Interview: Karier Debo Andryos, dari Idola Cilik Sampai Jadi Aktor

Fajarina Nurin | Sumarni
Interview: Karier Debo Andryos, dari Idola Cilik Sampai Jadi Aktor
Artis Debo Andryos berposes saat berkunjung di kantor Suara.com, Jakarta, Kamis (7/2). [Suara.com/Muhaimin A Untung]

Ini perjalanan karier Debo Andryos dari awal hingga jadi aktor di Dilan 1990.

Suara.com - Seiring dengan kesuksesan film Dilan 1990, karier Debo Andryos kian menanjak. Keberhasilannya memerankan karakter Nanda membuat lelaki 22 tahun itu menjadi idola baru di kalangan remaja.

Kendati begitu, Debo sapaannya, bukan mengawali karier sebagai aktor. Sebelumnya, dia sudah lebih dulu berkecimpung di dunia tarik suara.

Debo Andryos pernah menjuarai ajang pencarian bakat bergengsi di zamannya, Idola Cilik musim kedua. Saat itu, dia keluar sebagai juara pertama.

Sayangnya selepas itu, Debo Andryos tidak terlalu menekuni kariernya di industri hiburan Tanah Air hingga berujung membuat namanya dilupakan masyarakat.

Kendati begitu, dia mampu bangkit. Berikut wawancara lengkap perjalanan karier Debo Andryos kepada Suara.com.

Gimana awal mula terjun ke dunia hiburan?
Dulu itu sempat ikutan Idola Cilik tahun 2009. Ketika ikut Idola Cilik itu aku nggak ada background penyanyi, nggak pernah belajar vokal atau gimana. Cuma aku memang suka nyanyi. Dan kebetulan om aku yang ngajakin ikut Idola Cilik, dia suka di musik. Kalau misalkan omku main band, aku suka nyanyi. Tapi aku awalnya pemalu. Bahkan orangtuaku saja waktu aku ikut audisi dan lolos dikabarin, 'Ini Debo lolos audisi,' mamahku yang, 'Hah? Emangnya Debo bisa nyanyi?'. Jadi emang sebenarnya untuk niat ikutan Idola Cilik itu cuma coba-coba saja. Setelah audisi kayak segala sesuatu dipermudah, lolos, lolos sampai ke final.

Nikmati dong jadi peserta Idola Cilik saat itu?
Aku kan di lima besar saja sebetulnya sudah capek. Jujur sempet pengin ngundurin diri. Aku bilang ke om aku, om aku nyampein ke tim kreatif, 'Debo sudah nggak kuat, sudah capek'. Karena kan memang seminggu itu, lima hari kita latihan vokal, latihan dance, itu setiap hari. Jadi kayak bosen, lelah sih. Sempet pengin ngundurin diri cuma ditahan-tahan, mereka buat aku semangat lagi. Akhirnya berjalan-jalan sampe grand final dan jadi juara. Sebenernya aku nggak pernah mimpiin sampai juara.

Setelah Idola Cilik, karier kamu gimana?
Dulu pas aku bilang setelah dari Idola Cilik fokus bernyanyi kan. Jadi cuma fokus bernyanyi. Setiap ada tawaran atau film, drama musikal itu aku tolak. Karena maunya nyanyi saja. Nah ketika aku menolak itu semua, aku beranjak dewasa, aku kan sempet vakum juga. Pokoknya 14 tahun sampai 16 tahun itu vakum kan. Cuma fokus nyanyi di rumah, ada band juga. Itu kayak vakum deh. Aku juga sudah nggak tinggal di Jakarta. Nah pas aku sudah mulai beranjak 17 tahun, pas sudah dewasa, kayak ada situasi dan keadaan yang bikin berkarier lagi. Padahal pas vakum sudah nggak tertarik lagi di dunia entertainment. Aku pikir, sudah deh, sudah cukup. Tapi karena situasi keadaan yang mengharuskan yah mau gimana lagi. Aku kan sempat mencoba hal lain di musik. Aku kan punya hobi ini, pingin deh ini. Aku suka banget olahraga ekstrem, balapan motor cross. Tapi ternyata passion aku bukan di situ. Aku kayak harus balik lagi ke entertainment.

