Picu Seruan Boikot: 7 Fakta Kontras Film Malaysia 'Blood Brothers' Vs 'Jumbo' Indonesia

Bernadette Sariyem

Rabu, 16 Juli 2025 | 15:16 WIB
Picu Seruan Boikot: 7 Fakta Kontras Film Malaysia 'Blood Brothers' Vs 'Jumbo' Indonesia
Kolase poster film Jumbo asal Indonesia dan Blood Brothers dari Malaysia. [Suara.com]

Suara.com - Dunia perfilman Asia Tenggara baru-baru ini dihebohkan oleh "perang dingin" antara penikmat film Indonesia dan Malaysia. Ini yang disebut-sebut memicu seruan boikot film Jumbo di negeri jiran tersebut.

Semua bermula dari nasib yang sangat kontras antara film aksi Malaysia, Blood Brothers: Bara Naga, dan film animasi kebanggaan Indonesia, Jumbo.

Kegagalan satu film memicu rasa iri netizen Malaysia yang berujung pada seruan boikot dan hinaan terhadap film lainnya yang justru sukses besar.

Drama ini membuka mata kita tentang persaingan, kualitas, dan realitas industri kreatif di dua negara serumpun.

Berikut adalah 7 fakta perbandingan yang menyoroti perbedaan telak antara Blood Brothers: Bara Naga dan Jumbo.

1. Jagoan di Kandang, Melempem di Negeri Tetangga

Blood Brothers: Bara Naga adalah sebuah fenomena di Malaysia.

Film ini disebut-sebut sebagai salah satu film dengan pendapatan terbesar dan menempati posisi kedua film terlaris sepanjang masa di negerinya.

Namun, nasibnya berbanding terbalik 180 derajat saat mencoba peruntungan di Indonesia.

baca juga

Film ini gagal total, dilaporkan hanya mampu mengumpulkan 1.647 penonton.

Sementara itu, Jumbo adalah raksasa di kandangnya.

Film produksi Visinema Pictures ini memecahkan rekor dengan meraih lebih dari 10 juta penonton.

Ini menjadikannya film animasi terlaris sepanjang masa di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara.

Kesuksesan inilah yang membuatnya menjadi sasaran empuk kekecewaan netizen negara tetangga.

Potongan gambar media sosial Malaysia yang memplesetkan Jumbo menjadi kata-kata kasar dan seruan memboikot film tersebut. [Suara.com]
Potongan gambar media sosial Malaysia yang memplesetkan Jumbo menjadi kata-kata kasar dan seruan memboikot film tersebut. [Suara.com]

2. Perbedaan Genre yang Sangat Jomplang

Salah satu ironi terbesar dari persaingan ini adalah kedua film datang dari genre yang sama sekali berbeda.

Blood Brothers: Bara Naga adalah film aksi kriminal yang penuh dengan adegan laga dan ketegangan.

Film ini menyasar penonton dewasa yang menyukai cerita-cerita gangster dan polisi.

Di sisi lain, Jumbo adalah film animasi keluarga yang menyentuh hati.

Dengan karakter yang menggemaskan dan cerita yang penuh nilai persahabatan.

Film ini menyasar segmen penonton yang jauh lebih luas, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

3. Buntut Kegagalan: Boikot dan Hinaan "Jubo"

Alih-alih introspeksi, kegagalan Blood Brothers disambut dengan reaksi defensif dari sebagian netizen Malaysia.

Muncul tudingan bahwa pasar Indonesia tidak adil dan sengaja "memblokir" film Malaysia.

Kekecewaan ini memuncak pada seruan untuk memboikot film Jumbo.

"Eh sebagian netizen Malaysia malah ngajak boikot Jumbo, yang bener aja Pak Cik!" sindir narasi dalam sebuah video.

Lebih parah lagi, media Malaysia BuzzPop TV sengaja memplesetkan judul Jumbo menjadi "Jubo", sebuah kata yang sangat kasar dalam bahasa Melayu.

Penghinaan ini jelas menunjukkan adanya rasa iri yang mendalam atas keberhasilan karya anak bangsa Indonesia.

Kolase - Foto poster Film Jumbo (kiri) dan potongan gambar media sosial Malaysia yang memplesetkan Jumbo menjadi kata-kata kasar. [Suara.com]
Kolase - Foto poster Film Jumbo (kiri) dan potongan gambar media sosial Malaysia yang memplesetkan Jumbo menjadi kata-kata kasar. [Suara.com]

4. Kualitas Diakui Sineas Malaysia Sendiri

Menariknya, di tengah panasnya sentimen netizen, para sineas profesional Malaysia justru memberikan pandangan yang lebih jujur dan objektif.

Sutradara Syafiq Yusof, yang film-filmnya juga sulit menembus Indonesia, mengakui keunggulan kualitas film aksi dari Tanah Air.

"Sejujur-jujurnya, karena film aksi Indonesia itu sudah tinggi sangat kualitasnya. Jadi kita orang, pembikin filem Malaysia, harus berusaha untuk bikin sebaik mungkin," ujarnya.

Ia bahkan menyebut film aksi Indonesia adalah salah satu yang terbaik di dunia.

