Suara Denpasar - Sri Tanjung, menjadi asal muasal legenda nama Banyuwangi. Sebuah Kabupaten di ujung timur Pulau Jawa, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya nusantara.
Kisahnya yang mendalam telah dikenal sejak zaman peradaban Hindu-Buddha di Indonesia dan disampaikan melalui sastra berbahasa Jawa Pertengahan serta pertunjukan upacara ruwatan.
Meskipun asal-usul pasti kisah Sri Tanjung tetap menjadi misteri, dapat dipastikan bahwa peristiwa ini terjadi di Banyuwangi, Jawa Timur.
Dikutip Denpasar.suara.com dari akun Instagram Banyuwangi Info & berita BWI, Senin 18 September 2023.
Para ahli cenderung berpendapat bahwa kisah ini berakar dari masa Majapahit pada abad ke-14 Masehi.
Pemikiran ini diperkuat oleh temuan arkeologi berharga dalam bentuk relief yang terukir pada pendapa teras Candi Penataran, dinding Gapura Bajang Ratu, Candi Surawana, dan Candi Jabung.
"Di sini sejarah mulanya terbentuk nama Banyuwangi," begitu kata narator sembari merujuk sebuah sumur.
Kisah Sri Tanjung berkisah tentang kesetiaan seorang istri yang luar biasa, Sri Tanjung, kepada suaminya, Raden Sidapaksa.
Raden Sidapaksa adalah seorang kesatria gagah berani, keturunan langsung Raden Sadewa atau Sudamala dari Pandawa. Namun, perjalanan cinta mereka penuh liku-liku.
Sri Tanjung terpaksa harus menunggu suaminya yang diutus untuk meminta obat kepada Bhagawan Tamba Petra atas permintaan raja di Negeri Sundurejo. Dengan hati yang penuh harap dan rindu, Sri Tanjung menantikan kepulangan suaminya.
Sayangnya, alih-alih bertemu dengan suami yang penuh cinta, Sri Tanjung dihadapkan dengan kemarahan suaminya.
Raden Sidapaksa diberitahu oleh Raja Sulakrama bahwa Sri Tanjung telah melakukan tindakan tercela selama dia sedang menjalankan tugasnya.
Sri Tanjung bersikeras bahwa ini hanyalah fitnah, dan sebenarnya Raja Sulakrama yang berusaha memperkosanya.
Kisah tragis ini membawa Sri Tanjung ke Hutan Setra Gandamayu. Di tepian sumur, takdirnya terungkap: rambutnya ditarik ke belakang dan terhunuslah keris di tangan sang suami.
Pertanyaannya adalah, apakah darah yang mengalir akan menghasilkan aroma harum atau tidak? Ini adalah ujian kejujuran Sri Tanjung, dan darahnya membuktikan bahwa ia benar-benar setia kepada suaminya.
Kisah Legenda Sri Tanjung bukan sekadar mitos di mata masyarakat Banyuwangi. Beberapa tempat di wilayah ini diyakini memiliki kaitan erat dengan kisah ini.
Penataban adalah tempat di mana Raden Sidapaksa, penuh penyesalan, mengatasi rasa gilanya setelah membunuh Sri Tanjung.
Di Desa Kramasan, Sri Tanjung pernah keramas sebelum kejadian tragis itu. Selain itu, Desa Tanjung dianggap sebagai tempat kelahiran Sri Tanjung.
Sumur Sri Tanjung, yang terletak di belakang Pendapa Shaba Swagata Blambangan, adalah tempat di mana jasad Sri Tanjung diletakkan setelah peristiwa tragis tersebut.
Aroma harum dari mata air ini menjadi saksi bisu atas kejujuran Sri Tanjung. Keyakinan ini telah membentuk esensi nama Banyuwangi, "banyu" yang berarti air, dan "wangi" yang berarti harum.
Saking sakralnya kisah Legenda Sri Tanjung, penduduk Banyuwangi menganggapnya sebagai sesuatu yang tabu untuk dipentaskan di wilayah mereka.
Namun, kisah ini tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari warisan budaya yang kaya dan mendalam di Jawa Timur. ***