Penampilan Justin Bieber di panggung utama Coachella pada Sabtu, (11/4 2026), seharusnya menjadi momen kemenangan bagi bintang asal Kanada tersebut.
Sebagai penampil utama (headliner) dengan status bayaran tertinggi sepanjang sejarah festival ini, ekspektasi publik tentu berada di titik tertinggi.
Namun, alih-alih mendapatkan pujian menyeluruh, aksi panggung perdananya setelah vakum bertahun-tahun ini justru memicu gelombang kritik pedas dari netizen dan pengunjung festival.
Berikut beberapa hal yang diprediksi menjadi alasan mengapa penampilan Justin Bieber di Coachella 2026 tuai kritik tajam.
1. Konsep Panggung yang Terlalu Minimalis

Sebagai panggung festival musik paling bergengsi di dunia, penonton mengharapkan sebuah pertunjukan visual yang spektakuler dari seorang headliner.
Standar ini semakin dipertegas oleh penampilan Sabrina Carpenter sehari sebelumnya yang menyuguhkan properti teatrikal yang megah.
Sayangnya, Justin Bieber justru memilih pendekatan yang dianggap terlalu sederhana.
Panggungnya hanya berupa struktur lingkaran dengan lengkungan minimalis sebagai area berjalan.
Banyak pihak menilai desain ini menunjukkan kurangnya dedikasi kreatif, terutama mengingat statusnya sebagai artis dengan nilai kontrak termahal.
Kritik pun berkembang ke arah isu ketimpangan gender di industri musik, di mana musisi perempuan dituntut bekerja ekstra keras untuk visual panggung.
Sementara artis pria dianggap bisa tampil "seadanya" namun tetap mendapatkan bayaran fantastis.
2. Pemilihan Daftar Lagu Tidak Mengena di Hati Penonton Umum

Justin Bieber memutuskan untuk fokus membawakan lagu-lagu dari album terbarunya yang dirilis pada tahun 2025.
Bagi para penggemar fanatik, ini mungkin hal yang menarik, namun bagi penonton festival yang bersifat heterogen, strategi ini dianggap sebagai sebuah kesalahan.
Penonton mengharapkan ledakan nostalgia melalui lagu-lagu hits yang membesarkan namanya.
Meski ia sempat menyisipkan lagu-lagu legendaris seperti "Baby" atau "Never Say Never", Bieber hanya membawakannya dalam versi potongan atau medley.
Hal ini membuat banyak orang merasa "digantung" karena tidak bisa menikmati lagu tersebut secara utuh.
Ekspektasi yang sudah terbangun lewat rumor setlist lagu lawas pun akhirnya hancur, menyisakan kekosongan emosional bagi mereka yang datang demi bernostalgia.
3. Format Karaoke yang Dianggap Tidak Profesional

Salah satu poin kritikan paling tajam adalah keputusan teknis Bieber untuk memutar video dari YouTube dan melakukan sing-along atau bernyanyi mengikuti lagu latar tersebut.
Format ini dinilai sangat tidak layak untuk panggung sekelas Coachella.
Alih-alih menyuguhkan aransemen live yang matang dan imersif, Bieber justru terlihat seperti sedang melakukan sesi karaoke besar-besaran.
Meskipun penggunaan video tersebut dimaksudkan sebagai bagian dari narasi perjalanan kariernya, penonton merasa kehilangan esensi dari sebuah konser langsung.
Bagi banyak orang, membayar tiket mahal untuk melihat seorang megabintang sekadar bernyanyi di atas track rekaman tanpa konsep pertunjukan yang jelas adalah sebuah penurunan kualitas yang sulit diterima.
Kontributor : Safitri Yulikhah