- Film live-action "Na Willa" garapan Ryan Adriandhy diadaptasi dari novel Reda Gaudiamo dengan latar Surabaya tahun 1960-an.
- Meski diperankan Generasi Alpha, film ini tetap setia pada era 60-an untuk menjaga keajaiban pertumbuhan karakter dan interaksi sosial yang otentik.
- Menampilkan aktor cilik baru hingga bintang senior seperti Ira Wibowo, film ini dijadwalkan tayang pada momen Lebaran 2026.
Suara.com - Setelah sukses memukau publik lewat film animasi "Jumbo", Ryan Adriandhy kembali menggarap film bertema anak-anak.
Tapi kali ini, Ryan Adriandhy tidak membuat film animasi, melainkan live action berjudul Na Willa.
Film Na Willa diadaptasi dari novel populer karya Reda Gaudiamo. Film ini menyoroti kehidupan Na Willa, seorang anak perempuan di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya pada era 1960-an.
Menariknya, tim produksi memutuskan untuk tetap setia menggunakan latar waktu tahun 1960.
Padahal, para pemeran utamanya merupakan anak-anak dari Generasi Alpha yang sangat akrab dengan gawai dan teknologi canggih.
Produser dari Visinema, Anggia Kharisma, menjelaskan ini sebagai bentuk penghormatan terhadap karya tulis sang novelis aslinya.
"Kita ingin bersetia terhadap ceritanya," tegas Anggia Kharisma saat konferensi pers film Na Willa di Senayan, Jakarta Pusat pada Kamis, 12 Februari 2026.
Selain itu bagi Anggia Kharisma, kebahagiaan yang dialami karakter utama adalah sebuah hal yang bersifat universal bagi manusia. Sehingga, entah di era manapun, hal itu akan tetap sama.
"Problem keluarga ini juga nggak pernah berubah," lanjut Anggia Kharisma saat menjelaskan visi kreatif di balik layar film tersebut.
Ryan Adriandhy kemudian menggambarkan perbedaan semisal cerita diubah menjadi masa kini.
"Kalau di zaman sekarang, (sekolah) oh ya udah aku zoom aja gitu kan, sudah selesai gitu, nggak ada pertumbuhan karakternya," kata Ryan Adriandhy.
Ia menambahkan, "Nggak ada jalan-jalan emak ke pasar, beli online semuanya nggak seru gitu. Jadi itu kita pertahankan gitu."
Karena itu dari sisi bahasa pun, Ryan Adriandhy menekankan perbedaan dengan anak-anak masa kini.
"Kalau kalau dialognya terlalu modern itu akan mengacaukan semuanya, jadi itu kami kerjakan bersama di situ," jelasnya.
Beruntung untuk menggambarkan suasana Surabaya di era 60-an, Ryan Adriandhy mendapat foto-foto lawas dari Reda Gaudiamo.