Suara.com - Publik Tanah Air, khususnya di wilayah Jabodetabek, tengah digemparkan oleh insiden kecelakaan maut yang terjadi di perlintasan kereta api Bulak Kapal, Bekasi Timur, pada 27 April 2026.
Sebuah armada taksi berwarna hijau toska milik Green SM Indonesia dilaporkan terlibat dalam tabrakan hebat yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo.
Kejadian ini seketika memicu rasa penasaran netizen mengenai siapa sebenarnya sosok di balik perusahaan taksi listrik yang baru saja berekspansi secara agresif di kota-kota besar Indonesia ini.
Dilansir dari website resmi Green SM, Pemilik utama dan pendiri Green SM yang secara resmi terdaftar sebagai PT Xanh SM Green adalah Pham Nhat Vuong.
Dia bukanlah orang sembarangan, Vuong merupakan seorang miliarder asal Vietnam sekaligus pendiri dan pimpinan Vingroup, yang dikenal sebagai konglomerat terbesar di negara asalnya.
Melalui perusahaan Green and Smart Mobility (GSM) yang diluncurkan pada 6 Maret 2023, Vuong memiliki visi besar untuk mempercepat transisi global menuju transportasi ramah lingkungan.
Dalam visinya, GSM menjadi pionir dunia dalam kendaraan listrik multi-platform.
Green SM pertama kali menginjakkan kaki di pasar Indonesia pada Desember 2024 dengan menggunakan nama asli mereka di Vietnam, yaitu "Xanh SM".
Namun, untuk memudahkan penyebutan oleh masyarakat lokal, perusahaan secara resmi mengubah mereknya menjadi Green SM Indonesia pada April 2025.
Layanan ini mengandalkan armada mobil listrik dari VinFast, seperti model VF e34 dan VF 5, yang juga merupakan bagian dari imperium bisnis milik Pham Nhat Vuong.
Taksi ini mengusung kampanye sebagai taksi tanpa aroma bensin dan kebisingan mesin untuk memberikan layanan bintang 5 kepada penggunanya.
Di level manajemen lokal, operasional harian dipimpin oleh Deny Tjia selaku Managing Director Green SM Indonesia.
Tokoh ini berperan penting dalam strategi penetrasi pasar, termasuk dalam mengamankan kerja sama strategis dengan raksasa finansial lokal, PT Bank Central Asia Tbk (BCA), yang memberikan dukungan pendanaan besar senilai Rp600 miliar untuk ekspansi armada.
Selain itu, ekspansi internasional GSM ini juga diawasi langsung oleh Global CEO GSM, Nguyen Van Thanh.
Meskipun unit bisnis ini merupakan "produk impor" dari Vietnam, Green SM berupaya keras beradaptasi dengan pasar lokal melalui berbagai kemitraan, seperti kolaborasi dengan Komotra di Bali untuk peluncuran layanan taksi listrik di Pulau Dewata.