Suara.com - Aktor kawakan Ray Sahetapy meninggal dunia di Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta Pusat pada Selasa (1/4/2025).
Selama beberapa hari, jenazah Ray Sahetapy berada di Rumah Duka Sentosa. Keberadaanya di sana lantaran menunggu kedatangan sang putra, Surya Sahetapy dari Amerika Serikat.
Surya Sahetapy kemudian tiba di Jakarta pada Kamis (3/4/2025) malam. Ia lantas membawa jenazah ayahnya, Ray Sahetapy ke Masjid Istiqlal untuk disalatkan.
Baru selepas salat Jumat, jenazah Ray Sahetapy dibawa ke TPU Tanah Kusir. Proses pemakaman pun berlangsung sekira pukul 14.00 WIB.
Siang tadi, jenazah Ray Sahetapy baru dibawa ke TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan untuk dimakamkan.
Usai pemakaman, Surya Sahetapy memberikan keterangan kepada awak media. Ia yang merupakan tunarungu kemudian dibantu oleh penerjemah saat diwawancarai.
Surya Sahetapy menerangkan, ayahnya disalatkan di masjid Istiqlal lantaran aktor 68 tahun tersebut mualaf di sana.
Bahkan Surya Sahetapy mendengar cerita, ayahnya sempat bertemu dengan sosok yang membimbing mengucapkan kalimat syahadat.
"Beberapa kali datang ke Istiqlal dan baru tau, dua hari lalu ketemu ustaznya tahunnya 1981 beliau yang memualafkan ayah saya," kata Surya Sahetapy di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan pada Jumat (4/4/2025).
Masjid Istiqlal bukan hanya berkesan buat Ray Sahetapy, tapi juga untuk Surya Sahetapy. Sebab rumah ibadah itu juga yang menjembatani orang-orang tuli belajar Islam.
"Sebetulnya bukan hanya Masjid Istiqlal saja, yang lain juga ada akses juru isyarat dan teks bahasa Indonesia," tutur Surya Sahetapy.
Ia menambahkan, "supaya kami yang tuli bisa mengakses informasi termasuk media mengedukasi orang yang tidak paham. Ini untuk mendukung orang tuli mengakses dalam bahasa isyarat dan juga teks bahasa Indonesia."
Kepedulian terhadap teman tuli juga menurun ke Surya Sahetapy. Di mana ia yang bekerja di Amerika juga mengayomi mereka yang senasib.
"Banyak banget ketauan kenapa anak tuli didiskriminasi karena orang-orang nggak tau terkait tuli. Jadi kita harus edukasi yang baik dan benar seperti apa," kata Ray Sahetapy.
Dari sini pun muncul ide untuk membuat teater khusus teman-teman tuli.
"Masyarakat supaya paham komunikasi dengan orang tuli. Cara komunikasinya dengan cara isyarat," terangnya.
Surya Sahetapy memberikan contoh terdekat di mana saat ia meladeni awak media, ada penerjemah yang membantunya mengartikan bahasa isyarat.
![Dewi Yull hadiri pemakaman Ray Sahetapy di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Jumat (4/4/2025). [Suara.com/Rena Pangesti]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/04/04/63024-dewi-yull-hadiri-pemakaman-ray-sahetapy.jpg)
"Contohnya sekarang ini mengedukasi teman-teman media supaya ke depannya bisa terbiasa ketemu orang tuli dan bisa kerjasama," terang lelaki 31 tahun tersebut.
Sebagaimana diketahui, Ray Sahetapy meninggal dunia di usia 68 tahun pada Selasa (1/4/2025) sekira pukul 21.04 WIB. Sang aktor berpulang saat tengah dirawat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.
Kabar duka ini pertama kali dibagikan oleh sang anak, Surya Sahetapy melalui unggahan Instagram pada Selasa (1/4/2025) malam.
"Selamat jalan, Ayah! @raysahetapy . We always cherish the memories of our time with you," tulis Surya Sahetapy sebagai caption.
Melalui unggahan itu pula, Surya Sahetapy menuliskan pesan menyentuh dimana dirinya menitipkan salam untuk sang kakak, Gisca Sahetapy yang sudah lebih dulu berpulang.
"Titip salam cinta dan kangen ke kak Gisca!," tandasnya.
Ray Sahetapy sendiri berpulang usai berjuang melawan penyakit komplikasi yang dideritanya. Sejak 2017 lalu dia terkena diabetes, lalu di tahun 2023 mengalami serangan stroke, hingga dirawat selama satu bulan di rumah sakit sebelum meninggal dunia.
Sebelum berpulang, Ray Sahetapy telah menjadi mualaf. Ia mengucapkan kalimat syahadat di Masjid Istiqlal pada 1982.