Suara.com - Selebgram Karin Novilda alias Awkarin turut mengomentari perbandingan fasilitas kesehatan Indonesia dengan negara lain di media sosial.
Dalam pendapatnya yang diunggah Senin (3/4/2023) di Instagram, Awkarin menyoroti pelayanan dokter di Indonesia dan di negara lain.
"Dokter tidak memeriksa pasien berdasarkan 'katanya', tebak-tebakan, atau pun sok-sokan karena sudah berpraktik puluhan tahun," tutur Awkarin tentang proses diagnosis pasien oleh dokter di negara maju.
Tidak asal menebak, dokter di negara maju menggunakan alat terukur untuk mendiagnosis penyakit, seperti alat scan. Lalu, hasil tersebut ditunjukkan serta dijelaskan kepada pasien.
Tetapi, dokter akan menyerahkan keputusan akhir sepenuhnya kepada pasien.
"Dari sini kita menyadari bahwa dokter di luar negeri memang bertindak seperti pelayan pasien," sambungnya.
Namun kondisi tersebut, kata Awkarin, berkebalikan dengan di Indonesia di mana banyak dokter masih bertindak seperti 'dewa' dan menganggap remeh pasien.
Hal yang paling disorot oleh Awkarin adalah bagaimana dokter di Indonesia kerap salah dalam mendiagnosis pasien. Karena mahalnya biaya alat diagnosis, akhirnya dokter menebak penyakit pasien.
"Namun, seperti buah simalakama, ingin menyuruh mendiagnosa dengan teknologi harganya mahal, tetapi menebak apa yang dimiliki pasien juga dampaknya bisa salah diagnosa. Jadi gimana ya enaknya ya?" tandas Awkarin.
Unggahan ini pun dibenarkan oleh warganet yang mengaku pernah mengalami salah diagnosis. Tetapi, para tenaga kesehatan justru mengkritiknya.
Menurut para tenaga kesehatan yang berkomentar, mereka tidak berkuliah hanya untuk 'menebak' penyakit pasien.
"Kami sekolah kedokteran 6-7 tahun, lanjut sekolah spesialis 4-6 tahun, tidak hanya sekadar tebak-tebakan, ya mungkin ada beberapa oknum yang demikian, saya mengatakan “oknum” ya jadi tidak bisa disamaratakan," komentar @alfrida***.
"Halo kak @awkarin sebaiknya tidak menggiring opini ya. Dalam penegakkan diagnosis ada yang namanya anamnesis dan pemeriksaan fisik. Anamnesis dan pemeriksaan fisik tadi jika dilakukan dengan baik sudah dapat menegakkan diagnosis hampir 80-90 persen sedangkan pemeriksaan-pemeriksaan tadi itu namanya pemeriksaan penunjang," sambung @viko***.
"Sebenarnya bukan asal tebak mbak, tolong jangan menggiring opini. Dalam mendiagnosa pasien itu ada anamnesa dan pemeriksaan fisik, jadi apabila pemeriksaan fisik dan anamnesa sdh dilakukan maka akan di tegakkan diagnosa, sedang kan pemeriksaan scan, rongent dll itu pemeriksaan penunjang apabila diagnosa masih diragukan," balas @evi***.