Bagaimana akhirnya bisa main film?
Aku juga berusaha balik lagi ke Jakarta. Umur 17 tahun aku sendiri ke Jakarta. Kalau dulu kan ditemani sama orangtua atau om. Awalnya aku berpikir, oke aku mau coba apa pun itu yang baik buat aku. Jadi pas ke Jakarta itu aku masih coba-coba casting iklan sama sinetron. Aku sempat bintangi beberapa iklan sebelum main film. Nyanyi juga masih. Nah setelah dua tahun di Jakarta, orang mulai ngeh lagi kalau aku Debo. Jadi sempet main FTV juga. Akhirnya adalah audisi yang mencari karakter Dilan itu kan. Nah aku kebetulan masuk nominasi sebagai pemain Dilan. Setelah aku tahu berita itu, aku langsung baca novelnya. Nggak nyampe seminggu aku dihubungi sama mas Gilang, asistennya pak Fajar Bustomi. Dihubungi disuruh dateng ke kantor Falcon Pictures untuk screen test. Jadi langsung sama pak Fajar, sutradaranya. Pas itu dicoba dua karakter, awalnya di tes sebagai Dilan, abis itu di tes jadi Nandan. Yasudah setelah itu memang aku cocoknya jadi Nandan. Pas seminggu kemudian aku ditelepon kalau fix jadi Nandan.

Film pertama Dilan 1990 yah?
Bukan. Cuma waktu itu kan belum dapet Dilannya jadi masih nunggu sampai setahun. Nah saat nunggu Dilan ini aku ada syuting film pertama kali. Karena dulu aku sempet coba sinetron. Kayak aku casting nggak dapet-dapet. Udah mau syuting nih nggak jadi. Atau mungkin bukan jalannya disitu. Buktinya setelah aku dapet Dilan 1990 langsung ada tawaran lagi. Jadi kayaknya 'Oh mungkin di film' Jadi aku ada syuting film pertama,  A: Aku, Benci & Cinta abis itu syuting film Dilan 1990 dan beberapa film lagi. Kalau nggak salah sudah ada tujuh film.

Kamu merasa karier menanjak lagi gara-gara Dilan 1990?
Itu karena kerja keras aku juga sih. Kebetulan momennya di Dilan. Dan aku memang sebelum dapat film ini kan jaraknya lumayan lama, setahunan, itu aku masih cari jati diri.

Pas 17 tahun sendirian ke Jakarta, tinggal sama siapa?
Kebetulan aku ada kenalan, sudah kayak orangtua sendiri, kakak aku sendiri. Dia itu guru vokal ketika di Idola Cilik. Jadi dia itu memang pegang beberapa talent buat iklan sama sinetron. Aku waktu itu coba hubungi dia, 'Kak minta tolong dong, aku mau ke Jakarta lagi nih,' Yaudah akhirnya ketemu dia. Dari situ deh langsung dicariin kerjaan.

Bikin band sama Maxime Bouttier juga yah?
Kenal Maxime itu pas film pertama aku yang A: Aku, Benci & Cinta. Sebenarnya agak unik juga ketemunya. Kita satu film nih. Reading nggak pernah ketemu, ketemu waktu syuting saja karena dia sebagai cameo. Tapi ketika di lokasi syuting kita ngobrol nih soal musik, dia suka musik rock sama Muse. Nah ketika ngobrol kita suka sama musik yang sama, jadi nyambung. Terus kita main musik tuh di lokasi syuting yang kebetulan ada set alat band disitu. Pas kita main alat musik itu langsung klop. Di situ orang-orang pada kaget. Dari situlah kepikiran buat bikin band. Kita tukeran kontak. Kebetulan band Maxime bassisnya keluar, nah aku masuk tuh. Jadi memang kayak cocok gitu. Langsung bikin lagu dan perform.

Tapi lebih suka main musik sama nyanyi apa akting?
Sebenarnya kalau enjoy itu main musik atau nyanyi itu lebih enak, kenapa? Karena kita ngeluapin emosi kita kalau lagi sedih. Kalau di atas panggung itu kayak gimana gitu. Cuma sekarang kalau disuruh mana, aku nggak bisa milih. Cuma aku lebih suka film saja karena lebih baru saja sih, temen baru, pengalaman baru. Tapi enjoy-an di musik.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS