, melainkan bagian dari lanskap politik global.

Namun, kecenderungan ini bisa menciptakan suasana merisaukan, karena bisa menggerus peran keahlian dalam politik demokratis. Dalam konteks politik, terdapat risiko substansial dalam mengadopsi model yang terlalu berfokus pada popularitas daripada kapabilitas. Pada kenyataannya, pengaruh selebritas dalam politik tidak selalu positif atau efektif. 

Dalam survei yang dilakukan Hill-HarrisX pada 2019, sebanyak 65% responden mengungkapkan bahwa dukungan politik dari selebritas Hollywood tidak mempengaruhi keputusan pemilihan mereka. Lebih jauh, 24% responden mengatakan bahwa dukungan selebritas malah membuat mereka memilih untuk tidak mendukung kandidat tersebut.

Di Indonesia, tren migrasi selebritas ke dunia politik telah mengubah dinamika lanskap politik negara ini. Sejumlah artis dan publik figur telah memasuki arena politik dan bergabung dengan berbagai partai politik. 

baca juga

Perkembangan ini mencerminkan pergeseran dalam pemahaman dan praktik politik di Indonesia, di mana popularitas dan pengenalan nama menjadi faktor penting dalam pemilihan publik. Namun, politik bukan sekadar panggung popularitas.

Kompetensi substansial dalam kebijakan dan pemahaman isu-isu sosial dan ekonomi menjadi prasyarat mutlak dalam memainkan peran sebagai pemimpin politik. Oleh karena itu, kapabilitas para selebritas untuk berkontribusi pada pembangunan dan kemajuan negara melalui peran mereka sebagai politisi harus dipertanyakan.

Pandangan yang terlalu memandang selebritas sebagai politisi berdasarkan popularitas saja, tanpa mempertimbangkan kompetensi dan dedikasi mereka untuk pelayanan publik, dapat berpotensi merusak integritas sistem politik. 

Maka, masyarakat perlu lebih cermat dan kritis dalam memberikan suara mereka. Demokrasi membutuhkan pemimpin yang kompeten, bukan hanya populer. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat, partai politik, dan calon itu sendiri untuk memastikan bahwa figur yang dicalonkan memang memiliki kapasitas dan integritas yang diperlukan untuk memimpin.

Hal ini mengharuskan kita untuk mempertimbangkan dengan cermat sebelum memilih dan menjaga kualitas demokrasi kita. Dalam akhirnya, fenomena "polientertain" ini membutuhkan refleksi mendalam tentang apa yang kita nilai dalam demokrasi dan sistem politik kita. 

Sejauh mana popularitas dan pengakuan nama dapat dan harus berperan dalam politik? Apakah popularitas adalah ukuran yang tepat dan adil untuk memilih pemimpin? Bagaimana kita memastikan bahwa popularitas tidak menenggelamkan pertimbangan lainnya seperti kompetensi, integritas, dan dedikasi? 

Sebagai negara demokratis, Indonesia memiliki tugas untuk memastikan bahwa pemilihannya mencerminkan prinsip-prinsip demokrasi. 

Hal ini mencakup memastikan bahwa pemimpin yang dipilih oleh rakyatnya memang memiliki kualifikasi dan kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas pemimpinan mereka.

Popularitas harus digabungkan dengan kompetensi dan dedikasi untuk pelayanan publik dalam memilih pemimpin politik. Kita harus ingat bahwa politik bukanlah ranah yang eksklusif untuk selebritas atau mereka yang sudah dikenal oleh masyarakat. 

Ini adalah arena di mana setiap individu yang memenuhi kriteria dan memiliki visi dan misi yang jelas, dapat berkontribusi dalam memajukan kepentingan publik.

Terakhir, responsibilitas tidak hanya berada di tangan politisi atau selebritas yang menjadi politisi, tetapi juga berada di tangan kita sebagai pemilih. 

Hak dan kewajiban kita adalah untuk mengevaluasi kandidat secara menyeluruh dan mendalam, melampaui popularitas dan pengenalan nama, dan memilih pemimpin yang kita percaya dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat dan negara kita. 

Jadi, fenomena "polientertain" bukanlah suatu ancaman secara inheren untuk demokrasi atau sistem politik kita, tetapi merupakan tantangan dan kesempatan bagi kita untuk merefleksikan dan memperbaiki cara kita memilih pemimpin. 

Oleh karena itu, kita perlu merespons fenomena ini dengan bijak dan kritis, dan memastikan bahwa kita mempertahankan integritas dan kualitas demokrasi kita.

