5 Alasan Tak Lagi Gunakan Deodoran

Ririn Indriani, Firsta Nodia

Jum'at, 26 Desember 2014 | 12:30 WIB
5 Alasan Tak Lagi Gunakan Deodoran
Ilustrasi. (Shutterstock)

Suara.com - Deodoran memang menjadi senjata bagi lelaki maupun perempuan yang memiliki masalah pada bau badan. Kini deodoran tak hanya berupa stick atau bahkan roll on, deodoran jenis spray dan krim pun banyak kita temui di pasaran.

Wangi yang ditawarkan pun beraneka ragam, menyesuaikan dengan karakter si calon pembelinya meski hanya beberapa jam. Deodoran diketahui mengandung bahan kimia yang diperlukan untuk membunuh bakteri.

Namun penggunaan jangka panjang dari bahan kimia tentunya akan menimbulkan masalah kesehatan. Tak banyak yang tahu, deodoran bisa memicu timbulnya alergi hingga kanker payudara.

1. Alergi kulit
Sebagian besar deodoran mengangung etanol. Seperti alkohol lainnya, etanol bisa membuat kulit menjadi kering. Kekeringan kulit bisa menyebabkan gatal dan ruam di bagian ketiak.Tak hanya itu, deodoran juga diketahui mengandung pestisida yang disebut triclosan. Tentu pemakaian deodoran dalam jangka waktu yang lama bisa berakibat buruk bagi kesehatan kulit Anda.

2. Meninggalkan noda dan residu
Deodoran terutama jenis stik, roll on, dan krim biasanya meninggalkan noda kuning pada pakaian. Bagi orang yang memiliki banyak koleksi pakaian putih, nampaknya harus mempertimbangkan ulang saat menggunakan deodoran.

3. Pemicu Alzheimer
Percaya atau tidak, pemakaian deodorant daam jangka waktu yang lama bisa memicu penyakit Alzheimer. Kandungan alumunium pada deodoran menurut sebuah penelitian dapat menyebabkan gangguan pada fungsi otak manusia.

4. Menyebabkan janin cacat saat lahir
Deodoran juga mengandung paraben dan phthalates yang memicu janin yang dikandung bumil mengalami kecacatan saat lahir. Paraben seperti diketahui sering digunakan sebagai pengawet. Sedangkan phthalates menimbulkan berbagai aroma menyegarkan.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa paraben bisa memicu pubertas dini pada anak-anak, dan cacat lahir pada janin yang dikandung ibu hamil. Begitu juga dengan phthalates yang memicu terjadinya mutasi sel. Jadi, bagi Anda yang sedang hamil sebaiknya hindari penggunaan deodoran jenis apapun.

5. Menyebabkan kanker payudara
Deodoran sebagian besar dioleskan atau disemprotkan di bagian ketiak yang dekat dengan jaringan payudara. Senyawa estrogenik yang dikandung deodoran memicu peningkatan hormon estrogen yang berperan memicu pertumbuhan jaringan payudara. Jika jaringan payudara ini tumbuh terlalu cepat, maka bisa membuka jalan munculnya sel kanker. (Boldsky)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Studi: Deodoran Justru Memperburuk Bau Badan

Studi: Deodoran Justru Memperburuk Bau Badan

Health | Jum'at, 22 Agustus 2014 | 13:15 WIB

Cameron Diaz Tidak Pernah Gunakan Deodoran Selama 20 Tahun

Cameron Diaz Tidak Pernah Gunakan Deodoran Selama 20 Tahun

Entertainment | Jum'at, 25 April 2014 | 10:27 WIB

5 Produk Herbal untuk Melawan Bau Badan

5 Produk Herbal untuk Melawan Bau Badan

Health | Kamis, 24 April 2014 | 18:05 WIB

Terkini

Benjolan Hilang-Timbul pada Anak Jangan Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Hernia

Benjolan Hilang-Timbul pada Anak Jangan Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Hernia

Health | Minggu, 12 Juli 2026 | 19:41 WIB

Waspada! Anak Jarang Main di Luar Rumah Berisiko Premiopia hingga Mata Minus Sebelum 8 Tahun

Waspada! Anak Jarang Main di Luar Rumah Berisiko Premiopia hingga Mata Minus Sebelum 8 Tahun

Health | Minggu, 12 Juli 2026 | 16:50 WIB

Rahasia Anak Percaya Diri, Beri Ruang untuk Bereksplorasi dan Menunjukkan Bakat

Rahasia Anak Percaya Diri, Beri Ruang untuk Bereksplorasi dan Menunjukkan Bakat

Health | Minggu, 12 Juli 2026 | 13:21 WIB

Tekanan Kerja Meningkat, Perhatian terhadap Kesehatan Mental Karyawan Dinilai Makin Mendesak

Tekanan Kerja Meningkat, Perhatian terhadap Kesehatan Mental Karyawan Dinilai Makin Mendesak

Health | Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:14 WIB

Mengenal Shin Splints, Momok bagi Pelari dan Cara Mengatasinya

Mengenal Shin Splints, Momok bagi Pelari dan Cara Mengatasinya

Health | Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:01 WIB

Gelombang Panas Lebih Mematikan bagi Lansia, Apakah Sistem Perlindungan Sudah Memadai?

Gelombang Panas Lebih Mematikan bagi Lansia, Apakah Sistem Perlindungan Sudah Memadai?

Health | Jum'at, 10 Juli 2026 | 15:09 WIB

Stimulasi yang Tepat Jadi Kunci Mengembangkan Kecerdasan Multitalenta Anak Sejak Usia Dini

Stimulasi yang Tepat Jadi Kunci Mengembangkan Kecerdasan Multitalenta Anak Sejak Usia Dini

Health | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:15 WIB

Jangan Cuma Mengejar Garis Finish, Atlet dan Pelari Perlu Lebih Peduli Kesehatan Sendi dan Tulang

Jangan Cuma Mengejar Garis Finish, Atlet dan Pelari Perlu Lebih Peduli Kesehatan Sendi dan Tulang

Health | Rabu, 08 Juli 2026 | 14:11 WIB

4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima

4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima

Health | Rabu, 08 Juli 2026 | 10:57 WIB

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Health | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:03 WIB

×