- Adrian Maulan sempat gagal nyaleg pada 2009, tetapi dia tak kapok.
- Adrian mengaku sampai harus menjual mobil untuk ongkos menjadi caleg.
- Menurut Adrian, banyak "ilmu silat" yang harus dikuasai untuk mendapat kursi di Gedung DPR.
- Adrian Maulana mengingatkan apabila politik sarat akan kepentingan dan kekuasaan.
- Adrian Maulan tak setuju artis yang jadi anggota dewan masih ambil pekerjaan di entertaint, karena baginya, wakil rakyat bukan pekerjaan sambilan.
Suara.com - Adrian Maulana belakangan ini jadi viral, lantaran konten naik KRL untuk menuju tempat kerjanya.
Saat berbincang-bincang dengan Melaney Ricardo, Adrian Maulana lantas ditanya soal kemungkinan masuk politik dengan citranya tersebut.
Adrian Maulana ternyata pernah menjajal dunia politik tahun 2008, tetapi belum terpilih menjadi anggota dewan.
"Politik tidak sesederhana apa yang kita bayangkan," ujar Adrian Maulana dalam konten yang dibagikan YouTube Melaney Ricardo pada Senin, 8 September 2025.
"Kalau dulu kita pikir asal kita rajin, kita kerja keras, mau belajar, berusaha, mau terjun, kita pasti berhasil. Ternyata tidak serta merta ditunjukkan dengan duduknya seseorang di dewan," imbuhnya.
Menurut Adrian Maulana, banyak "ilmu silat" yang harus dikuasai untuk mendapat kursi di Gedung DPR RI.
Berdasarkan jejak digital, Adrian Maulana tercatat menjad caleg DPR RI dapil Sumatera Barat I pada Pemilu 2009 dari PAN.
Dalam usahanya mendapatkan kursi dewan kala itu, presenter 47 tahun ini mengaku sampai kehilangan rumah dan mobil.
"Tapi saya enggak nyesel. Uang bisa dicari, pengalaman belum tentu terulang kembali," kata Adrian Maulana dengan bijak.
Pengalaman Adrian Maulana menjadi caleg membuatnya mampu menghadapi situasi politik saat ini dengan kepala dingin.
Melalui bincang-bincang tersebut, Adrian Maulana mengingatkan apabila politik sarat akan kepentingan dan kekuasaan.

"Yang disayangkan kalau kita mengesampingkan etika-etika dalam berpolitik dan menghalalkan segala cara," tutur Adrian Maulana.
Meski gagal di Pemilu 2009, bukan berarti Adrian Maulana tidak berminat kembali ke dunia politik.
Ditambah lagi pada Pemilu 2024 lalu, banyak caleg dari kalangan artis yang berhasil terpilih.
Hanya saja Adrian Maulana sadar diri bahwa kemampuannya belum cukup untuk menjadi seorang wakil rakyat.
"Selama politik di kita masih mengharuskan kita membeli suara rakyat, di situlah kita masih melakukan proses transaksi," imbuh Adrian Maulana.
"Gue udah habis sekian sehingga pada saat bekerja, gue harus dapet berapa supaya mengembalikan kemarin sama mempersiapkan perode berikutnya. Akhirnya mengotori ketulusannya kita," katanya menyambung.
Oleh sebab itu, Adrian Maulana berharap para wakil rakyat memiliki kematangan sikap sekaligus finansial sehingga bisa fokus bekerja.
Adrian Maulana rupanya tidak setuju apabila artis yang menjadi anggota DPR tetap bekerja di dunia hiburan Tanah Air alias double job.
"Misalnya seseorang latar belakangnya artis, dia juga wakil rakyat. Tapi gue juga ngartis deh, gue masih bawain acara di TV," sentil Adrian Maulana.
"Jadi wakil rakyat itu bukan pekerjaan sambilan. Berat banget tanggung jawabnya, dunia dan akhirat," ucapnya.
Selain itu, Adrian Maulana mengingatkan para wakil rakyat untuk tidak selalu minta dimengerti orang lain.
"'Kan gua artis. Misalnya gue ngonten, ngebodor, meski di tengah-tengah tempat yang sakral, lu harus ngerti dong.' Please jangan lakukan itu," tutur Adrian Maulana.
Kendati Adrian Maulana dan Melaney Ricardo tidak menyebutkan nama, bukan rahasia lagi apabila Eko Patrio dan Uya Kuya mungkin yang mereka bicarakan.
Eko Patrio dan Uya Kuya baru-baru ini dinonaktifkan sebagai anggota DPR RI dari PAN setelah videonya berjoget di ruang sidang jadi viral.
Sebagai informasi, Adrian Maulana mengawali kariernya di dunia hiburan Tanah Air dengan menjadi Abang None Jakarta pada 1998.
Adrian Maulana kemudian berkarier sebagai aktor, model, dan pembawa berita.
Namun belakangan ini Adrian Maulana mundur dari dunia hiburan untuk fokus menggeluti dunia keuangan.
Adrian Maulana memiliki izin sebagai Wakil Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan serta gelar perencana keuangan dari IARFC (International Association Registered Financial Consultans).
Kontributor : Neressa Prahastiwi