Suara.com - Insiden debat panas yang melibatkan Abu Janda dalam program "Rakyat Bersuara" di iNews TV memicu sorotan publik terhadap latar belakang pendidikannya.
Peristiwa itu terjadi pada Selasa malam, 10 Maret 2026, ketika diskusi geopolitik berubah memanas dan berujung pengusiran dari studio.
Abu Janda terlibat perdebatan sengit dengan pakar hukum tata negara Feri Amsari serta mantan Duta Besar Indonesia, Ikrar Nusa Bhakti.
Ketegangan meningkat setelah dia beberapa kali memotong pembicaraan narasumber lain dan melontarkan kata-kata kasar dalam forum diskusi publik.
Moderator Aiman Witjaksono akhirnya meminta Abu Janda meninggalkan studio karena dianggap melanggar etika debat dalam acara tersebut.
Potongan video kejadian itu kemudian viral di media sosial dan memicu beragam komentar dari warganet.
Di tengah polemik tersebut, banyak pengguna media sosial mulai menyoroti perbandingan latar belakang pendidikan para narasumber dalam forum debat itu.
Feri Amsari diketahui memiliki latar belakang akademik kuat di bidang hukum tata negara dengan pendidikan formal yang panjang.
Dia meraih gelar Sarjana Hukum dari Fakultas Hukum Universitas Andalas pada tahun 2004.
Empat tahun kemudian, Feri kembali menamatkan pendidikan Magister Hukum di universitas yang sama dengan predikat cum laude.
Dia juga melanjutkan studi internasional dan meraih gelar Master of Laws dari William and Mary Law School di Virginia, Amerika Serikat.
Selain pendidikan tinggi tersebut, Feri Amsari telah lama berkarier sebagai dosen tetap di Fakultas Hukum Universitas Andalas sejak 2004.
Dia juga pernah menjabat sebagai Direktur Pusat Studi Konstitusi Universitas Andalas selama periode 2017 hingga 2023.
Sementara itu, Ikrar Nusa Bhakti dikenal sebagai akademisi dan peneliti senior dengan latar belakang studi hubungan internasional.
Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia pada 1983.
Ikrar kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di Griffith University, Australia, pada bidang sejarah politik Asia modern.
Gelar doktor tersebut dia raih pada 1992 setelah menempuh studi di School of Modern Asian Studies.
Karier akademiknya berkembang di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia hingga mencapai posisi Profesor Riset di bidang politik.
Selain menjadi peneliti dan akademisi, Ikrar juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Tunisia periode 2017 hingga 2021.
Di sisi lain, Abu Janda yang memiliki nama asli Permadi Arya memiliki latar belakang pendidikan di bidang teknologi informasi dan bisnis.
Dia tercatat menyelesaikan pendidikan Diploma Ilmu Komputer di Informatics IT School, Singapura, pada April 1997.
Setelah itu, Abu Janda melanjutkan studi Sarjana Business and Finance di University of Wolverhampton, Inggris.
Program sarjana tersebut diselesaikan pada 1999 sebelum memulai karier profesional di sektor swasta.
Sebelum dikenal sebagai pegiat media sosial, Abu Janda pernah bekerja di beberapa sektor industri berbeda.
Pengalaman kerjanya meliputi perusahaan sekuritas, bank swasta, hingga industri tambang batu bara selama lebih dari satu dekade.
Dalam beberapa tahun terakhir, dia lebih dikenal sebagai aktivis media sosial yang aktif mengomentari isu politik dan sosial.
Meski pendidikan dan kariernya cukup mengesankan, Abu Janda sama sekali tidak memiliki latar belakang yang berkaitan dengan sejarah.
Publik pun mempertanyakan atas dasar apa dia berani mendebat dua tokoh yang lebih memahami tentang sejarah geopolitik ketimbang dirinya.
Kontributor : Chusnul Chotimah