- Komunitas Konsumen Indonesia menerima 250 pengaduan terkait peredaran galon guna ulang tidak layak pakai berusia sebelas tahun.
- Penggunaan galon polikarbonat yang terlalu lama berisiko melepaskan zat berbahaya BPA yang mengancam kesehatan jutaan penduduk Indonesia.
- KKI mendesak pemerintah segera menerbitkan regulasi batas masa pakai galon guna ulang demi menjamin keamanan konsumen nasional.
Suara.com - Kesadaran masyarakat terhadap keamanan kemasan air minum kini semakin meningkat. Bukan hanya soal kualitas air, konsumen mulai memperhatikan kondisi fisik galon guna ulang yang mereka gunakan sehari-hari.
Temuan terbaru dari Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) menunjukkan bahwa persoalan galon guna ulang lanjut usia atau yang disebut “Ganula” masih menjadi keluhan besar di tengah masyarakat.
Dalam konferensi pers bertajuk “Pemaparan Tiga Tahun Pemantauan KKI terhadap Risiko Galon Guna Ulang Lanjut Usia (Ganula)” yang digelar di Habitate, Kamis (30/4/2026), Ketua KKI, David Tobing mengungkapkan bahwa sebanyak 92% konsumen mengeluhkan masih beredarnya galon guna ulang tua di pasaran.
“Dalam rangka memperingati Hari Konsumen Nasional pada 20 April, KKI merilis hasil pengaduan masyarakat yang kami tampung dari bulan Maret sampai bulan April tahun ini,” ujar David.
Ia menjelaskan, terdapat 250 pengaduan konsumen yang berasal dari tujuh kota besar, yakni DKI Jakarta, Surabaya, Kediri, Tangerang, Bogor, Bekasi, dan Depok.
Galon Berusia 11 Tahun Masih Beredar
Dari laporan yang diterima, KKI menemukan adanya galon guna ulang yang diproduksi sejak 2015 atau telah berusia 11 tahun. Kondisi fisik galon juga menjadi sorotan karena banyak konsumen menemukan galon dalam keadaan kusam, kotor, berlumut, hingga retak.
“Ganula paling tua yang dilaporkan konsumen diproduksi pada 2015 atau berusia 11 tahun. Intinya, semakin tua usia galon, semakin beragam jenis keluhannya,” ujar David.
Menurut KKI, salah satu penyebab utama masih beredarnya galon tua adalah minimnya transparansi informasi dari produsen. Kode produksi galon umumnya dicetak di bagian dasar kemasan sehingga sulit dilihat konsumen.
“Sebanyak 92% konsumen mengaku belum pernah mendapatkan informasi tentang masa pakai galon guna ulang,” kata David.
Padahal, setelah mendapatkan edukasi dari KKI, sebanyak 83% konsumen merasa berhak memperoleh galon yang layak dan berkualitas, sementara 78% meminta penggantian galon sebagai solusi atas keluhan mereka.
Risiko BPA Jadi Kekhawatiran
KKI juga menyoroti potensi risiko kesehatan dari penggunaan galon polikarbonat yang terlalu lama digunakan. Berdasarkan rekomendasi pakar polimer dari Universitas Indonesia, masa pakai galon guna ulang idealnya hanya satu tahun atau sekitar 40 kali siklus penggunaan ulang.
Lebih dari itu, galon berbahan polikarbonat dinilai berisiko melepaskan zat kimia Bisphenol A (BPA) ke dalam air minum.
“Lebih dari itu, galon guna ulang berbahan plastik polikarbonat berisiko tinggi melepaskan zat kimia berbahaya BPA ke dalam air minum,” jelas David.