Array

LBM Eijkman: DBD Lebih Berbahaya Dibanding Virus Zika

Esti Utami Suara.Com
Jum'at, 12 Februari 2016 | 08:41 WIB
LBM Eijkman: DBD Lebih Berbahaya Dibanding Virus Zika
Ilustrasi virus Zika [shutterstock]

Suara.com - Peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Tedjo Sasmono mengingatkan agar kekhawatiran warga menghadapi virus Zika tak mengalahkan kewaspadaan mereka mencegah demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya DBD lebih berbahaya dibanding virus Zika.

"Secara inti dibandingkan dengan virus demam berdarah justru lebih berbahaya demam berdarah, karena demam berdarah mengakibatkan kematian," jelasnya saat mewakili LBM Eijkman memberikan infomasi kepada sejumlah mahasiswa kesehatan dan akademisi di Kota Jambi terkait penemuan virus Zika di daerah itu.

Tejdo mangatakan pihaknya telah melakukan riset di Jambi, karena saat itu wabah demam dengue di Jambi tergolong besar. Hasil penelitian tersebut kami laporkan kepada Kementerian Riset.

Penelitian Eijkman di Jambi dengan memeriksa 103 sampel darah pasien yang diduga kena dengue pada Desember 2014 hingga September 2015. Dalam penelitian itu mengidentifikasi seorang pria berusia 27 tahun di Jambi terjangkit virus Zika yang setelah itu dipublikasikan pada jurnal Internasional.

Dia menjelaskan, pria Jambi yang terjangkit virus Zika tersebut berdasarkan riwayat perjalanan pasien tidak pernah ke luar negeri atau daerah lain.

"Saat itu gejalanya nyeri dan demam tinggi, tapi setelah dua hari dilakukan perawatan semua gejala itu hilang," katanya menjelaskan.

Dalam temu ilmiah itu, pihaknya juga memberikan informasi yang lebih mendalam soal virus Zika dan cara penularan serta penanganan sama seperti virus demam berdarah dengue yaitu ditularkan melalui gigitan nyamuk.

Ia juga mengimbau masyarakat tidak perlu panik, karena virus Zika ini juga sudah pernah ditemukan pada tahun 1977 di Jawa Timur, katanya usai temu ilmiah kesehatan di Kampus Stikes HI Jambi itu.

Ia mengakui adanya kekhawatirean masyarakat terkait dampak dari virus Zika yang mengakibatkan pada janin yaitu penyusutan otak bayi, sehingga bayi yang dilahirkan memiliki kepala kecil atau 'mikrosefaliam' yang saat ini tengah menjangkit di Brasil.

"Intinya tidak perlu terlalu khawatir, kalau di Indonesia sampai saat ini belum ditemukan hubungan langsung dengan 'mikrosefalia' dan belum ada pembuktian ilmiah," katanya.

Pencegahan virus Zika tersebut katanya sama persis dengan kasus demam berdarah yaitu melalui pola hidup sehat dengan 3M yakni menguras,menutup dan menimbun setiap tempat air dan sampah.

"Kebersihan lingkungan sekitar yang paling diutamakan," tegasnya. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI