Suara.com - Film Para Perasuk mencatat 118.466 penonton hingga 27 April 2026 sejak resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 23 April 2026.
Capaian tersebut berasal dari periode awal penayangan dan dinilai belum menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan ekspektasi terhadap film dengan jajaran pemain populer.
Disutradarai Wregas Bhanuteja, film ini mengusung perpaduan drama, thriller, serta kritik sosial melalui pendekatan berbeda terhadap fenomena kerasukan.
Alih-alih horor konvensional, Para Perasuk menampilkan tradisi Pesta Sambetan sebagai pengalaman komunal masyarakat desa yang sarat euforia.
Cerita berfokus pada Bayu yang diperankan Angga Yunanda, pemuda Desa Latas yang berjuang mempertahankan tanah kelahirannya dari ancaman penggusuran.
Dia berambisi menjadi Perasuk Utama demi mengumpulkan dana, namun kemudian menyadari makna tradisi tidak sekadar soal ambisi pribadi.
Film ini turut dibintangi Maudy Ayunda, Anggun C. Sasmi, Chicco Kurniawan, Bryan Domani, hingga Indra Birowo dengan latar cerita pedesaan.
Di tengah capaian penonton tersebut, perbincangan warganet justru banyak mengarah pada kritik terhadap pemilihan pemain yang dianggap kurang sesuai.
"Selain poster, trailer, dan cerita yang kurang menarik, pemilihan aktornya juga kayak enggak niat. Muka mereka ini terlalu cakep buat jadi orang kampung pedalaman mistis," kritik warganet.
"Apalagi Maudy Ayunda, branding imej beasiswa LPDP-nya kuat banget. Cari aktor barulah yang ngampung banget gitu," lanjutnya.
Rupanya cukup banyak yang setuju, menilai visual para pemain terlalu modern dan tidak merepresentasikan karakter masyarakat desa dengan nuansa mistis yang diangkat film.
"Setuju. Menurutku juga nggak cocok. Yang paling cocok menurutku cuma Chicco Kurniawan doang. Yang lain, maaf nggak banget, lebih cocok jadi geng anak orang kaya," ujarnya.
"Gue udah nonton filmnya dan gue setuju ini. Imej LPDP-nya terngiang-ngiang dan kurang cocok jadi karyawan peternakan," sahut yang lain.
Penonton yang sudah menyaksikan film mengaku kesulitan melepaskan citra publik para aktor sehingga mengganggu pengalaman menonton.
Ada pula yang menyoroti faktor persaingan film lain yang lebih dominan sehingga memengaruhi laju pertumbuhan jumlah penonton.
Sebagian warganet melihat pendekatan artistik film lebih condong ke festival sehingga tidak sepenuhnya mengikuti selera pasar luas.
"Pernah dengar di podcast, orang bikin film ada dua, mau buat festival atau buat penonton. Kayaknya film ini dibikin lebih buat film festival," tulisnya.
"Dari beberapa podcast-nya Wregas juga jelas, kok, film ini dibuat untuk menggambarkan dirinya ditambah dengan isu kritik sosial," lanjut warganet tersebut.
Dia menilai capaian awal film masih tergolong wajar mengingat segmentasi penonton yang tidak sepenuhnya mainstream.
Sementara itu, Wregas Bhanuteja telah meraih berbagai penghargaan tertinggi di Festival Film Indonesia (FFI) dan ajang apresiasi lainnya.
Dua film sebelumnya, Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti mendapat ulasan positif dari kritikus.
Kekuatan utama Wregas memang terletak pada kemampuannya mengolah keresahan personal dan isu kritis namun tetap terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.
Kontributor : Chusnul Chotimah