Film Dokumenter soal Pencemaran Minyak di Laut Timor Viral

Ardi Mandiri

Minggu, 28 Januari 2018 | 02:15 WIB
Film Dokumenter soal Pencemaran Minyak di Laut Timor Viral
Sampah laut yang merusak lingkungan. [Shutterstock]

Suara.com - Film dokumenter yang melukiskan tentang pencemaran minyak di Laut Timor (A Crude Injustice) telah terpilih untuk pemutarannya di 20 negara di seluruh dunia.

"Saat ini pemutaran di Irvine Film Festival California, AS dari 25-26 Januari, kemudian akan diputar lagi di Cinema Verde Film Festival di Gainsville Florida dari 8 - 11 Februari," kata Ketua Tim Advokasi Rakyat Korban Montara Ferdi Tanoni di Kupang, Sabtu.

Ia menambahkan film dokumenter yang melukiskan tentang ledakan anjungan minyak Montara di Blok Atlas Barat Laut Timor pada 21 Agustus 2009 itu akan diputar juga di Colorado Environmental Film Festival 22-24 Februari.

Film dokumenter tersebut, juga akan diputar di Festival Film Peace on Earth di Chicago dari 9-11 Maret serta di SOMA Film Festival di New Jersey dari 16-18 Maret 2018.

"Film dokumenter ini mengisahkan tentang tragedi tumpahan minyak yang maha dahsyat di Laut Timor pada saat itu, yang kemudian ditutup-tutupi oleh Pemerintah Federal Australia kepada dunia internasional," kata Tanoni.

Padahal, kata dia, aliran minyak mentah dari anjungan Montara itu telah menimpa rakyat di wilayah pesisir kepulauan Nusa Tenggara Timur yang menyebar di 13 kabupaten dan kota.

"Lebih dari 100.000 mata pencaharian masyarakat pesisir seperti rumput laut telah habis dimangsa akibat wilayah perairan budidaya telah terkontaminsasi dengan minyak mentah," katanya.

Situasi yang sama, juga dialami oleh para nelayan tradisional Nusa Tenggara Timur yang tingkat pendapatannya terus menurun dari waktu ke waktu akibat wilayah perairan setempat terkontaminasi dengan minyak mentah, serta zat beracun seperti timah hitam.

Wilayah perairan yang menjadi area tangkapan nelayan, katanya, disiram pula dengan bubuk kimia yang sangat beracun "dispersant" oleh pemerintah Australia untuk menemgelamkan tumpahan minyak Montara ke dalam dasar Laut Timor.

"Ini sebuah kisah buruk yang sama sekali tidak menghormati hak-hak asasi manusia, khususnya para nelayan yang telah menjadikan Laut Timor sebagai ladang kehidupannya serta para petani rumput laut yang telah menganggap komoditas tersebut sebagai emas hijau," ujarnya.

Ia mengatakan di tengah kesulitan para petani rumput laut dan nelayan tradisional NTT tersebut, muncul lagi penyakit aneh di tengah masyarakat hingga membawa kematian.

"Bencana pencemaran minyak di Laut Timor yang maha dahsyat itu, ikut pula menghancurkan sekitar 60.000 hektare terumbu karang di kawasan Laut Timor dan Taman Nasional Perairan Laut Sawu," katanya.

Tanoni yang juga mantan agen Imigrasi Australia itu menegaskan bahwa kehidupan ekonomi dan kesehatan masyarakat di wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur tampak sangat memprihatinkan.

"Mereka mengalami sebuah titik balik yang sangat memilukan, sehingga dengan pemutaran film 'A Crude Injustice' itu diharapkan dapat membuka mata hati para politisi dan pemerintah di Indonesia dan Australia untuk segera menyelesaikan masalah tersebut," katanya.

Produser film "A Crude Injustice" Jane Hammond, menurut Tanoni, masih berusaha mendapatkan versi bahasa Indonesia kemudian melakukan studi tur ke Timor Barat setelah film "A Crude Injustice" dalam bahasa Indonesia selesai dibuat.

Rencananya, dia akan membawa sekitar enam dermawan dan wartawan dari Australia untuk pemutaran film di desa-desa di Timor Barat dan pulau terselatan Indonesia, Rote Ndao.

Studi tur tersebut diharapkan dapat melibatkan mereka dalam masalah ini, agar mereka dapat membangun hubungan dengan masyarakat serta membantu mendorong untuk melakukan kampanye keadilan ini secara bersama-sama.

