Suara.com - Perjalanan menuju Annapurna Base Camp (ABC) di Nepal menyuguhkan panorama alam yang beragam, mulai dari perbukitan hijau, hutan rhododendron, hingga lembah dan sungai pegunungan yang membentang di sepanjang jalur pendakian. Lanskap tersebut menjadi daya tarik utama bagi para pendaki dari berbagai negara yang ingin menikmati keindahan Pegunungan Himalaya dari dekat.
Memasuki ketinggian yang lebih tinggi, jalur pendakian menghadirkan pemandangan tebing-tebing curam hingga deretan puncak bersalju yang menjulang di kejauhan. Perubahan kontur dan ekosistem sepanjang perjalanan memberikan pengalaman visual yang berbeda pada setiap etape pendakian, sekaligus memperlihatkan kekayaan bentang alam kawasan Annapurna.
Selama perjalanan, pendaki melewati sejumlah desa pegunungan seperti Chhomrong, Himalaya, dan Machapuchare Base Camp yang menjadi titik persinggahan. Penginapan sederhana atau tea house di sepanjang jalur menyediakan tempat beristirahat sekaligus menikmati budaya lokal Nepal.
Kawasan Annapurna Conservation Area yang dilalui para pendaki juga dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Jalur trekking ini menjadi salah satu yang paling diminati di Nepal karena memadukan tantangan pendakian, panorama alam, dan kehidupan masyarakat pegunungan Himalaya.
Pendakian yang berlangsung pada 25–29 Mei 2026 itu berakhir di Annapurna Base Camp yang berada pada ketinggian sekitar 4.130 meter di atas permukaan laut. Dikelilingi puncak-puncak Himalaya yang menjulang, kawasan ini menjadi salah satu destinasi trekking paling populer di dunia sekaligus simbol pencapaian bagi para pendaki yang berhasil mencapai titik akhir perjalanan. [Suara.com/Rizka Chaerani]