Suara.com - Film Na Willa resmi menyapa penonton di bioskop seluruh Indonesia mulai hari ini, Rabu, 18 Maret 2026. Kehadiran film garapan sutradara Ryan Adriandhy ini pun langsung memicu keriuhan di media sosial dengan berbagai cerita unik dari proses produksinya.
Salah satu hal yang mencuri perhatian adalah diterapkannya aturan ketat di lokasi syuting, mulai dari larangan merokok bagi seluruh kru hingga adanya jadwal tidur siang khusus bagi para pemeran.
Aturan-aturan unik tersebut menjadikan proses produksi Na Willa terasa sangat berbeda jika dibandingkan dengan proyek layar lebar pada umumnya. Berikut adalah deretan fakta menarik mengenai apa yang terjadi di balik layar film Na Willa:
1. Area Bebas Rokok di Lokasi Syuting

Salah satu fakta paling menarik adalah komitmen kru untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Mengingat film ini berpusat pada dunia anak-anak, Ryan Adriandhy menerapkan aturan larangan merokok yang sangat ketat di seluruh area set.
Hal ini bukan hanya soal kesehatan fisik para pemeran cilik, tetapi juga untuk menjaga atmosfer kerja agar tetap segar dan ramah anak.
Para kru yang ingin merokok harus keluar jauh dari lokasi syuting, memastikan tidak ada bau asap yang mengganggu fokus maupun kenyamanan para aktor utama.
2. Jadwal Tidur Siang untuk Pemeran Utama

Berbeda dengan jadwal syuting film dewasa yang sering kali stripping hingga dini hari, produksi Na Willa sangat menghormati hak-hak anak.
Tim produksi menerapkan jadwal tidur siang wajib bagi Luisa Adreena (pemeran Na Willa) dan aktor anak lainnya.
Langkah ini diambil untuk menjaga mood dan energi anak-anak agar tetap stabil.
Dengan istirahat yang cukup, performa akting yang dihasilkan pun menjadi lebih natural dan emosi polos khas anak-anak tetap terjaga sepanjang hari tanpa merasa kelelahan yang berlebihan.
3. Proses Casting Aktor yang Bicara Lewat Mata

Proses pencarian pemeran Na Willa memakan waktu yang cukup lama.
Ryan Adriandhy mencari sosok yang tidak hanya pandai menghafal naskah, tetapi mampu menyampaikan rasa ingin tahu yang besar hanya lewat tatapan mata.
Luisa Adreena terpilih karena kemampuannya membangun chemistry yang instan dengan Irma Rihi (pemeran Mak) dan Junior Liem (pemeran Pak).
Kabarnya, saat audisi, Luisa menunjukkan kepolosan yang sangat mirip dengan karakter Na Willa di novel, sehingga tim produksi langsung merasa telah menemukan sosok yang tepat.
4. Estetika Visual "Nyekruz" Khas Era 60-an

Film ini mengambil latar Surabaya tahun 1960-an sehingga tim artistik melakukan riset mendalam untuk menghidupkan kembali suasana Gang Krembangan pada masa itu.
Istilah "Nyekruz" sering digunakan kru untuk menggambarkan visual film ini, yaitu perpaduan warna-warna cerah dan segar yang dilihat dari sudut pandang rendah (POV anak kecil).
Tujuannya agar penonton dewasa merasa seperti masuk kembali ke memori masa kecil mereka yang penuh warna.
5. Pendekatan Voice Over yang Intim

Untuk memperkuat kesan slice-of-life, film ini menggunakan teknik Voice Over (VO) yang sangat dominan.
Suara batin Na Willa berfungsi sebagai jembatan bagi penonton untuk memahami logika berpikir anak berusia enam tahun.
Hal ini membuat film terasa seperti buku harian yang hidup, di mana penonton diajak menjadi teman bagi Willa.
Film Na Willa seolah jadi bukti bahwa proses produksi yang manusiawi dan menghargai ritme anak-anak mampu menghasilkan karya yang berkualitas tinggi.
Aturan bebas rokok dan jadwal tidur siang bukan hanya soal kesejahteraan pemain tapi juga bagaimana Ryan berusaha menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
Kontributor : Safitri Yulikhah