Tentang Narasumber:

Nama: Efatha Filomeno Borromeu Duarte. Sebagai akademisi atau dosen di Universitas Udayana (Unud) Bali. Sekaligus pendiri Malleum Iustitiae Institute, sebuah komunitas yang berfokus pada kajian akademik. (*/Dinda)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Lagi Bobrok Unud Dibongkar Mahasiswa, Tak Pernah Terapkan SPI Rp 0

Lagi Bobrok Unud Dibongkar Mahasiswa, Tak Pernah Terapkan SPI Rp 0

Denpasar | Kamis, 18 Mei 2023 | 17:58 WIB

Unud Terkesan Tak Rela Kembalikan Kelebihan Dana SPI Mahasiswa, Begini Bunyi Pengumumannya

Unud Terkesan Tak Rela Kembalikan Kelebihan Dana SPI Mahasiswa, Begini Bunyi Pengumumannya

Denpasar | Kamis, 18 Mei 2023 | 17:50 WIB

Unud Bantah Ada Jalur Belakang Mahasiswa Baru, Begini Jawaban Senja Pratiwi

Unud Bantah Ada Jalur Belakang Mahasiswa Baru, Begini Jawaban Senja Pratiwi

Denpasar | Rabu, 17 Mei 2023 | 13:12 WIB

Terkini

I'm Back! Kata-kata Cristiano Ronaldo Usai Cetak Brace, Sindir Lionel Messi

I'm Back! Kata-kata Cristiano Ronaldo Usai Cetak Brace, Sindir Lionel Messi

Bola | Rabu, 24 Juni 2026 | 02:56 WIB

Udah Siap Belum? Cristiano Ronaldo Bakal Bawa Portugal Juara Piala Dunia 2026

Udah Siap Belum? Cristiano Ronaldo Bakal Bawa Portugal Juara Piala Dunia 2026

Bola | Rabu, 24 Juni 2026 | 02:45 WIB

Rekor 60 Tahun Tumbang! Cristiano Ronaldo Jadi Raja Gol Portugal di Piala Dunia

Rekor 60 Tahun Tumbang! Cristiano Ronaldo Jadi Raja Gol Portugal di Piala Dunia

Bola | Rabu, 24 Juni 2026 | 02:36 WIB

Kok Sepi, Mana Suaranya? Sindiran Pedas Sang Kakak Usai Cristiano Ronaldo Cetak Brace

Kok Sepi, Mana Suaranya? Sindiran Pedas Sang Kakak Usai Cristiano Ronaldo Cetak Brace

Bola | Rabu, 24 Juni 2026 | 02:28 WIB

Portugal Pesta Gol 5-0 atas Uzbekistan, Cristiano Ronaldo Cetak Rekor Bersejarah

Portugal Pesta Gol 5-0 atas Uzbekistan, Cristiano Ronaldo Cetak Rekor Bersejarah

Bola | Rabu, 24 Juni 2026 | 02:15 WIB

Ini Tampang Pria yang Tega Sekap Perempuan di Cileunyi hingga Alami Kebutaan dan Bibir Sumbing

Ini Tampang Pria yang Tega Sekap Perempuan di Cileunyi hingga Alami Kebutaan dan Bibir Sumbing

Jabar | Selasa, 23 Juni 2026 | 23:45 WIB

Perang Bintang AADC di Pasar Obat Herbal

Perang Bintang AADC di Pasar Obat Herbal

Jabar | Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32 WIB

BMKG Petakan Kemarau di Sumsel, Sejumlah Daerah Mulai Masuk Zona Kering

BMKG Petakan Kemarau di Sumsel, Sejumlah Daerah Mulai Masuk Zona Kering

Sumsel | Selasa, 23 Juni 2026 | 23:25 WIB

Harga DMO Batu Bara Dirombak, Apa Dampaknya bagi PTBA dan PLN?

Harga DMO Batu Bara Dirombak, Apa Dampaknya bagi PTBA dan PLN?

Sumsel | Selasa, 23 Juni 2026 | 23:15 WIB

Pelaku Penyekapan Tragis Bandung Ditangkap, Dedi Mulyadi Puji Gerak Cepat Polda Jabar

Pelaku Penyekapan Tragis Bandung Ditangkap, Dedi Mulyadi Puji Gerak Cepat Polda Jabar

Jabar | Selasa, 23 Juni 2026 | 23:15 WIB