Suara.com - Film horor Korea yang sempat mendunia, Gonjiam: Haunted Asylum (2018), kini diadaptasi ke versi Indonesia dengan judul 402 Rumah Sakit Angker Korea.
Proyek ini disutradarai oleh Anggy Umbara dan menghadirkan pendekatan yang lebih segar serta relevan dengan perkembangan dunia digital saat ini.
Mengusung konsep dasar yang sama, film ini tetap berfokus pada sebuah tim kreator konten horor yang nekat melakukan siaran langsung di lokasi angker.
Dalam film ini, dikisahkan bahwa mereka akan menjelajahi Yongwon Hospital, sebuah rumah sakit terbengkalai di Korea Selatan yang dikenal memiliki reputasi menyeramkan.
Naskah film 402 Rumah Sakit Korea ditulis oleh Lele Laila, yang tentunya dikenal piawai meramu cerita horor dengan nuansa lokal.
Meski berlatar di Korea, versi Indonesia ini disebut akan menghadirkan sentuhan berbeda, terutama dalam cara karakter berinteraksi dengan teknologi dan membangun atmosfer ketegangan yang lebih dekat dengan kebiasaan penonton masa kini.
Penasaran dengan alur film ini? Simak sinopsisnya berikut ini!
Sinopsis 402 Rumah Sakit Korea

Film ini terinspirasi dari kisah nyata Rumah Sakit Jiwa Gonjiam di Gwangju, Korea Selatan, yang kerap disebut sebagai salah satu lokasi paling angker di dunia.
Kisah film ini mengikuti empat YouTuber horor yang terobsesi menembus angka 3 juta penonton dalam siaran langsung mereka.
Demi menciptakan konten viral, mereka memutuskan untuk menjelajahi sebuah rumah sakit angker di Korea Selatan, tanpa menyadari bahaya besar yang mengintai.
Ambisi tersebut perlahan berubah menjadi mimpi buruk ketika gangguan aneh mulai bermunculan selama siaran berlangsung.
Teror demi teror hadir tanpa jeda, memunculkan ketegangan yang semakin intens.
Salah satu adegan yang telah mencuri perhatian lewat teaser adalah ketika Bara, karakter yang diperankan oleh Elang El Gibran, nekat memasukkan tangannya ke dalam peti mati, momen yang menandai awal dari teror yang lebih mengerikan.
Berbeda dari horor kebanyakan, film ini memakai konsep found footage. Artinya, seluruh adegan direkam langsung oleh para karakter di cerita. Teknik ini membuat teror terasa dekat, mentah, tak terprediksi dan tentunya: tanpa jeda!