- Film Sengkolo: Petaka Satu Suro adalah horor psikologis yang dijadwalkan tayang serentak di bioskop pada 22 Januari 2026.
- Mengangkat mitos Jawa tentang kesialan bertubi-tubi (Sengkolo) yang menimpa seorang bidan desa bernama Rahayu (Aulia Sarah).
- Aulia Sarah dan Agla Artalidia menghadapi tantangan berat mulai dari belajar motor manual, adegan kesurupan, hingga akting emosional yang intens.
"Begitu sudah Maghrib, jeng-jeng, berubah langsung sepi banget. Hening banget. Yang kita dengar cuman suara binatang dan angin pantai. Jadi kalau malam, suasananya lumayan mendukung, vibe horornya ada," cerita Agla.
Aulia Sarah pun menekankan bahwa film ini menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan proyek horor yang pernah ia bintangi sebelumnya.
Menurut aktris yang langganan berperan di film horor ini, Sengkolo: Petaka Satu Suro lebih menitikberatkan pada emosi dan drama yang intens.
"Kalau film sebelum-sebelumnya fokusnya lebih ke jumpscare dan ketegangan. Kalau di film ini, banyak banget main emosi dan dramanya. Menurutku ini lebih horor karena mainnya sudah ke psikologis," tegas Aulia.
Tantangan Fisik: Dari Motor Hingga Kesurupan
Di balik layar, kedua aktris ini menghadapi tantangan yang tak mudah. Salah satu yang paling membekas adalah keharusan mengendarai sepeda motor manual, kemampuan yang sama sekali tidak mereka miliki sebelumnya.
"Itu tantangan terbesar buat kita. Aku sama Agla enggak bisa bawa motor, jadi ada workshop khusus. Agla lebih berat lagi, karena dia harus diboncengin aku sambil berdialog," ujar Aulia sembari tertawa mengenang momen tersebut.
Selain teknis berkendara, pendalaman karakter juga menguras energi, terutama bagi Aulia yang harus melakoni adegan kesurupan.
Dia harus menjaga transisi yang halus antara kesadaran Rahayu dan momen saat tubuhnya dikuasai entitas lain.
Baca Juga: Rilis 15 Januari, Film Penunggu Rumah: Buto Ijo, Adaptasi Timun Mas Lebih Gila dan Seram
"Pas Rahayu kesurupan, sebenarnya enggak full 100 persen dia enggak sadar. Itu challenging banget, menjaga karakternya jangan sampai lepas. Terus transisi kembali menjadi manusia normal itu tanda-tandanya seperti apa, itu yang mesti diingat terus," jelas Aulia.
Tantangan kian bertambah dengan gaya penyutradaraan Deni Saputra yang gemar melakukan improvisasi di lokasi syuting.
Meski sempat membuat para pemain kaget karena tidak ada di naskah, improvisasi tersebut diakui justru memperkaya adegan.
"Pak Deni suka banget improve di lokasi. Kadang kita syok, 'Hah? Belum siap nih'. Tapi pas dijalani, ternyata malah melengkapi dan bikin adegannya lebih bagus," kata Agla.
Terlepas dari elemen mistisnya, Sengkolo: Petaka Satu Suro menyisipkan pesan mendalam tentang kekuatan perempuan dalam menghadapi trauma dan tekanan hidup.
"Pesan moralnya, ternyata orang yang terlihat kuat di luarnya, belum tentu sepenuhnya dia benar-benar kuat. Bisa saja di dalamnya dia sebenarnya hancur banget," renung Aulia.