-
Pak Tarno pernah menjadi korban penipuan senilai Rp 100 juta pada tahun 2012 saat berada di puncak kariernya.
-
Uang tersebut rencananya digunakan untuk membeli mobil keluarga, namun mobil yang dijanjikan tak pernah ada.
-
Kasus ini kembali diungkit karena kondisi kesehatan Pak Tarno yang menurun dan kebutuhan biaya pengobatan yang mendesak.
Suara.com - Siapa yang tak kenal dengan pesulap legendaris Pak Tarno dengan jargon khasnya, "Bim salabim jadi apa, prok prok prok!"?
Di balik citranya yang selalu ceria dan menghibur, tersimpan sebuah kisah pilu yang baru-baru ini kembali terangkat ke permukaan.
Sebuah kasus penipuan senilai Rp 100 juta yang terjadi lebih dari satu dekade lalu kini diungkit kembali karena kondisi kesehatan sang pesulap yang kian menurun.
Seperti apa kasusnya? Berikut adalah 5 fakta penting di balik perjuangan Pak Tarno mencari keadilan di masa tuanya.
1. Ditipu Rp 100 Juta Saat Berada di Puncak Popularitas
Peristiwa nahas ini terjadi pada tahun 2012, sebuah masa keemasan bagi karier Pak Tarno.
Saat namanya melambung tinggi dan tawaran pekerjaan datang silih berganti, ia justru menjadi korban penipuan.
Uang hasil kerja kerasnya senilai Rp 100 juta, jumlah yang sangat besar pada waktu itu, raib dibawa kabur oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
2. Impian Membeli Mobil Keluarga yang Kandas
Uang ratusan juta tersebut bukanlah untuk foya-foya. Pak Tarno mengumpulkannya dengan satu mimpi sederhana, membeli sebuah mobil keluarga.
Menurut kuasa hukumnya, Hendro Widodo, uang tersebut diserahkan kepada terduga pelaku untuk membeli satu unit mobil Toyota Avanza. Namun, impian itu harus pupus.
"Menyerahkan Rp 100 juta untuk beli satu buah mobil, ternyata mobilnya gak pernah ada," terang Hendro.
3. Diungkit Kembali Karena Kondisi Kesehatan yang Menurun

Selama belasan tahun, kasus ini seolah tenggelam. Namun, kini tim kuasa hukumnya mengangkatnya kembali bukan tanpa alasan.
Kondisi kesehatan Pak Tarno dikabarkan menurun dan ia sangat membutuhkan dana untuk biaya pengobatan.
Dengan suara lirih dan raut wajah penuh harap, Pak Tarno mengungkapkan kebutuhannya.
"Aku perlu buat pengobatan, habis banyak," ujarnya saat ditemui di Jakarta Utara, Selasa (28/10/2025).
4. Upaya Pengembalian Dana yang Janggal
Bukannya tak ada upaya penyelesaian sama sekali. Menurut Hendro Widodo, sempat ada kabar bahwa dana akan dikembalikan sebesar Rp 5 juta melalui pengacara sebelumnya.
Namun, fakta yang diterima Pak Tarno jauh lebih pahit.
"Rp 5 juta, tapi yang diterima Pak Tarno Rp 1 juta, gitu Pak ya?" ungkap Hendro, mengonfirmasi bahwa dana yang kembali hanya sebagian kecil dan tidak sesuai janji.
5. Berharap Itikad Baik Pelaku di Tengah Kebutuhan Mendesak
Melihat kondisi kliennya, tim kuasa hukum yang baru kini mengambil langkah tegas namun tetap mengedepankan jalur kekeluargaan.
Mereka berharap ada itikad baik dari terduga pelaku untuk menyelesaikan masalah ini.
Tujuannya bukan hanya untuk mengembalikan hak Pak Tarno, tetapi yang lebih mendesak adalah untuk membantunya mendapatkan biaya berobat.
"Kita pengin menyelesaikan masalah, Pak Tarno juga bisa ada bantuan untuk berobat ya, Pak ya, sehari-harinya. Itu yang paling penting," tegas Hendro Widodo.
Penutup
![Pak Tarno saat ditemui Suara.com di kediaman sang pesulap di kawasan Warakas, Jakarta, Selasa (24/12/2024). [Suara.com/Adiyoga Priyambodo]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/12/25/39212-pak-tarno.jpg)
Kisah Pak Tarno adalah cermin ironi yang menyedihkan, seorang penghibur yang mendedikasikan hidupnya untuk menciptakan tawa, kini harus berjuang mendapatkan kembali haknya demi menyambung harapan di masa senja.
Perjuangan ini bukan lagi soal mobil impian yang tak pernah datang, melainkan soal harapan untuk bisa berobat dan menjalani masa tua dengan tenang.