3. Nasib Pendidikan Anak

Dampak dari kemiskinan tersebut merembet pada masa depan anak-anak Norida.
Dilaporkan bahwa putra-putrinya tidak dapat melanjutkan sekolah karena ketiadaan biaya.
Situasi ini diperumit dengan status kewarganegaraan mereka yang berbeda, putrinya, Nur Fateen Akmadiana, memegang paspor Malaysia karena lahir di sana, sementara putranya, Muhamad Sabani Daniel, lahir di Indonesia dan berstatus WNI.
Ketidakjelasan masa depan pendidikan anak-anak inilah yang akhirnya memicu laporan dari keluarga Norida di Kampung Bukit Sapi, Lenggong, kepada pemerintah.
4. Operasi Repatriasi Lintas Negara

Proses pemulangan Norida bukanlah perkara mudah karena melibatkan koordinasi lintas negara.
Kerja sama dilakukan secara intensif antara Wisma Putra (Kementerian Luar Negeri), Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta, Departemen Imigrasi Malaysia, hingga otoritas imigrasi di Indonesia.
Tim khusus bahkan dikirim langsung ke Lombok untuk menjemput dan memastikan Norida beserta anak-anaknya bisa melewati prosedur imigrasi dengan selamat.
5. Pulang ke Malaysia

Tepat pada Februari 2026, Norida akhirnya berhasil menginjakkan kaki kembali di Malaysia.
Kini, Norida memiliki kesempatan untuk menata kembali hidupnya di bawah perlindungan keluarga besar dan dukungan pemerintah setempat.
Kisah Norida disorot sebagai bukti nyata kehadiran negara dalam melindungi warganya yang mengalami kesulitan di luar negeri.
Bagaimana menurutmu?
Kontributor : Safitri Yulikhah