Tim Pencari Fakta Sebut Tragedi Kanjuruhan Bukan Kerusuhan, Melainkan Pembunuhan

Suara Depok

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 13:42 WIB
Tim Pencari Fakta Sebut Tragedi Kanjuruhan Bukan Kerusuhan, Melainkan Pembunuhan
Aparat keamanan menembakkan gas air mata di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/tom.)

Depok.suara.com - Tim Pencari Fakta (TPF) gabungan Aremania membeberkan hasil pengumpulan data dan fakta Tragedi Kanjuruhan selama 10 hari.
Mereka menyimpulkan, kejadian pada Sabtu (1/10) itu bukanlah kerusuhan, melainkan pembunuhan massal.

"Kita mengambil kesimpulan ini bukan kerusuhan tapi ini pembunuhan. Tapi ini bukan pembunuhan individual, ini pembunuhan massal," ujar Sekjen Federasi Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andy Irfan, Sabtu (15/10/2022).

Andy mengatakan, bahwa sebelum pertandingan Arema FC melawan Persebaya, Aremania bersama panpel, manajemen Arema FC hingga kepolisian telah melakukan beberapa kali koordinasi. Dari pertemuan itu disepakati empat poin.

"Empat poin tersebut yakni komitmen Aremania tidak sweeping kendaraan plat L, tidak menghadirkan suporter Persebaya, tidak ada represi atau kekerasan kepada suporter Aremania dari pihak aparat keamanan, dan tidak ada penggunaan gas air mata oleh aparat keamanan," ujarnya.

Namun, lanjut Andy, fakta dan hasil penelusuran yang dilakukan TPF menyimpulkan, dalam Tragedi Kanjuruhan terdapat tindakan kekerasan berlebihan yang secara sengaja dilakukan personel Polri dan TNI. Terlebih, menurutnya ini dilakukan secara terstruktur dan sistematis sesuai rantai komando.

"Skema itu ada struktur komando, kami meyakini sekurang-kurangnya perwira yang memimpin personel Brimob tidak melakukan pencegahan, ada kemungkinan besar memberikan perintah untuk menembakkan gas air mata," kata Andy.

Selain itu, ia juga menambahkan, bahwa adanya tembakan gas air mata yang dilakukan petugas keamanan menjadi penyebab kepanikan penonton yang saat itu berada di tribun Stadion Kanjuruhan. Hingga pada akhirnya membuat 132 orang meninggal dunia dan ratusan orang luka-luka.

"Kami meyakini sampai saat ini gas air mata menjadi penyebab kematian ratusan orang. Selain bahwa juga karena berhimpitan, berdesakan sesama penonton dan beragam bentuk kekerasan yang lain," terang Andy.

Andy mengungkapkan, bahwa ada dua jenis gas air mata yang ditembakkan Brimob dan Sabhara. Karena hal tersebut, massa yang berkumpul di pintu keluar stadion jadi panik dan tidak terkendali.

baca juga

"Karena itu kita meyakini bahwa tindakan ini adalah kejahatan kemanusiaan," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Luis Milla Klaim Kondisi Skuad Persib Dalam Keadaan Baik, Ini Rahasianya

Luis Milla Klaim Kondisi Skuad Persib Dalam Keadaan Baik, Ini Rahasianya

Purwasuka | Sabtu, 15 Oktober 2022 | 13:10 WIB

Polisi Klaim Tak Lagi Pakai Gas Air Mata Amankan Laga Sepak Bola

Polisi Klaim Tak Lagi Pakai Gas Air Mata Amankan Laga Sepak Bola

Sumut | Sabtu, 15 Oktober 2022 | 12:48 WIB

Polri Tegaskan Tak Lagi Gunakan Gas Air Mata Saat Amankan Pertandingan Sepak Bola

Polri Tegaskan Tak Lagi Gunakan Gas Air Mata Saat Amankan Pertandingan Sepak Bola

Surakarta | Sabtu, 15 Oktober 2022 | 12:06 WIB

Terkini

Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus

Pernah Jadi Anak Buah Nadiem, Pakar Minta Kejagung Ganti Jaksa Chatarina di Kasus Eks Jampidsus

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 21:43 WIB

Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah

Puluhan Kios di Bawah Jembatan Babat Terbakar, Polisi Selidiki Dugaan Pembakaran Sampah

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 21:39 WIB

30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?

30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 21:11 WIB

Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!

Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!

Video | Minggu, 09 Agustus 2026 | 21:05 WIB

Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027

Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027

Bola | Minggu, 09 Agustus 2026 | 21:05 WIB

Gudang Sekolah di Penjaringan Terbakar, 70 Petugas Dikerahkan

Gudang Sekolah di Penjaringan Terbakar, 70 Petugas Dikerahkan

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 20:52 WIB

Review Almarhum: Sinematografi Thriller Misteri Bernyawa Kearifan Lokal

Review Almarhum: Sinematografi Thriller Misteri Bernyawa Kearifan Lokal

Your Say | Minggu, 09 Agustus 2026 | 20:45 WIB

Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo

Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo

Your Say | Minggu, 09 Agustus 2026 | 20:10 WIB

IHH Healthcare Malaysia Terus Perluas Kehadiran di Indonesia

IHH Healthcare Malaysia Terus Perluas Kehadiran di Indonesia

Sumut | Minggu, 09 Agustus 2026 | 20:06 WIB

Fakta Mengerikan di Balik Penembakan Thailand: Pelaku Sudah Belajar Senjata 2 Tahun

Fakta Mengerikan di Balik Penembakan Thailand: Pelaku Sudah Belajar Senjata 2 Tahun

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 20:05 WIB

×