Suara Denpasar - Disrupsi teknologi digital membuat beragam perubahan besar-besaran secara fundamental karena hadirnya teknologi digital.
Hampir semua sendi kehidupan manusia terpengaruh dan berubah. Begitu juga perkembangan industri media di dunia dan tanah air.
Apalagi belakangan ini muncul kecerdasan buatan (AI) yang mulai di uji coba dan mungkin saja bisa menggantikan pekerjaan jurnalis.
"Kedepan apakah akan menggerus pekerjaan jurnalis atau tidak? Temen-temen media online harus bisa beradaptasi dengan adanya AI," kata Wakil Ketua Dewan Pers periode 2022-2025, Muhamad Agung Dharmajaya, Kamis 25 Mei 2023 malam
Namun begitu, di tengah gempuran teknologi yang begitu masif. Satu poin utama yang bisa menyebabkan jurnalis dan media bisa bertahan adalah kepercayaan publik. Jadi, ingat dia, begitu pentingnya kepercayaan publik bagi jurnalis dan media.
Untuk itu, Dewan Pers juga mengapresiasi aduan dari masyarakat terkait kerja jurnalis. Sampai Mei ini setidaknya ada 400 pengaduan masyarakat yang diterima oleh Dewan Pers.
Umumnya yang menjadi pengaduan adalah hal-hal mendasar seperti berita yang tidak berimbang dan judul terlalu bombastis.
"Jadi kredibilitas media harus dijaga untuk meraih kepercayaan publik," ungkapnya. Guna meningkatkan produk jurnalistik yang dihasilkan wartawan. Maka, Dewan Pers terus melakukan Uji Kompetesi Wartawan atau UKW.
Terakhir terkait masukan sejumlah pihak agar pendirian media online bisa lebih selektif. Mengingat saat ini tercatat ada 50 ribu media online.
Baca Juga: Ketua PHDI Bali Tonton Video Bule Jerman Bugil, Begini Reaksinya
Dewan Pers sendiri tidak bisa berbuat banyak. Mengingat dalam Undang-Undang hanya dipersyaratkan harus berbadan hukum.
Baik berupa Perseroan Terbatas (PT), Koperasi, atau Yayasan, maka sudah bisa mendirikan media. ***