- Charlize Theron melakukan 100 persen aksi panjat tebing sendiri di lokasi nyata Blue Mountains, Australia, meski harus melawan fobia ketinggian.
- Proses syuting yang ekstrem menyebabkan Theron mengalami cedera patah tulang jari kaki dan robek otot demi mendapatkan adegan yang autentik.
- Bukan sekadar film bertahan hidup, kolaborasi Theron dan Taron Egerton mengubah naskahnya menjadi duel kucing-kucingan yang lebih mendalam secara psikis.
Aksi ini dilakukan berkali-kali untuk mendapatkan pengambilan gambar yang sempurna, membuktikan bahwa dedikasi kedua aktor utama ini sangat seimbang dalam menciptakan ketegangan yang organik.
4. Cedera Nyata di Lokasi Syuting
Intensitas fisik yang tinggi dalam film Apex membawa konsekuensi nyata bagi para pemainnya. Selama proses pengambilan gambar adegan pendakian yang menuntut kekuatan fisik luar biasa, Charlize Theron dilaporkan mengalami beberapa cedera serius.
Ia menderita patah tulang jari kaki dan robek pada otot interkostal (otot di antara tulang rusuk). Namun, cidera ini tidak menghentikannya untuk terus menyelesaikan produksi, yang justru menambah kesan "mentah" pada performanya.
5. Keindahan dan Bahaya di Blue Mountains, Australia
Film ini menolak penggunaan background CGI untuk pemandangan pegunungannya. Tim produksi memboyong seluruh kru ke lokasi praktis di New South Wales, Australia, tepatnya di kawasan Blue Mountains.
Kondisi syuting di sana sangat menantang. Para kru dan pemain sering kali harus berenang untuk mencapai lokasi syuting yang terpencil dengan mengenakan baju selam (wetsuits) dan helm pengaman.
Keputusan untuk menggunakan lokasi nyata ini memberikan visual yang luar biasa indah namun sekaligus mengintimidasi, mempertegas atmosfer kesepian dan bahaya yang mengintai Sasha.
6. Pengembangan Karakter "Two-Hander" yang Unik
Awalnya, Apex mungkin dirancang sebagai film survival standar. Namun, berkat keterlibatan aktif Theron dan Egerton dalam pengembangan skrip, film ini berevolusi menjadi drama psikologis yang lebih mendalam.
Taron Egerton dikabarkan membawa ide-ide segar untuk karakter Ben, memberikan sentuhan karakter yang "pixie-like" atau unik namun tetap mengerikan, sehingga penonton tidak hanya melihat sosok pembunuh biasa, melainkan psikopat dengan kepribadian yang kompleks.