4. Estetika Visual "Nyekruz" Khas Era 60-an

Film ini mengambil latar Surabaya tahun 1960-an sehingga tim artistik melakukan riset mendalam untuk menghidupkan kembali suasana Gang Krembangan pada masa itu.
Istilah "Nyekruz" sering digunakan kru untuk menggambarkan visual film ini, yaitu perpaduan warna-warna cerah dan segar yang dilihat dari sudut pandang rendah (POV anak kecil).
Tujuannya agar penonton dewasa merasa seperti masuk kembali ke memori masa kecil mereka yang penuh warna.
5. Pendekatan Voice Over yang Intim

Untuk memperkuat kesan slice-of-life, film ini menggunakan teknik Voice Over (VO) yang sangat dominan.
Suara batin Na Willa berfungsi sebagai jembatan bagi penonton untuk memahami logika berpikir anak berusia enam tahun.
Hal ini membuat film terasa seperti buku harian yang hidup, di mana penonton diajak menjadi teman bagi Willa.
Film Na Willa seolah jadi bukti bahwa proses produksi yang manusiawi dan menghargai ritme anak-anak mampu menghasilkan karya yang berkualitas tinggi.
Aturan bebas rokok dan jadwal tidur siang bukan hanya soal kesejahteraan pemain tapi juga bagaimana Ryan berusaha menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Kontributor : Safitri Yulikhah