Balita Kurang Tidur Cenderung Makan Lebih Banyak

Ririn Indriani Suara.Com
Jum'at, 28 Maret 2014 | 15:57 WIB
Balita Kurang Tidur Cenderung Makan Lebih Banyak
Ilustrasi. (sumber: Shutterstock)

Suara.com - Sebuah studi terkini menunjukkan bahwa balita yang kurang tidur cenderung makan lebih banyak dan berada pada peningkatan risiko obesitas.

Penelitian ini melibatkan anak-anak di lebih dari 1.300 keluarga Inggris. Kualitas tidur mereka diukur oleh para peneliti ketika berusia 16 bulan. Selain itu para peneliti juga memeriksa pola makan peserta ketika berusia 21 bulan.

Hasil studi menunjukkan balita yang tidur kurang dari 10 jam sehari mengonsumsi sekitar 10 persen lebih banyak kalori daripada mereka yang tidur lebih dari 13 jam.

Peneliti dari University College London mengatakan, studi yang dilaporkan dalam International Journal of Obesity tersebut merupakan studi pertama yang menghubungkan jumlah tidur untuk konsumsi kalori pada balita di bawah usia 3 tahun.

Para peneliti menjelaskan bahwa tidur yang lebih pendek pada balita ternyata dapat mengganggu regulasi hormon nafsu makan.

"Kita tahu bahwa tidur lebih pendek pada awal kehidupan meningkatkan risiko obesitas. Jadi, kami ingin memahami mengapa anak-anak yang kurang tidur mengonsumsi lebih banyak kalori," kata Dr Abi Fisher dari health Behavior Research Centre dalam sebuah rilis berita universitas seperti dilansir dari MSN.

Penelitian sebelumnya pada orang dewasa dan anak-anak yang berusia 3 tahun ke atas juga menunjukkan bahwa kurang tidur menyebabkan orang untuk makan lebih banyak.

Namun untuk balita, orangtua membuat sebagian besar keputusan soal kapan dan berapa banyak si kecil makan. "Jadi, mereka tidak dapat diasumsikan untuk menunjukkan pola yang sama," imbuh Fisher.

Meskipun studi ini menemukan hubungan antara kurang tidur pada balita dan makan lebih banyak, hal tersebut tidak membuktikan hubungan sebab -akibat.

Jadi, pesan utama dari studi ini adalah bahwa balita yang kurang tidur mungkin (akan) rentan makan terlalu banyak kalori. Karenanya para orangtua harus memerhatikan soal pola makan si kecil agar risiko kegemukan pada balita tidak terjadi.

Untuk memahami mengapa kemungkinan risiko ini bisa terjadi, Fisher mengatakan, penelitian lebih lanjut masih diperlukan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI