Suara.com - Sebagai seseorang yang bukan beragama Kristen, saya penasaran bagaimana film bertema Yesus ini bisa langsung memicu badai kontroversi sebelum dirilis.
The Carpenter's Son memicu banyak keributan, mulai dari kecaman, teori konspirasi kecil-kecilan, sampai tudingan penghinaan iman yang bahkan muncul sebelum film dirilis.
Biasanya, semakin keras protesnya, semakin besar rasa ingin tahu saya. Sayangnya, setelah menontonnya, saya sadar satu hal, ributnya warganet jauh lebih dramatis daripada filmnya.
The Carpenter's Son bukan film yang akan memecah belah umat, apalagi merusak iman seseorang, paling-paling hanya merusak jadwal tidur karena ritmenya yang lambat.
Tetap saja, di balik semua itu, film ini menawarkan sesuatu yang menarik, yakni sebuah eksperimen berani yang mencoba membayangkan versi gelap masa kecil Yesus dari sumber apokrif, dan saya bisa bilang, itu sudah cukup membuatnya patut didiskusikan.
Masa Kecil Yesus yang Terlalu Suram

Sebagai penonton non-Kristen, saya datang tanpa beban teologis. Jadi ketika film ini menyajikan sosok Boy, Mother, dan Father tanpa nama-nama biblis, itu membuat saya bisa menonton dengan lebih santai.
Meski demikian, simbolismenya jelas, Boy adalah figur Yesus muda yang sedang mengalami fase pubertas supernatural.
Noah Jupe membawa karakter ini dengan ketegangan yang pas, seperti remaja yang bingung antara menyelamatkan dunia atau sekadar memahami kenapa tubuhnya tiba-tiba punya "kekuatan misterius" yang lumayan mematikan.
Nicolas Cage sebagai Father memberikan sentuhan dramatis, tegang, muram, dan sedikit eksentrik. Sementara FKA Twigs sebagai Mother tampil lembut namun tidak diberi porsi memadai.
Saya yang datang tanpa keterikatan emosional terhadap tokoh-tokoh biblis pun tetap bisa merasakan dinamika keluarga kecil ini sebagai drama psikologis yang menarik.
Drama Religius? Horor? Atau Eksperimen Apokrif?

Satu hal yang membuat saya sedikit mengernyit, film ini seolah tidak tahu apakah ia ingin menjadi horor penuh atau drama coming-of-age yang gelap.
Sebagai non-Kristen, saya tidak merasa terganggu oleh reinterpretasi religiusnya. Namun saya terganggu oleh pacing-nya yang seperti naik unta di gurun, stabil tapi lambat sekali.
Elemen horornya lebih atmosferik daripada eksplisit. Tak ada jump scare murahan, tak ada iblis yang melompat dari balik tembok.
Yang ada hanyalah suasana mencekam yang terus menggantung. Cantik secara visual, tetapi terkadang membuat mata saya melirik jam.
Namun, saya mengapresiasi keberanian film ini mengambil sumber dari Injil Thomas, teks yang memang tidak dianggap resmi.