Stres Tingkatkan Risiko Stroke dan Serangan Jantung

Ririn Indriani Suara.Com
Selasa, 06 Mei 2014 | 12:34 WIB
Stres Tingkatkan Risiko Stroke dan Serangan Jantung
Ilustrasi. (Sumber: Shutterstock)

Suara.com - Para peneliti mengungkapkan bahwa kemarahan, kecemasan dan depresi tidak hanya mempengaruhi fungsi jantung, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit jantung.

Stroke dan serangan jantung adalah produk akhir dari kerusakan progresif pada pembuluh darah yang menyuplai jantung dan otak. Proses kerusakan ini disebut aterosklerosis.

Aterosklerosis adalah sebuah gangguan umum di mana terjadi pengerasan arteri. Ini disebabkan oleh pembentukan endapan lemak, kolesterol dan substansi lain, yang bersama-sama dikenal sebagai plak di dinding arteri selama bertahun-tahun.

Aterosklerosis berlangsung ketika ada tingkat tinggi bahan kimia dalam tubuh yang disebut sitokin pro-inflamasi.

Seperti dilansir dari Zeenews, diperkirakan bahwa stres berkepanjangan meningkatkan risiko aterosklerosis, dan penyakit kardiovaskular dengan membangkitkan emosi negatif yang pada gilirannya meningkatkan tingkat bahan kimia pro-inflamasi dalam tubuh.

Para peneliti telah menyelidiki sirkuit saraf yang mendasari proses ini dan melaporkan temuannya dalam edisi terbaru of Biological Psychiatry.

Untuk melakukan studi ini, Dr Peter Gianaros, Associate Professor di University of Pittsburgh dan penulis pertama studi, serta rekan-rekannya merekrut 157 relawan dewasa sehat yang diminta untuk mengatur reaksi emosionalnya pada gambar yang tidak menyenangkan. Sementara aktivitas otak mereka diukur dengan pencitraan fungsional.

Para peneliti juga memindai arteri peserta untuk melihat tanda-tanda aterosklerosis sehingga dapat mengetahui risiko penyakit jantung dan mengukur tingkat peradangan dalam aliran darah, faktor risiko fisiologis utama untuk aterosklerosis dan kematian dini akibat penyakit jantung.

Mereka menemukan bahwa individu yang menunjukkan aktivasi otak yang lebih besar ketika mengatur emosi negatifnya juga menunjukkan peningkatan kadar darah interleukin-6, salah satu sitokin pro-inflamasi tubuh, dan peningkatan ketebalan dinding arteri karotid, penanda aterosklerosis.

Tingkat peradangan menyumbang hubungan antara tanda-tanda aterosklerosis dan pola aktivitas otak yang terlihat selama regulasi emosi.

Yang penting, temuan itu signifikan bahkan setelah mengontrol sejumlah faktor yang berbeda, seperti usia, jenis kelamin, merokok, dan faktor risiko penyakit jantung konvensional lainnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI