- Dokumenter ini merupakan surat cinta untuk Hillel Slovak, gitaris pendiri RHCP, yang mengungkap peran krusialnya dalam membentuk identitas musik band.
- Film ini menggunakan teknologi AI dengan restu keluarga untuk menghidupkan kembali suara Hillel saat membacakan catatan harian pribadinya.
- Narasi film diperkuat oleh arsip langka dan wawancara eksklusif dengan sosok kunci seperti Flea, Anthony Kiedis, hingga legenda funk George Clinton.
Suara.com - Bagi jutaan penggemar musik di seluruh dunia, nama Red Hot Chili Peppers (RHCP) adalah sinonim dari energi panggung yang meledak-ledak, permainan bass yang ikonik, dan perpaduan jenius antara punk serta funk.
Namun, di balik kesuksesan global mereka yang telah bertahan selama empat dekade, terdapat sebuah kisah fundamental yang jarang tersentuh secara mendalam, yaitu kisah tentang persahabatan murni tiga remaja di Los Angeles yang mengubah peta musik dunia.
Kisah tersebut kini hadir secara eksklusif melalui layanan streaming Netflix Indonesia dalam sebuah film dokumenter bertajuk "The Rise of the Red Hot Chili Peppers: Our Brother, Hillel".
Film ini bukan sekadar biografi musik biasa. Dilansir dari Netflix, ini adalah sebuah surat cinta untuk mendiang Hillel Slovak, gitaris pertama sekaligus pendiri yang jiwanya tetap hidup dalam setiap dentuman nada RHCP hingga hari ini.
Disutradarai oleh Ben Feldman, yang sebelumnya dikenal lewat karya seperti Bug Out dan Rich & Shameless, dokumenter ini membawa penonton mundur ke akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an.
Penonton diajak menyusuri trotoar panas Los Angeles, tempat Flea (Michael Balzary) dan Anthony Kiedis pertama kali menemukan jati diri mereka melalui pemberontakan remaja dan musik.
Sudut pandang utama film ini adalah bagaimana Flea dan Anthony melihat sosok Hillel Slovak. Bagi mereka, Hillel bukan hanya rekan satu band, melainkan saudara yang memberikan keberanian, humor, dan inspirasi kreatif.
Dokumenter ini memotret dinamika mereka yang riuh, mulai dari aksi konyol di jalanan, petualangan mencari identitas, pertengkaran kecil yang memperkuat ikatan, hingga obsesi kolektif terhadap musik funk yang kemudian menjadi napas utama RHCP.
Salah satu elemen paling menarik dan mengharukan dalam Our Brother, Hillel adalah penggunaan catatan harian pribadi milik Hillel Slovak.
Sutradara Ben Feldman menemukan salinan jurnal tersebut dan merasa bahwa tulisan-tulisan jujur Hillel adalah kunci untuk menghidupkan kembali sosok sang gitaris di layar kaca.
"Karena ia begitu terbuka dan jujur dalam menulis buku hariannya, saya merasa yakin ada cara untuk membuatnya terasa 'hidup' dan hadir di dalam film ini," ujar Feldman.
Untuk memberikan pengalaman yang lebih imersif, tim produksi mengambil langkah berani dengan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Dengan restu dari keluarga besar Slovak, suara Hillel direkonstruksi secara digital untuk membacakan isi catatan hariannya sendiri.
Hal ini memberikan dimensi emosional yang luar biasa, seolah-olah penonton sedang mendengarkan Hillel bercerita langsung dari masa lalu tentang kegelisahan, harapan, dan kecintaannya pada seni.
Wawancara Eksklusif dengan Para Saksi Sejarah
Selain narasi dari jurnal Hillel, film ini diperkuat oleh cuplikan arsip yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya dan wawancara emosional dengan tokoh-tokoh kunci.