Atas dasar itu, Tanoni mendesak Pemerintah Indonesia untuk memprioritaskan penyelesaian kasus tumpahan minyak Montara ini, agar rakyat tidak terus menderita berkepanjangan, setelah tragedi Montara itu meledak di Laut Timor sekitar 8,5 tahun yang lampau.

Tanoni yang juga pemegang mandate hak ulayat masyarakat adat di Laut Timor ini juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera meninjau ulang dan atau membatalkan seluruh kerja sama bilateral dengan Pemerintah Australia, jika masalah ini tidak diselesaikan secara adil oleh pihak Australia. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Cemari Lautan, Jaringan Hotel Ini Setop Pakai Sedotan Plastik

Cemari Lautan, Jaringan Hotel Ini Setop Pakai Sedotan Plastik

Press Release | Rabu, 03 Januari 2018 | 13:18 WIB

Pemerintah Gugat PTTEP Atas Pencemaran Laut Montara

Pemerintah Gugat PTTEP Atas Pencemaran Laut Montara

Bisnis | Sabtu, 18 Maret 2017 | 14:02 WIB

Ketemu Menlu Australia, Luhut Bahas Pencemaran Laut Timor

Ketemu Menlu Australia, Luhut Bahas Pencemaran Laut Timor

Bisnis | Selasa, 07 Maret 2017 | 14:58 WIB

RI Terancam Gagal Klaim Ganti Rugi Pencemaran Minyak Nongsa

RI Terancam Gagal Klaim Ganti Rugi Pencemaran Minyak Nongsa

Bisnis | Kamis, 09 Februari 2017 | 20:48 WIB

Terkini

Ulasan Novel Membunuh Alice: Ketika Mimpi Buruk Menjadi Kenyataan

Ulasan Novel Membunuh Alice: Ketika Mimpi Buruk Menjadi Kenyataan

Your Say | Kamis, 10 September 2026 | 06:25 WIB

Ekonomi Semarang Tumbuh 6,49 Persen, LEPAS Ekspansi Pasar Mobil Listrik Premium

Ekonomi Semarang Tumbuh 6,49 Persen, LEPAS Ekspansi Pasar Mobil Listrik Premium

Jawa Tengah | Kamis, 10 September 2026 | 06:10 WIB

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Masih Siaga

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Masih Siaga

Foto | Kamis, 10 September 2026 | 06:00 WIB

25 Tahun Konflik Agraria di Jambi Tak Selesai! BAM DPR Bakal Turun dan Investigasi

25 Tahun Konflik Agraria di Jambi Tak Selesai! BAM DPR Bakal Turun dan Investigasi

News | Rabu, 09 September 2026 | 23:45 WIB

Genap 17 Tahun Otomatis Punya Rekening, Buat Apa?

Genap 17 Tahun Otomatis Punya Rekening, Buat Apa?

News | Rabu, 09 September 2026 | 23:19 WIB

Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600

Bukan Siang Hari, Ini Waktu Udara Palembang Paling Berbahaya Saat PM2.5 Tembus 600

Sumsel | Rabu, 09 September 2026 | 22:30 WIB

Mendagri Apresiasi Gubernur Bobby Nasution Inisiasi Pertemuan Provinsi se-Sumatera Satukan Kekuatan

Mendagri Apresiasi Gubernur Bobby Nasution Inisiasi Pertemuan Provinsi se-Sumatera Satukan Kekuatan

News | Rabu, 09 September 2026 | 22:27 WIB

Donal Husni Hilang Kontak Saat Liputan Krakatau, Ketua RT Ungkap Sosok dan Keseharian Sang Jurnalis

Donal Husni Hilang Kontak Saat Liputan Krakatau, Ketua RT Ungkap Sosok dan Keseharian Sang Jurnalis

Banten | Rabu, 09 September 2026 | 22:17 WIB

Kabut Asap Kian Meluas, Kini Siswa Madrasah di Palembang Juga Belajar dari Rumah

Kabut Asap Kian Meluas, Kini Siswa Madrasah di Palembang Juga Belajar dari Rumah

Sumsel | Rabu, 09 September 2026 | 22:17 WIB

5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liput Anak Krakatau, Pencarian Diperluas di Selat Sunda

5 Jurnalis Hilang Kontak Saat Liput Anak Krakatau, Pencarian Diperluas di Selat Sunda

Sumsel | Rabu, 09 September 2026 | 22:15 WIB

×