Suara.com - Hari itu seharusnya menjadi hari yang berbahagia bagi banyak kaum muda di Silverton. Mereka sedang bersiap menyambut hari terbaik, yakni kelulusan SMA mereka. Namun sebuah badai memporak-porandakan hari yang berbahagia itu. Dan hari itu berubah menjadi hari yang paling menakutkan.
Wakil kepala SMA Silverton, Gary Fuller (Richard Armitage) bertanggung jawab untuk memastikan acara akan berjalan lancar. Bahkan sebelum meninggalkan rumahnya pagi itu, ia sempat menyimak laporan cuaca.
Dalam rentang waktu hanya beberapa jam, kota Silverton porak-poranda oleh serangan tornado yang belum pernah terjadi sebelumnya. Orang-orang pun seperti anai-anai, berlari tak tentu arah mencari perlindungan. Tapi ada juga yang justru berlari menuju pusaran, menguji seberapa kuat badai tersebut.
Siklon yang tak menentu dan mematikan, bahkan Pete More (Matt Walsh) sang pelacak badai memprediksi badai ini merupakan yang terburuk dari seluruh badai yang pernah melanda kota itu.
Dalam "Into The Storm" pemburu badai Pete Moore berharap untuk mendokumentasikan tornado tepat di pusatnya. Untuk itu ia merancang kendaraan khusus, Titus. Dirancang oleh David Sandefur, desainer produksi film, Titus dilengkapi dengan jendela antipeluru Lexan, pelindung baja setebal 4 mm, kapasitas 12 ton, dan pusat cuaca Mini lengkap dengan anemometer, sensor kelembaban dan potensiometer.
Melalui mata dan lensa Pete dan siswa SMU yang menjadikan bencana ini sebagai pengalaman tak terlupakan mendokumentasikan peristiwa oleh tornado.
Film Thriller penuh aksi "Into The Storm" yang mulai diputar di bioskop-bioskop mulai Selasa (6/8/20140 ini merupakan hasil kerja sama New Line Cinema dengan Village Roadshow Pictures.
Steven Quale, sang sutradara berhasil menghadirkan ketegangan. Juga kecanggihan Titus sebagai kendaraan utama Pete dalam mengabadikan badai ini.