5. Skala Industri dan Pasar yang Tak Sebanding

Fakta yang tak terbantahkan adalah perbedaan skala industri kedua negara.

Indonesia, dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, memiliki pasar domestik yang masif.

Setiap tahun, Indonesia memproduksi lebih dari 150 film.

Sementara Malaysia, dengan populasi sekitar 33 juta, hanya memproduksi sekitar 50-60 film per tahun.

"Industrinya sebenarnya kecil," aku Syafiq Yusof.

Perbedaan fundamental ini jelas memengaruhi investasi, kualitas produksi, dan daya saing.

6. Strategi "Perang" yang Belum Siap

Produser senior Malaysia, Erma Fatima, memberikan analogi yang tepat.

"Apabila kita nak berperang, kita kena siapkan senjata yang komplet lah, yang cukup mantap, untuk kita masuk berperang," katanya.

Pernyataan ini seolah mengonfirmasi bahwa industri film Malaysia mungkin belum memiliki "senjata" yang cukup, baik dari segi kualitas, strategi promosi, maupun narasi yang relevan secara regional, untuk bisa "berperang" di pasar sebesar Indonesia.

7. Film Indonesia Sudah Lama Mendominasi di Malaysia

Seruan boikot terasa aneh karena selama ini penonton Malaysia sangat menerima film-film Indonesia.

Film horor seperti KKN di Desa Penari sukses besar dengan meraih 1 juta penonton di Malaysia.

Judul lain seperti Dilan 1990, Siksa Kubur, hingga serial Netflix Gadis Kretek juga sangat populer dan menjadi trending.

Ini membuktikan bahwa pasar Malaysia sangat terbuka, asalkan produk yang ditawarkan memiliki kualitas dan cerita yang mampu memikat hati.

 
 
 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Malaysia Iri, Plesetkan Film Jumbo Jadi 'Jubo' Artinya...

Malaysia Iri, Plesetkan Film Jumbo Jadi 'Jubo' Artinya...

Entertainment | Rabu, 16 Juli 2025 | 14:08 WIB

Filmnya Gagal Total, Malaysia Serukan Boikot Jumbo dan Semua Film Indonesia

Filmnya Gagal Total, Malaysia Serukan Boikot Jumbo dan Semua Film Indonesia

Entertainment | Rabu, 16 Juli 2025 | 13:54 WIB

Realme 15 5G Segera Debut: Usung Baterai Jumbo 7.000 mAh dan Bodi 7,66 mm

Realme 15 5G Segera Debut: Usung Baterai Jumbo 7.000 mAh dan Bodi 7,66 mm

Tekno | Rabu, 16 Juli 2025 | 12:26 WIB

5 Rekomendasi HP Murah Rp 2 Jutaan Baterai Jumbo Minimal 6.000 mAh Pilihan Terbaik Juli 2025

5 Rekomendasi HP Murah Rp 2 Jutaan Baterai Jumbo Minimal 6.000 mAh Pilihan Terbaik Juli 2025

Tekno | Rabu, 16 Juli 2025 | 11:34 WIB

4 Rekomendasi HP Murah Rp 1 Jutaan Baterai Jumbo 6.000 mAh Terbaru Juli 2025

4 Rekomendasi HP Murah Rp 1 Jutaan Baterai Jumbo 6.000 mAh Terbaru Juli 2025

Tekno | Rabu, 16 Juli 2025 | 10:53 WIB

HP dengan Baterai Jumbo Lebih dari 7.000 mAh Bakal Familiar, Ini Tandanya

HP dengan Baterai Jumbo Lebih dari 7.000 mAh Bakal Familiar, Ini Tandanya

Tekno | Selasa, 15 Juli 2025 | 16:49 WIB

Segera Rilis, Realme 15 Pro Dibekali Baterai Jumbo 7.000mAh dan Layar 6.500 Nits

Segera Rilis, Realme 15 Pro Dibekali Baterai Jumbo 7.000mAh dan Layar 6.500 Nits

Tekno | Senin, 14 Juli 2025 | 10:51 WIB

Harga dan Spesifikasi OPPO A5i: HP Murah 1 Jutaan dengan Snapdragon dan Baterai Jumbo

Harga dan Spesifikasi OPPO A5i: HP Murah 1 Jutaan dengan Snapdragon dan Baterai Jumbo

Tekno | Sabtu, 12 Juli 2025 | 20:56 WIB

Terkini

Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan

Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:29 WIB

Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru

Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:22 WIB

Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?

Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:17 WIB

Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper

Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:11 WIB

Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi

Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi

Jabar | Selasa, 21 Juli 2026 | 23:04 WIB

Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget

Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget

Banten | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:52 WIB

Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan

Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan

Banten | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:47 WIB

Langkah Kecil yang Diam-Diam Bisa Membuat Perempuan Lebih Percaya Diri

Langkah Kecil yang Diam-Diam Bisa Membuat Perempuan Lebih Percaya Diri

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:45 WIB

JPMorgan Optimistis Kepada BBRI, Saham Dinilai Masih Murah

JPMorgan Optimistis Kepada BBRI, Saham Dinilai Masih Murah

Banten | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:45 WIB

Fakta Lain Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi: Dua Lembaga Negara Italia Boikot

Fakta Lain Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi: Dua Lembaga Negara Italia Boikot

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 22:42 WIB

×