Suara.com - Ada film yang kita tonton untuk hiburan, ada juga film yang membuat kita diam lama setelah kredit penutup berjalan. I Was a Stranger termasuk jenis yang kedua.
Meski film ini diproduksi pada 2024, gaungnya baru terasa luas setelah rilis global Januari 2026 dan resmi tayang di Indonesia pada 4 Februari 2026.
Saya menontonnya tanpa ekspektasi berlebihan, tapi justru keluar dengan perasaan berat, hangat, dan penuh renungan.
Film ini tidak terasa seperti tontonan biasa. Sejak menit-menit awal, saya merasa seolah diajak masuk ke dalam hidup orang-orang asing yang sedang berada di titik terlemah mereka.
Bukan dengan cara memaksa, tapi perlahan dan jujur, serta mengguncang perasaan.
Cerita yang Langsung Menghantam Emosi

I Was a Stranger tidak bertele-tele. Film ini langsung membawa kita ke konflik masing-masing karakter.
Seorang dokter Suriah yang harus melarikan diri dari Aleppo bersama putrinya. Mereka lantas bertemu dengan seorang tentara yang bergulat dengan hati nuraninya.
Ada pula seorang penyelundup yang ingin menyelamatkan anaknya, seorang penyair yang kehilangan rumah, dan seorang kapten penjaga pantai Yunani yang terjebak antara aturan dan rasa kemanusiaan.
Baca Juga: Padahal Berlatar Myanmar, Syuting Film Extraction: Tygo di Jakarta Bikin Macet dan UMKM Rugi
Yang saya suka, film ini tidak memberi pengantar panjang atau penjelasan berlebihan.
Kita bertemu para karakter di tengah masalah mereka, lalu sedikit demi sedikit latar belakangnya dibuka.
Awalnya mungkin kita merasa biasa saja, bahkan tidak peduli. Tapi perlahan, rasa itu berubah.
Tanpa sadar, saya mulai berharap mereka selamat, seolah-olah saya mengenal mereka secara pribadi.
Penyutradaraan dan Alur yang Sangat Terasa Hidup

Salah satu kekuatan terbesar film ini ada pada cara ceritanya disusun. Potongan adegannya terasa tepat, tidak berisik, dan tahu kapan harus memberi ruang bagi emosi.
Brandt Andersen membuat setiap peralihan cerita punya makna, bukan sekadar pindah sudut pandang.
Saya terkesan karena film ini tidak meminta belas kasihan penonton. Tidak ada manipulasi emosi dengan musik berlebihan atau dialog dramatis yang dipaksakan.
Semua terasa alami. Kamera sering berada dekat dengan wajah karakter, membuat kita melihat ketakutan, kelelahan, dan harapan mereka dengan jelas.
Rasanya bukan seperti menonton film, tapi seperti menyaksikan hidup seseorang dari jarak sangat dekat.
Tidak Memihak, Tapi Sangat Manusiawi

Hal lain yang membuat I Was a Stranger terasa penting adalah sikapnya yang tidak memilih sisi. Film ini tidak sibuk menyalahkan siapa pun atau menggurui penonton.
Hanya menunjukkan kenyataan, manusia berusaha bertahan hidup di tengah kekacauan yang sering kali mereka tidak ciptakan sendiri.
Ada karakter yang terlihat seperti penjahat, lalu perlahan kita melihat alasan di balik pilihan mereka.
Ada yang tampak sebagai pahlawan, tapi juga punya keraguan dan ketakutan.
Semua digambarkan abu-abu, seperti kehidupan nyata. Dan justru di situlah letak kejujurannya.
Akhir yang Membuat Judulnya Terasa Nyata

Saat film ini berakhir, saya akhirnya benar-benar memahami makna judul I Was a Stranger.
Menjadi orang asing bukan hanya soal berpindah negara atau kehilangan rumah. Kadang, kita bisa merasa asing di dunia sendiri, di situasi yang tidak kita pilih.
Film ini meninggalkan kesan kuat karena mengingatkan bahwa di balik berita, angka, dan label, selalu ada manusia.
Manusia yang ingin melindungi orang yang mereka cintai, ingin bertahan hidup, dan ingin diakui keberadaannya.
Bagi saya, I Was a Stranger bukan film yang mudah ditonton, tapi film yang perlu ditonton. Tidak menawarkan jawaban sederhana, hanya kejujuran.
Dan mungkin itu yang membuatnya terasa begitu dekat dan relevan, karena pada satu titik dalam hidup, kita semua pernah menjadi orang asing.
Jika I Was a Stranger masih tayang di bioskop terdekat Anda, luangkan waktu untuk nonton film ini.
Kontributor : Chusnul Chotimah