- Dokter Tirta geram karena ucapan pejabat baru justru memicu kegaduhan, bukan meredam situasi.
- Dia menyarankan pejabat lebih baik diam jika belum punya tim PR yang kompeten.
- Ia mendorong pejabat untuk rekrut tim profesional agar komunikasi lebih terarah dan tidak menimbulkan kontroversi.
Suara.com - Dokter Tirta rupanya ikut geram dengan gaya bicara pejabat publik yang baru dilantik. Bukannya membuat adem suasana, ia malah membuat warga gaduh dengan ucapannya.
Maka dari itu, Dokter Tirta memberikan "kuliah" singkat mengenai pentingnya komunikasi publik bagi para pemangku kebijakan. Terutama di tengah momen reshuffle kabinet.
Menurutnya, jika seorang pejabat belum memiliki tim kehumasan atau PR yang mumpuni, langkah paling aman adalah menahan diri untuk tidak banyak berkomentar.
"Tolong, tolong banget nih, kalau memang belum memiliki tim PR atau tim media khusus, semisal ditanya orang-orang, daripada menimbulkan opini yang bisa membuat kegaduhan, mending diam saja," ujar Dokter Tirta pada unggahannya, Selasa, 9 Agustus 2025.
Untuk mendukung sarannya, ia bahkan memberikan contoh kalimat elegan yang bisa digunakan pejabat saat belum siap memberikan pernyataan resmi kepada media.
"Ya, eeee terima kasih bapak-bapak dan ibu-ibu semua. Saya belum bisa memberikan jawaban apapun ya," kata Dokter Tirta memberikan contoh.
"Jika diberikan amanah, insya Allah saya akan menjaga amanah ini dengan baik. Nanti dalam waktu dekat, kita akan mengeluarkan press release resmi," sambungnya lagi.
Pengusaha cuci sepatu ini menegaskan bahwa status sebagai pejabat publik membuat setiap gerak-gerik dan ucapan mereka selalu berada di bawah pengawasan ketat masyarakat.
"Namanya pejabat publik itu setiap tindak tanduknya dan tindakannya akan di-follow oleh publik," tegasnya.
Hal ini, kata dia, sangat berbeda dengan warga biasa yang pendapatnya cenderung tidak mendapat perhatian luas, kecuali mereka memiliki pengaruh besar sebagai kreator konten atau influencer.
Sebagai solusi jangka panjang, Dokter Tirta menyarankan agar para pejabat publik berinvestasi dengan merekrut tim profesional untuk mengelola komunikasi mereka.
Langkah ini dinilai penting untuk menekan risiko timbulnya kontroversi.
"Tolong hire tim yang proper di bidang public relation atau di bidang strategic decision making gitu lho," pungkasnya.