Suara.com - Musisi Rayen Pono melontarkan kritik pedas terhadap pernyataan Ahmad Dhani yang mengizinkan lagu-lagunya diputar di kafe atau restoran tanpa perlu membayar royalti.
Kritik tersebut disampaikan oleh eks personel Pasto melalui serangkaian unggahan di akun Instagram pribadinya pada Kamis, 7 Agustus 2025.
Pangkal persoalan ini adalah kebijakan Ahmad Dhani yang membebaskan pemutaran karyanya di rumah makan, sebuah langkah yang memicu polemik di tengah carut marutnya isu royalti musik.
Menanggapi hal tersebut, Rayen Pono secara tegas menyatakan bahwa konsep yang ditawarkan oleh Dhani adalah sebuah kekeliruan besar.
![Rayen Pono sindir Ahmad Dhani? [Suara.com/Adiyoga Priyambodo]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/06/05/11930-rayen-pono-sindir-ahmad-dhani.jpg)
"Loh, nggak gini konsepnya teman-teman. Semua jadi salah kaprah," tulis Rayen dalam unggahan Instagram Story-nya.
Bahkan, dalam unggahan yang sama, penyanyi berusia 43 tahun itu melontarkan kalimat sarkastis yang ditujukan kepada pentolan Dewa 19 tersebut.
"Ini tuyul tua memang nggak ngerti apa-apa," lanjutnya.
Lebih jauh, Rayen tidak hanya berhenti pada kritik personal, tetapi juga menguraikan pandangannya mengenai akar permasalahan yang lebih sistemis.
Menurutnya, polemik royalti yang tak kunjung usai ini merupakan cerminan dari lemahnya sosialisasi kepada para pemilik usaha.
"Selama masih ada kesalahpahaman dan ketidaktaatan bayar royalti dari pemilik usaha, berarti masih ada kelemahan dalam sosialisasi," tulis Rayen dalam unggahan lain.
Rayen menilai bahwa selama ini belum pernah ada upaya edukasi yang masif dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan besar.
"Belum pernah dilakukan sosialisasi yang masif, menyenangkan dan melibatkan semua stake holder besar dan memanfaatkan infrastruktur-infrastruktur yang besar," keluhnya.
Ia lantas membandingkan kondisi ini dengan kampanye layanan masyarakat yang berhasil di masa lalu, seperti ajakan taat membayar pajak.
"Masih ingat kan iklan himbauan masyarakat di TV mengenai taat bayar pajak dan himbauan KB?" tanya Rayen.
Baginya, sosialisasi royalti yang efektif hanya dapat terwujud jika ada campur tangan langsung dari pemerintah.
"Hal begitu baru bisa terjadi jika? NEGARA HADIR!" serunya.
Rayen menegaskan bahwa tanpa kehadiran negara yang memanfaatkan seluruh sumber dayanya, industri tata kelola musik di Indonesia tidak akan mengalami kemajuan.
"Selama negara belum hadir dan ikut memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki, industri tata kelola musik kita akan gini-gini aja," cibirnya.
![Ahmad Dhani merasa bukan orangtua yang otoriter. [Instagram/@dhaniperwakilanrakyat]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/07/16/81682-ahmad-dhani.jpg)
Rayen juga menyoroti keterbatasan yang dimiliki oleh Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) saat ini.
Ia secara terbuka mengakui bahwa LMKN tidak memiliki modal yang cukup untuk menjalankan sosialisasi berskala besar.
"Kita harus mengakui kalau LMKN nggak punya kemampuan kapital, dan untuk providing kapital itu cuma bisa dilakukan dengan KEKUASAAN," tandasnya.