- Film orisinal Netflix Indonesia ini menggunakan latar budaya desa, seperti acara sunatan, sebagai titik awal wabah zombie.
- Kimo menjelaskan bahwa zombie tertarik pada suara bising, direpresentasikan melalui adegan respons terhadap kumandang azan.
- Asal muasal wabah film ini diciptakan dari "Jamu Karnivor" ekstrem hasil perpaduan flora kantong semar dan fauna.
Suara.com - Film orisinal Netflix Indonesia, Abadi Nan Jaya, sukses mencuri perhatian penonton dan menjadi trending berkat pendekatan uniknya dalam mengangkat genre zombie dengan kearifan lokal yang kental.
Dalam acara Creative Asia yang digelar oleh Netflix di Hotel Tentrem Yogyakarta, Selasa (2/12/2025), sutradara Abadi Nan Jaya, Kimo Stamboel membeberkan berbagai fakta menarik di balik layar, mulai dari pemilihan latar cerita, filosofi di balik gerakan zombie, hingga penjelasan mengenai adegan ikonik saat zombie menyerbu masjid.
Konsep "Zombie Buta" di Tengah Budaya Lokal
Kimo Stamboel mengungkapkan bahwa daya tarik utama film ini terletak pada ketidaktahuan masyarakat Indonesia mengenai konsep mayat hidup atau zombie.
Hal inilah yang mendasari reaksi para karakter di dalam film yang terlihat bingung saat wabah mulai merebak.

"Saya sengaja mengambil ide cerita soal wabah zombie, karena menurut saya itu menarik. Apalagi di Indonesia ini gak mengenal zombie. Makanya semua pemain emang dibuat seolah belum paham apa itu zombie," ujar Kimo.
Untuk memperkuat nuansa lokal, Kimo memilih latar acara hajatan desa sebagai titik awal kekacauan.
"Sebelum kita mulai syuting, kita itu memang sudah menentukan dulu ceritanya mau gimana. Makanya kita buat cerita ada sunatan yang biasa banyak terjadi di desa dan itu menggambarkan (budaya) Indonesia banget. Terus, ketika ada acara sunatan kan pasti ramai orang jadi di situlah kita set wabah zombie terjadi," jelasnya.
Adegan Zombie Berlarian ke Masjid Saat Azan Berkumandang
Salah satu adegan yang paling ramai diperbincangkan adalah momen ketika karakter yang diperankan Ardit Erwandha mengira para zombie berlarian ke masjid karena ingin salat saat azan berkumandang. Namun, karakter Marthino Lio menyadari fakta mengerikan di baliknya.
Kimo menegaskan bahwa adegan tersebut dirancang bukan hanya sebagai elemen horor, melainkan cara cerdas untuk menjelaskan karakteristik zombie di film ini kepada penonton.
"Saat adegan itu sengaja dibikin, karena mereka karakternya kan lagi mempelajari wabah yang sedang terjadi dan mereka gak tahu kalau itu zombie. Makanya, dari adegan itu mereka baru tahu ternyata zombie tuh tertarik dengan suara bising," ungkap Kimo.
Ia menambahkan bahwa penggunaan suara azan adalah representasi suara bising yang paling wajar dan sering ditemui di pedesaan Indonesia.
"Jadi, kita itu berusaha mengemas pesan bahwa zombie itu tertarik dengan suara bising melalui cara yang asyik dan menggambarkan Indonesia banget. Nah, di Indonesia itu kan sering ada azan, di desa juga pasti ada azan. Makanya kita buat adegan ada orang azan, lalu dihampiri zombie dan akhirnya mati untuk menyampaikan pesan tersebut," tambahnya.
Teror Jamu "Karnivor"
Berbeda dengan film zombie barat yang sering kali disebabkan oleh virus laboratorium, Abadi Nan Jaya menghadirkan asal-usul wabah yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia, yakni jamu.
"Kita sengaja buat cerita awalannya dari jamu, itu karena kita berpikir kayaknya seru nih dari sebuah jamu uji coba atau belum lolos BPOM bisa menyebabkan wabah yang besar," kata Kimo.
Racikan jamu fiksi bernama "Jamu Abadi Nan Jaya" ini disebut Kimo sebagai "jamu karnivor", karena ramuan jamu tersebut merupakan perpaduan ekstrem antara flora dan fauna.
"Jamu Abadi Nan Jaya ini cukup jadi perbincangan, ya karena ini disebutnya jamu karnivor pemakan daging yang merupakan perpaduan dari tumbuhan kantong semar dan hewan (anjing)," paparnya.
Estetika dan Koreografi Zombie
Detail visual dan pergerakan zombie dalam film ini juga digarap dengan sangat serius. Kimo menyebut bahwa tekstur kulit para zombie terinspirasi langsung dari bahan baku jamu itu sendiri, yakni tanaman kantong semar.
"Kantong semar itu kalau kita lihat dalam satu kesatuan itu terlihat ada bolong-bolongnya. Lalu ketika dibuka, itu kelihatan ada uratnya. Makanya itu jadi inspirasi untuk make up zombie-nya," ujar Kimo.
Tak hanya tampilan, pergerakan zombie juga dilatih secara khusus selama dua bulan sebelum syuting dimulai. Koreografer gerakan, Boby, menciptakan gaya bergerak yang didasari oleh logika biologis bahwa zombie tidak lagi memiliki fungsi otak yang normal.
"Boby menciptakan gerakan para zombie ini dengan acuan bahwa zombie itu kan udah gak ada otaknya atau gak berfungsi, jadi dia membuat gerakan yang unik untuk zombie seolah bergerak bebas karena otaknya gak fungsi lagi," pungkas Kimo.