"Gw curiga petinjunya itu waria," komentar akun @ArbiYusu***.
"Implannya bisa pindah gak ya kalo kena tendang atau tonjok," sahut akun @calonjenazaa***.
"Gw ngeri tuh ditonjok terus implannya pecah," kata akun @bololam***.
"Gak yakin mereka wanita," balas akun @meow_lead***.
"Menurut kawan yang warga sana kebanyakan yang ikutan itu lady boy," timpal akun @fatimahwe***.
Sebelum di Thailand, bikini boxing ternyata sudah menjadi tren di Amerika dan Tiongkok sebagai hiburan.
Pertandingan bikini boxing terungkap rutin digelar di Ralston Arena, Amerika Serikat sejak April 2016 hingga sekarang.
Peserta akan mendapatkan USD 300 atau sekitar Rp4,9 juta untuk berpartisipasi dalam bikini boxing yang digelar selama 3 ronde masing-masing 2 menit.
Sementara di Tiongkok, tepatnya di Taiyuan, Provinsi Shanxi, Tiongkok Utara, bikini boxing pernah jadi sorotan di tahun 2015.
Bikini boxing digelar di sebuah bar sebagai hiburan untuk orang-orang yang stres di tengah gaya hidup serba cepat, mengutip people.cn.
Peserta bikini boxing di Tiongkok kala itu bukan seorang atlet, melainkan model.
Kendati lazim di negara barat, maupun Asia Timur, bikini boxing masih terdengar asing di Asia Tenggara yang menjunjung kesopanan.
Namun dari berbagai negara di Asia Tenggara, Thailand bisa dibilang paling bebas sehingga menarik perhatian banyak turis.
Salah satunya ganja yang diperbolehkan di Thailand, tetapi dilarang di Indonesia.
Anutin Charnvirakul, Menteri Kesehatan yang melegalkan ganja di Thailand, berpendapat legalisasi ganja menjadi harapan untuk orang miskin.
Petani bisa menanam dan menjual ganja, serta digunakan untuk pengobatan yang lebih murah ketimbang obat kimia.
Thailand juga memfasilitas operasi pengantian gender yang menjadi alasan banyak lady boy di sana.
Sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Indonesia tidak melegalkan ganja maupun operasi kelamin.
Sementara mayoritas masyarakat Thailand beragama Buddha sehingga punya pemikiran berbeda.
Oleh sebab itu, bikini boxing bukan sebuah hal baru dan menghebohkan di Thailand, beda dengan di Indonesia. Bagaimana pendapatmu?
Kontributor : Neressa Prahastiwi