Array

Susu Soya Bisa Jadi Alternatif Anak yang Alergi Susu Sapi

Rabu, 05 April 2017 | 23:53 WIB
Susu Soya Bisa Jadi Alternatif Anak yang Alergi Susu Sapi

Suara.com - Air susu ibu (ASI) merupakan asupan utama bagi bayi hingga usia enam bulan pertama. Namun pada kasus tertentu, ada sebagian ibu yang tak bisa memberikan ASI bagi buah hatinya.

Hingga pilihan jatuh pada susu formula sapi. Namun ternyata sekitar 2-7.5 persen anak di seluruh dunia memiliki alergi terhadap protein susu sapi. Padahal anak membutuhkan nutrisi yang sesuai dengan kemampuan sistem pencernaannya untuk tumbuh dan berkembang.

Disampaikan Konsultan Alergi  Imunologi Anak, Prof. DR. dr. Budi Setiawan, Sp.A (K), M.Kes., dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, ada dua zat yang menyebabkan anak alergi terhadap susu sapi yakni casein dan whey.

Namun bukan berarti anak yang didiagnosis alergi protein susu sapi tidak bisa mengonsumsi susu. Ia mengatakan susu soya yang telah diformulasi bisa menjadi pengobatan bagi anak yang mengalami kondisi yang juga disebut intoleransi lakstosa.

"Bayi yang tidak mendapat ASI karena indikasi medis, sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia bisa diberikan susu formula ekstensif hidrolisa, susu formula asam amino, atau susu formula soya, sebagai alternatifnya," ujar Prof Budi pada temu media 'Bunda Tanggap Alergi dengan 3K' di Jakarta, Rabu (5/4/2017).

Ia menambahkan orangtua tak perlu khawatir dengan anggapan bahwa soya dapat memicu disorientasi seksual anak, terutama jika diberikan pada bayi laki-laki. Menurutnya susu formula soya telah diformulasi sedemikian rupa sehingga tak merangsang perubahan hormon pada tubuh anak.

"Soya kan dianggap bisa bikin anak jadi lebay, terutama yang laki-laki. Tapi sudah terbukti tidak kok, karena susu formula soya bukan yang murni. Sudah disuplementasi sehingga orangtua tak perlu khawatir akan terjadi gangguan tumbuh kembang," tambah dia.

Namun Ia menegaskan, pemberian susu soya bukan sebagai upaya pencegahan alergi namun sebagai pengobatan. Ia pun mengimbau orangtua untuk mengenali risiko alergi pada anak sehingga dapat segera ditangani dan tumbuh kembangnya tetap optimal.

"Gejalanya dapat bersifat ringan seperti kemerahan, gatal, eksim pada kulit, atau gejala berat seperti mengi pada saluran napas, kolik, diare berdarah atau konstipasi. Gejala yang paling berbahaya adalah gagal tumbyh dan anaphylaxis atau penyempitan saluran napas," pungkas dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI