- Film Knives Out karya sutradara Rian Johnson akan tayang di Trans TV pada Rabu, 3 Juni 2026 pukul 20.00 WIB.
- Detektif Benoit Blanc menyelidiki kematian misterius penulis novel Harlan Thrombey di tengah intrik keluarga kaya yang penuh kebohongan.
- Karya ini menampilkan performa aktor papan atas serta menyisipkan kritik sosial mengenai isu kelas dan hak istimewa di Amerika.
Suara.com - Sudah lama rasanya kita tidak merasakan sensasi duduk di tepi kursi bioskop, mencoba menebak siapa pembunuh di antara sekumpulan orang kaya yang licik, hingga akhirnya menyadari bahwa kita semua sedang "dikerjai" oleh sang sutradara.
Rian Johnson, melalui filmnya Knives Out (2019), berhasil menghidupkan kembali genre whodunnit yang sempat mati suri dengan cara yang sangat elegan, cerdas, dan tentu saja, penuh belati.
Knives Out akan tayang pada Rabu (3/6/2026) malam ini pukul 20.00 WIB di Trans TV. Berikut kami sajikan resensinya.
Cerita bermula di sebuah rumah mewah bergaya Gotik milik Harlan Thrombey (Christopher Plummer), seorang penulis novel misteri sukses yang ditemukan tewas dengan leher tergorok tepat setelah ulang tahunnya yang ke-85.
Polisi menyimpulkan ini adalah bunuh diri, namun sebuah undangan misterius membawa detektif swasta ternama, Benoit Blanc (Daniel Craig), ke kediaman tersebut.
Blanc segera menyadari bahwa di balik duka cita keluarga Thrombey, tersembunyi tumpukan kebohongan.
Mulai dari Linda (Jamie Lee Curtis) yang keras kepala, hingga Ransom (Chris Evans) si cucu nakal yang dimanja.
Di tengah pusaran kecurigaan ini, ada Marta Cabrera (Ana de Armas), perawat setia Harlan yang memiliki kondisi unik: ia akan muntah jika berbohong.
Marta menjadi kunci sekaligus target dalam permainan kucing dan tikus yang dirancang dengan sangat rapi oleh Johnson.
Kekuatan utama Knives Out terletak pada jajaran pemainnya yang luar biasa.
Daniel Craig melepaskan jubah James Bond-nya dan bertransformasi total menjadi Benoit Blanc dengan aksen Amerika Selatan yang kental dan gaya deduksi yang eksentrik.

Ia menyebut misteri ini sebagai "lubang donat di dalam lubang donat", sebuah metafora yang aneh namun entah bagaimana terasa sangat masuk akal.
Namun, kejutan terbesarnya adalah Ana de Armas. Sebagai Marta, ia memberikan hati dan moralitas di tengah keluarga yang rakus.
Penampilannya yang rapuh namun tangguh membuat penonton berpihak padanya sejak awal.
Jangan lupakan Chris Evans. Keluar dari bayang-bayang Captain America, Evans tampil memukau sebagai Ransom yang arogan dan bermulut tajam.
Melihatnya menyuruh seluruh keluarganya untuk "makan kotoran" adalah salah satu momen paling memuaskan dalam film ini.
Sementara itu, Jamie Lee Curtis memberikan performa yang solid sebagai pilar keluarga yang dingin dan penuh perhitungan.
Apa yang membuat Knives Out berbeda dari adaptasi Agatha Christie pada umumnya adalah keberaniannya menyisipkan kritik sosial.
Film ini dengan cerdas menyentil isu kelas, imigrasi, dan hak istimewa (privilege) keluarga kaya di Amerika.
Keluarga Thrombey mengaku menyayangi Marta "seperti keluarga sendiri," namun tak satu pun dari mereka tahu dari negara mana asal Marta sebenarnya.
Secara teknis, film ini adalah sebuah simfoni. Sinematografinya menangkap suasana musim gugur yang hangat namun mencekam, sementara naskah yang ditulis Johnson sangatlah presisi.
Setiap detail kecil yang muncul di awal film memiliki arti di akhir cerita. Tidak ada dialog yang terbuang percuma.