- Aktris Vanesha Prescilla akan membintangi film horor psikologis berjudul The Scarecrow Valley yang disutradarai oleh Billy Christian.
- Vanesha berperan sebagai Sandra, seorang ibu muda yang mengalami trauma mendalam akibat kehilangan anak tercintanya dalam cerita.
- Proses syuting film dilakukan di Jepang sebagai bagian dari proyek tetralogi horor kolaborasi Memento Works dan Studio Emu.
Suara.com - Image manis sebagai "Milea" nampaknya akan segera bergeser. Aktris Vanesha Prescilla membawa kabar mengejutkan bagi para penggemarnya.
Setelah bertahun-tahun identik dengan peran di film drama romantis, Vanesha akhirnya memutuskan untuk menjajal keberaniannya di genre horor untuk pertama kalinya.
Bukan sembarang horor, Vanesha akan membintangi film bertajuk The Scarecrow Valley.
Film yang disutradarai oleh Billy Christian ini mengusung sub-genre horor psikologis yang menjanjikan atmosfer mencekam dan emosi yang mendalam.
Tantangan Peran Ibu Muda yang Traumatis
Dalam film produksi kolaborasi Memento Works dan Studio Emu ini, Vanesha didapuk memerankan karakter Sandra.
Peran ini disebut-sebut sebagai salah satu karakter paling berat yang pernah ia mainkan.
Sandra digambarkan sebagai seorang ibu muda yang mengalami trauma hebat akibat kehilangan buah hati tercintanya.
"Ini tantangan besar buat aku. Aku berusaha terus belajar mengenal dan mendalami karakter Sandra. Apalagi aku belum pernah mengalami (menjadi ibu) secara langsung," kata Vanesha saat ditemui di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Adik dari Sissy Pricillia ini mengaku bahwa keterlibatannya dalam film ini berawal dari kegemarannya menonton tayangan serupa.
"Sebelum tawaran ini datang, aku memang lagi senang nonton film atau series bergenre psychological horror. Jadi pas ditawari, aku merasa sangat tertantang," ujarnya.
Syuting di Lokasi Autentik Jepang
The Scarecrow Valley tidak hanya menjual ketakutan lewat cerita, tapi juga visual yang memukau.
Proses syuting akan dilakukan sepenuhnya di Jepang, dengan mengangkat latar tempat dan mitos lokal tentang desa boneka yang legendaris.
Meski berlatar budaya Jepang, Vanesha yakin emosi dalam film ini akan tetap sampai ke hati penonton Indonesia.